Bacaan: Markus 2 : 18 – 22 | Pujian: KJ. 40
Nats: “Namun, anggur yang baru hendaknya dituang ke dalam kantong yang baru pula.” (Ayat 22b)
Perubahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Di era yang serba cepat ini, banyak orang yang ingin berubah secara instan. Mereka ingin hasil segera tanpa memahami proses yang membentuknya. Padahal, perubahan sejati bukanlah tentang seberapa cepat kita berubah tetapi tentang kemana langkah kita diarahkan. Bergerak cepat tanpa arah sering kali melahirkan kekecewaan, sebab apa yang dihasilkan terlalu cepat, biasanya rapuh. Sebaliknya berubah secara perlahan bukan berarti stagnan, melainkan memberikan ruang bagi kesadaran. Perubahan yang muncul dari kesabaran dan refleksi, akan berakar kuat dan menumbuhkan kedewasaan. Dari situlah makna sejati dari perubahan. Namun, di tengah semua perubahan itu, sering kali kita lupa bahwa yang paling penting bukan hanya perubahan secara lahiriah namun juga perubahan hati kita di hadapan Tuhan.
Bacaan Injil hari ini sangat relevan untuk kita jadikan prinsip bijak dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Yesus dengan bijaksana memberikan perumpamaan tentang kain baru pada pakaian lama dan anggur baru dalam kantong kulit tua. Pada zaman Yesus, anggur disimpan dalam kantong anggur, bukan botol. Dengan demikian, anggur baru tidak pernah dimasukkan ke dalam kantung anggur lama. Selama proses fermentasi, anggur selalu dituangkan ke dalam kantong anggur baru. Alasannya karena selama fermentasi, gas yang dihasilkan menciptakan tekanan. Kantong anggur baru cukup elastis untuk menahan tekanan, tetapi kantong anggur lama dapat pecah karena tidak dapat menahan proses fermentasi. Dalam perumpamaan itu, Yesus juga merujuk pada hal menambal pakaian. Biasanya, tidak diperbolehkan menambal kain baru untuk memperbaiki pakaian lama. Jika kain baru digunakan untuk menambal pakaian lama dan tambalan tersebut basah, kain itu bisa menyusut dan memberi tekanan pada pakaian lama. Akibatnya, robekan bisa menjadi lebih parah. Yang lama harus diperbarui.
Mari kita selalu terbuka terhadap perubahan hidup. Bersikaplah “open minded” dan teruslah bertumbuh dan berkembang. Doronglah hati dan budi kita untuk terus belajar hal-hal baru dan berani berubah. Berani berbeda dan selalu bersyukur atas hal-hal baru yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita. Amin. [RA].
“Hidup baru dalam Kristus bukan perubahan sekali waktu tetapi proses pembaruan setiap hari oleh Roh Kudus.”