Momentum peringatan 100 tahun Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Malang, yang rangkaiannya dimulai pada Sabtu-Minggu, 7-8 Februari 2026, menjelma menjadi panggung diplomasi kemanusiaan yang menghangatkan hati. Kantor Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan di Jl. S. Supriyadi 18, Sukun, Kota Malangyang disiapkan menjadi posko transit, menyambut kehadiran sekitar 1.300 jamaah Mujahadah Kubro asal Surabaya dengan tangan terbuka, menciptakan harmoni lintas iman yang mendalam.
Sejak rombongan besar dari PCNU Surabaya tiba, suasana kekeluargaan langsung menyerbak melalui jamuan khas pedesaan yang disiapkan khusus oleh keluarga besar kantor Majelis Agung. Hidangan kacang dan pisang rebus yang tersaji hangat, bersanding dengan kepulan aroma minuman hangat yang ampuh mengusir dinginnya udara Malang bagi para musafir Nahdliyin.
Kesederhanaan hidangan ini menjadi simbol penerimaan yang tulus. Beberapa perwakilan Pelayan Harian Majelis Agung dan pendeta tugas khusus terjun langsung memastikan setiap jamaah yang singgah merasa dilayani dengan penuh hormat layaknya keluarga sendiri.
Tidak ketinggalan, keluarga GKJW Jemaat Malang tampak sigap mendistribusikan bantuan sukarela berupa snack dan air mineral yang diserahkan langsung ke posko utama kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Malang, yang letaknya tidak jauh dari gedung gereja GKJW Jemaat Malang. Bantuan ini diharapkan dapat menunjang kebutuhan logistik para jemaah yang akan mengikuti kegiatan tersebut, terutama juga sebagai upaya mewujudkan semangat persaudaraan dalam perbedaan.
Kehangatan tersebut kian lengkap dengan partisipasi aktif komunitas lintas agama, kehadiran para Romo dan Suster dari beberapa paroki di Keuskupan Malang menambah kesan sejuk. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tapi ikut ambil bagian dalam menyambut dan melayani para Nahdliyin, meruntuhkan tembok pembatas melalui senyuman dan sapaan akrab.
Salah satu momen paling emosional dalam persinggahan ini adalah saat para Nahdliyin diajak mengunjungi Ruang Gus Dur. Ruangan istimewa ini menyimpan memorabilia saat KH Abdurrahman Wahid memberikan kuliah Islamologi bagi para pendeta dan calon pendeta GKJW. Bagi para jamaah, melihat meja dan peralatan yang pernah digunakan Sang Guru Bangsa di lingkungan Greja adalah sebuah “ziarah pemikiran” yang membangkitkan memori tentang sosok yang menghabiskan hidupnya menjahit kerukunan.
Suasana haru memuncak saat perwakilan pengurus PCNU Surabaya menyampaikan rasa terima kasihnya. Dengan suara bergetar, mereka mengungkapkan betapa besarnya arti sambutan ini. Bagi mereka, pelukan hangat dari keluarga besar MA GKJW, jemaat Greja, serta para Romo dan Suster bukan sekadar bantuan logistik, melainkan oase persaudaraan yang melampaui kata-kata.
Potret di kantor Majelis Agung ini menjadi bukti nyata bahwa Satu Abad NU adalah milik semua golongan. Perjumpaan antara kaum Nahdliyin, jemaat Greja, serta biarawan-biarawati dalam balutan jamuan palapendem dan napak tilas jejak Gus Dur menegaskan bahwa di Malang, kemanusiaan adalah titik temu dari setiap keyakinan.
Di Malang, perayaan ini bukan sekadar seremoni organisasi yang mendapat predikat sebagai organisasi terbesar di Indonesia, melainkan sebuah penegasan bahwa kemanusiaan adalah titik temu dari setiap keyakinan. Sebuah kado terindah bagi satu abad perjalanan menapak jagat, membangun peradaban.