Pererat Persaudaraan dan Berbagi Strategi Pelayanan Kunjungan PEPENDAGA GKJ Klasis Jakarta Bagian Barat ke Majelis Agung GKJW

7 July 2026

Rombongan forum Pertemuan Pendeta Aktif dan Emeritus beserta Keluarga (PEPENDAGA) dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Klasis Jakarta Bagian Barat melakukan kunjungan resmi ke Kantor Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Malang, pada hari Selasa, 7 Juli 2026. Agenda utama pertemuan ini adalah Sharing Pelayanan bersama PHMA dan Institut Pendidikan Theologi Balewiyata (IPTh. Balewiyata).

Kunjungan ke Kantor Majelis Agung GKJW ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan PEPENDAGA yang dijadwalkan berlangsung pada 6 – 10 Juli 2026 di kawasan Malang dan sekitarnya. Melalui pertemuan dalam kunjungan ini, kedua belah pihak berharap dapat saling memperluas wawasan mengenai strategi pelayanan, mempererat relasi persaudaraan, serta saling berbagi pengalaman dalam menjalankan panggilan sebagai tubuh Kristus.

Acara yang berlangsung hangat tersebut dipandu oleh Wakil Sekretaris Umum Majelis Agung GKJW, Pdt. Kristanto, S.Si. Setelah sesi perkenalan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Pelayan Harian Majelis Agung (PHMA) yang disampaikan langsung oleh Ketua Majelis Agung GKJW, Pdt. Natael Hermawan Prianto, S.Si., MBA.

Dalam sambutannya, Pdt. Natael mengucapkan selamat datang dan ucapan terimakasih atas kunjungan yang dilakukan. Di tengah sambutan tersebut, beliau juga menekankan pentingnya sinergi dan perjumpaan lintas gereja di tengah dinamika pelayanan masa kini. Pdt. Natael juga menyampaikan bahwa perbedaan konteks pelayanan antara GKJ dan GKJW bukanlah sebuah sekat, melainkan kekayaan yang saling melengkapi. Harapannya perjumpaan semacam ini dapat menginspirasi inovasi-inovasi pastoral yang relevan, sekaligus menjadi ruang yang menguatkan spiritualitas dan dedikasi para pelayan Tuhan, baik yang masih aktif maupun yang telah memasuki masa purna tugas (emeritus).

Memasuki acara inti, peserta mendapatkan pemaparan materi mengenai konteks dan peta pelayanan GKJW beserta strategi pelayanannya. Sesi pemaparan sekaligus tanya jawab ini dipandu secara langsung oleh Direktur dan Staf IPTh. Balewiyata, yakni Pdt. Dr. Hardiyan Triasmoroadi, M.Th. dan Pdt. Dikky Agung Triatmojo, M.Th.

Dalam presentasinya, Pdt. Dikky yang dipercaya untuk menyampaikan materi juga memaparkan rekam jejak panjang berdirinya IPTh. Balewiyata sebagai salah satu lembaga pendidikan teologi tertua di pulau Jawa. Sejarah mencatat bahwa dalam perkembangannya, IPTh. Balewiyata yang tadinya merupakan lembaga pendidikan formal melebur bersama Akademi Teologi Yogyakarta (ATY), yang kemudian bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Teologi Duta Wacana (saat ini dikenal sebagai Universitas Kristen Duta Wacana atau UKDW). Sedangkan keberadaan IPTh. Balewiyata saat ini berfokus pada penyelanggaraan pendidikan informal (pembinaan) yang berfokus pada lingkup internal GKJW.

Sesi pun dilanjutkan dengan diskusi dan sharing bersama yang berjalan sangat dinamis karena memunculkan berbagai wawasan baru bagi kedua belah pihak, terutama terkait sistem penataan tenaga pendeta, tantangan pelayanan yang dihadapi, hingga manajemen kesejahteraan pendeta. Dialog berfokus pada strategi penyiapan tenaga pelayan, pembinaan yang diterapkan, hingga pengelolaan kesejahteraan pendeta saat masih aktif maupun ketika memasuki masa emeritus/emerita.

Perbedaan sistem tata gereja dari kedua lembaga menjadi sorotan yang paling menarik dalam diskusi tersebut. Perlu diketahui bahwa terdapat perbedaan mendasar terkait status dan fungsi administratif seorang pendeta di tengah jemaat:

GKJ menerapkan Sistem Presbiterial. Sistem ini menitikberatkan kepemimpinan majelis (presbiter) yang bersifat otonom di tingkat gereja lokal. Di GKJ, seorang pendeta yang ditempatkan di suatu jemaat akan berfokus penuh pada ranah kerohanian, teologis, dan penggembalaan (pastoral). Urusan yang bersifat organisatoris dan administratif gereja dikelola secara kolektif oleh kemajelisan. Hal ini membebaskan pendeta dari beban birokrasi dan administratif, serta operasional gereja.

Sedangkan GKJW menerapkan Sistem Sinodal-Presbiterial. Sistem ini memadukan kemandirian majelis jemaat lokal dengan ikatan dan kebersamaan yang kuat di dalam naungan Sinode (Majelis Agung) sebagai pengambil keputusan yang mengikat secara menyeluruh. Implikasi praktisnya di GKJW, seorang pendeta yang baru ditahbiskan akan secara langsung menduduki posisi sebagai Ketua Majelis Jemaat. Dengan demikian, pendeta di GKJW tidak hanya memegang otoritas kerohanian dan pastoral, tetapi juga menjadi pucuk pimpinan dalam mengelola roda organisasi dan administrasi di Jemaat (gereja lokal) tersebut.

Perbedaan mendasar dalam sistem tata gereja ini justru memicu diskusi yang sangat konstruktif. Dialog berfokus pada bagaimana masing-masing institusi menjaga keseimbangan yang ideal antara menjaga kualitas pelayanan rohani dengan membangun tata kelola organisasi yang sehat. Dalam sesi sharing tersebut, kedua belah pihak secara terbuka membedah tantangan praktis dari sistem dijalankan oleh masing-masing lembaga.

Seluruh rangkaian pertemuan yang penuh dengan nuansa persaudaraan ini ditutup dengan sesi serah terima cindera mata berupa plakat lembaga, kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Rombongan PEPENDAGA dan tuan rumah kemudian larut dalam keakraban sambil menikmati sajian sederhana namun khas berupa hidangan Bakwan Malang yang telah disiapkan oleh Kantor Majelis Agung GKJW.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak