Pemahaman Alkitab (Pa) Juli 2026 (I)
Bulan Keluarga
Bacaan: Amsal 11 : 23 – 30
Tema Liturgi: Bangunlah Mezbah Keluarga!
Tema PA: Membangun Nilai-nilai Kehidupan dalam Keluarga
Pengantar:
Sekitar tahun 1996 ada satu sinetron yang ditayangkankan di televisi dan sangat diminati oleh semua kalangan usia, sinetron itu berjudul Keluarga Cemara. Sinetron tersebut menceritakan tentang sebuah keluarga yang kaya namun kemudian berubah menjadi miskin dan hidup serba terbatas. Abah bekerja sebagai tukang becak, dan emak sebagai penjual opak. Sekalipun masalah kehidupan datang silih berganti, namun emak, abah, dan ketiga anaknya dapat hidup rukun, saling mengerti, dan saling membantu. Ada nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan kesehatian sebagai keluarga yang terus mereka hidupi. Sinetron ini terus diingat bukan hanya karena menampilkan tentang alur cerita kehidupan sehari-hari tetapi juga karena lagu pengiring atau soundtrack sinetron tersebut juga melekat di hati. Lagu yang berjudul “Harta Berharga” semakin menjelaskan bahwa keberadaan dan keutuhan sebuah keluarga nilainya jauh lebih berharga daripada harta, istana, puisi, dan mutiara yang indah di dunia ini.
Ketika mengingat sinetron “Keluarga Cemara” dan lagu “Harta Berharga” mengingatkan kita untuk kembali memahami makna keluarga, melalui sinetron dan lagu tersebut juga mengajak kita untuk kembali merefleksikan bagaimana cara kita membangun dan menghidupi keluarga yang bahagia. Adakah nilai-nilai bijak dalam Amsal 11:23-30 ini membantu kita membangun kehidupan keluarga yang bahagia? Mari kita pelajari bersama.
Penjelasan Teks:
Kitab Amsal merupakan kumpulan kata-kata bijak yang diyakini merupakan karya Salomo, raja Israel ketiga yang bijaksana. Kitab Amsal lebih banyak memberikan gambaran pengajaran praktis untuk dilakukan dalam lingkup keluarga dan dalam komunitas yang lebih luas. Kitab Amsal juga memberikan pengajaran bahwa setiap tindakan yang dilakukan akan membawa dampak atau konsekuensi berdasarkan apa yang telah dilakukan. Oleh karena itu, di sepanjang kitab Amsal akan banyak dijumpai perbandingan antara orang berhikmat dan orang bodoh. Orang berhikmat – terkadang dituliskan dengan istilah orang benar atau orang bijak – akan melakukan hal-hal yang baik dan akan menghasilkan berkat dan kebahagiaan. Namun sebaliknya, orang-orang bodoh atau orang fasik akan melakukan tindakan yang mengakibatkan malapetaka, kemalangan, bahkan kutuk.
Ayat 23, kata ‘orang benar’ memiliki arti orang berhikmat yang melakukan hal-hal bijak dan benar sehingga keinginan orang benar akan menghasilkan kebahagiaan, sebaliknya keinginan orang fasik hanya akan menimbulkan masalah.
Ayat 24-25, kata ‘memberi berkat’ memiliki arti orang yang suka memberi kepada orang lain, ia akan menerima ganjaran. Itu karena pemberi yang murah hati akan diingat oleh mereka yang pernah ditolongnya. Namun orang yang tamak, ia tidak mempunyai sahabat dan dikutuk oleh orang miskin. Ayat ini mengajarkan kepada para pembaca untuk tidak kikir atas harta yang mereka miliki. Karena kesediaan untuk berbagi berkat tidak akan membuat seseorang menjadi miskin. Justru sebaliknya, ketika seseorang bersedia untuk berbagi berkat, hal ini akan membawa kebahagiaan bagi mereka yang menerima, dan kebaikan yang sudah ditabur itu suatu saat juga akan kembali kepadanya.
