Bacaan: Keluaran 19 : 7 – 20 | Pujian: KJ. 19
Nats: “Lalu TUHAN turun ke atas Gunung Sinai, ke puncak gunung itu. Kemudian TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan Musa naik ke atas.” (Ayat 20)
Pernahkah saudara diundang ke sebuah acara penting? Biasanya kita akan mempersiapkan diri sebaik mungkin—memilih pakaian yang pantas, menjaga sikap, dan datang dengan penuh hormat. Kita sadar bahwa undangan itu bukan sembarangan, sehingga kita tidak bisa datang dengan sikap yang biasa saja. Ada kesadaran bahwa kita sedang memasuki peristiwa yang istimewa dan berbeda dari hari-hari biasa.
Bacaan Firman Tuhan hari ini menceritakan kepada kita bagaimana Tuhan Allah memanggil bangsa Israel menghadap pada-Nya. Karena itu, mereka harus mempersiapkan diri mereka sebelum berjumpa dengan Tuhan Allah di Gunung Sinai. Musa menyampaikan firman Tuhan kepada umat Israel, dan mereka diminta untuk menguduskan diri mereka serta menghormati batas yang telah ditetapkan oleh Tuhan Allah. Kehadiran Tuhan Allah dinyatakan dengan dahsyat: guntur, kilat, awan tebal, dan bunyi sangkakala yang keras. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Allah adalah kudus dan tidak bisa diperlakukan secara sembarangan.
Firman ini mengajak kita untuk menata ulang kehidupan kita saat ini, “Apakah kita sudah hidup dengan sikap hormat kepada Tuhan? Ataukah kita masih menjalani hidup dengan sembarangan, seolah-olah kehadiran Tuhan tidak berarti?” Dalam kehidupan sehari-hari, hidup kudus dapat kita wujudkan melalui tindakan sederhana, seperti menjaga perkataan, berlaku jujur, menghargai sesama, dan hidup dalam kasih. Dalam konteks bulan ekumene saat ini, kita diingatkan, sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk hidup dalam kekudusan dan ketaatan serta menghormati Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, bukan hanya secara pribadi tetapi juga sebagai persekutuan. Kita juga diajak untuk membangun persatuan di antara umat, saling menghormati antara satu dengan yang lain, dan saling menghargai perbedaan yang ada. Marilah saat ini, kita bangkit dan menata ulang hidup kita, dengan kesadaran bahwa kita adalah umat yang dipanggil untuk hidup kudus dan benar di hadapan Tuhan Allah. Amin. [YNW].
“Kesadaran akan kekudusan Tuhan Allah akan menolong kita hidup dengan sikap hormat dan ketaatan setiap hari.”