Ayat 26, kata ‘menahan gandum’ berarti bisnis yang tidak jujur akan menimbulkan kemarahan. Ayat ini berbicara tentang para pedagang gandum yang menahan gandum supaya ada kelangkaan gandum. Dengan demikian mereka dapat memasang harga yang lebih tinggi dan mendapatkan keuntungan lebih. Sebaliknya, bagi mereka yang bermurah hati, berkat Allah tercurah atas mereka.
Ayat 27 menjelaskan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan menuai hasil sesuai dengan yang telah dilakukannya. Kebaikan akan berbuah kebaikan, kejahatan akan membuahkan kejahatan.
Ayat 28, ‘mempercayakan diri kepada kekayaan’, kekayaan dipandang sebagai berkat atau ganjaran hidup yang baik. Orang yang bersandar pada kekayaan dan menjadikan kekayaan sebagai perlindungan akhirnya akan menderita. Kehidupan yang baik, yang merupakan ganjaran dari hidup yang benar, lebih baik daripada kekayaan.
Ayat 29, kata ‘menangkap angin’ berarti melakukan hal yang sia-sia atau tidak mendapatkan hasil. Tindakan mengacaukan rumah tangga dipahami sebagai tindakan orang bodoh karena hanya akan menghasilkan hal-hal yang sia-sia bahkan kehancuran.
Ayat 30, kata ‘hasil orang benar adalah pohon kehidupan’ menurut hukum Taurat dan kitab para nabi Israel, orang benar hidup sesuai dengan perintah dan pengajaran TUHAN. Hidup benar berarti memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur. Sehingga ketika ia menjalani hidup dengan benar maka ia akan menerima kehidupan yang baik.
Relevansi:
Dari Amsal pasal 11:23-30 setidaknya kita belajar beberapa nilai-nilai kehidupan. Pertama, dalam menjalani hidup kita diberi dua pilihan, memilih menjadi orang benar dan bijak atau memilih untuk menjadi orang bodoh dan fasik. Setiap jalan hidup yang kita pilih itu juga akan mendatangkan hasil sesuai dengan apa yang sudah kita pilih dan jalani. Kedua, harta atau kekayaan yang dimiliki oleh seseorang bukan jaminan untuk hidup bahagia. Karena hidup bahagia adalah hidup yang dapat melakukan hal-hal baik dan benar sesuai kehendak Allah. Ketiga, berkat Allah tercurah atas mereka yang hidupnya benar, murah hati, serta rela berbagi.
Keluarga adalah komunitas sosial paling kecil, yang menjadi tempat pertama bagi seseorang untuk belajar kehidupan. Mengajarkan dan membiasakan nilai-nilai kehidupan yang baik dalam keluarga akan membentuk karakter setiap anggota keluarga. Nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam kitab Amsal ini penting untuk diajarkan, diteladankan, dan terus dihidupi oleh keluarga-keluarga GKJW. Belajar memilih dan memutuskan hal-hal yang benar dan bijak, belajar untuk tidak bergantung dan menyombongkan diri atas harta yang dimiliki, serta belajar untuk berbagi berkat kepada orang-orang di sekitar. Jika nilai-nilai ini dihidupi dalam keluarga, bukan hanya akan membuat suasana hidup berkeluarga terasa hangat dan menyenangkan, tetapi juga membuat orang di sekitar keluarga kita akan terberkati dengan kehadiran keluarga kita.
Pertanyaan Untuk Didiskusikan :
- Sejatinya hikmat Allah dicurahkan bagi setiap umat-Nya agar dapat menjalani hidup sebagai orang benar atau orang bijak. Tetapi mengapa masih tetap ada orang fasik?
- Nilai-nilai apa sajakah yang saudara hidupi di dalam keluarga saudara masing-masing?
- Hal-hal apa sajakah yang dapat mendukung terciptanya keluarga yang bahagia? [GW].
Pemahaman Alkitab (PA) Juli 2026 (II)
Bulan Keluarga
Bacaan: Yakobus 3 : 13 – 18
Tema Liturgis: Bangunlah Mezbah Keluarga!
Tema PA: Keluarga Berhikmat
Pengantar:
Kita sering mendengar pernyataan ‘harta tidak akan dibawa mati.’ Memang harta yang kita punya tidak akan dibawa mati, tetapi harta yang ditinggalkan bisa membuat keluarga berantakan. Sering kali kita melihat di media sosial, televisi bahkan di sekitar tempat tinggal kita terjadi perselisihan antar anggota keluarga hingga bertahun-tahun hanya karena harta warisan. Perselisihan seperti itu dapat terjadi karena perasaan iri hati dan keserakahan, sehingga hubungan antar saudara semakin kacau dan suasana hidup berkeluarga menjadi tidak damai.
Setiap keluarga tentu memiliki masalah, rebutan harta kekayaan atau warisan ini menjadi salah satu contoh masalah yang timbul di tengah hidup keluarga. Di bulan keluarga saat ini, kita diajak untuk kembali melihat dan merefleksikan kehidupan keluarga kita masing-masing. Bagaimana cara kita menghadapi dan mengatasi setiap masalah yang muncul dalam keluarga kita? Harapannya setiap keluarga Kristen dapat mengatasi permasalahan yang muncul dengan bijak dan berhikmat.
Penjelasan Teks:
Surat Yakobus ditulis oleh Yakobus saudara Yesus, yang ditujukan untuk orang-orang Kristen Yahudi yang tersebar di seluruh wilayah kekaisaran Roma (1:1). Secara umum, surat Yakobus berisi nasihat dan petunjuk bagaimana umat Allah harus hidup dan memperlakukan sesamanya. Sekalipun umat Allah memiliki iman yang besar, namun jika iman itu tidak nyata atau dihidupi dalam perbuatan sehari-hari, maka iman tersebut dapat mati. Sehingga di sepanjang surat Yakobus, nasihat-nasihat yang disampaikan terasa sangat menyentuh dan mudah dipahami oleh setiap pembacanya.
Pada pasal 3 ini, penulis surat Yakobus menyampaikan pesan kepada umat Allah untuk menjaga lidah dan menjadi orang bijak. Orang yang bijak dapat dilihat dari bagaimana mereka mengendalikan diri terutama dalam hal ucapan (lidah). Secara khusus pada ayat 13-18, penulis surat Yakobus ingin menjelaskan bahwa ada hikmat yang berasal dari Allah dan yang berasal dari dunia. Dua macam hikmat ini dapat diketahui perbedaannya melalui hasil atau yang mewujud dalam sikap hidup sehari-hari.
Hikmat yang berasal dari dunia, memiliki arti bahwa hikmat itu datangnya dari pola pikir manusia atau dari hawa nafsu manusia. Hikmat dari dunia ini dianggap bertentangan dengan kehendak Allah. Seseorang yang menjalani kehidupan dengan hikmat dari dunia, yang dihasilkan dari perbuatannya hanyalah iri hati, mementingkan diri sendiri (egois), memegahkan diri (sombong), dan dusta (kebohongan). Jika hal-hal ini terus dilakukan dalam sikap hidup sehari-hari, maka kehadiran orang dengan hikmat dunia ini hanya akan menimbulkan kekacauan dan kejahatan.
Selanjutnya, penulis surat Yakobus menjelaskan tentang hikmat yang berasal dari atas, yang berarti hikmat yang berasal dari Allah. Ketika seseorang menjalani kehidupan dengan dasar hikmat dari Allah, maka setiap perbuatan yang dilakukannya adalah hal-hal yang menghadirkan damai sejahtera. Orang yang hidup dengan hikmat Allah akan menjadi orang yang ramah, menurut kehendak Allah, memiliki belas kasih, jujur, dan tidak munafik.
Relevansi:
Hikmat adalah kemampuan untuk membedakan hal baik dan hal jahat. Sebagai pengikut Kristus pun kita menghayati bahwa Allah senantiasa mencurahkan hikmat-Nya untuk kita. Kita diberikan kemampuan untuk memikirkan dan menentukan mana yang baik dan selaras dengan kehendak Allah, dan mana yang jahat, yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Hikmat yang berasal dari Allah ini harus kita respons dengan baik dan kita wujudkan