Bacaan: Amsal 16 : 1 – 20 | Pujian: KJ. 400
Nats: “Segala jalan orang itu bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” (Ayat 2)
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih membuat hidup seakan berada di atas panggung pertunjukan. Setiap momen dapat direkam, setiap aktivitas dapat dibagikan, setiap emosi dapat dipamerkan. Dalam kehidupan saat ini, banyak orang yang tidak lagi sekadar menjalani kehidupan, tetapi juga mengemasnya untuk dipertontonkan. Tidak jarang tindakan baik dilakukan bukan karena dorongan empati, melainkan demi sebuah pengakuan. Aktivitas kebaktian dipamerkan untuk membangun reputasi sebagai orang beriman. Bahkan, kesedihan pun kadang dikemas agar terlihat dramatis dan menarik perhatian. Realitas disunting, dipoles, lalu dipublikasikan. Di sinilah budaya pencitraan tumbuh subur, perlahan tapi pasti, menggeser makna ketulusan.
Dalam bacaan Firman hari ini, penulis Amsal mengatakan, “Segala jalan orang itu bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Dari sini kita bisa melihat bahwa Tuhan melihat dengan jelas apa yang ada di dalam hati setiap manusia. Hati di sini bukan hanya mengacu pada emosi atau perasaan, tetapi juga pada motivasi, niat, dan tujuan dalam hidup kita. Dalam setiap hal yang kita lakukan, Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak dari luar, melainkan juga menguji kedalaman hati kita, termasuk pikiran dan perasaan kita yang mungkin tidak tampak oleh orang lain. Tuhan menilai dan melihat jauh ke dalam, yaitu tentang motivasi dan niat yang ada di balik setiap tindakan kita. Kita mungkin tampak baik dan benar di mata orang lain, suka berpelayanan, suka monolong, sabar, baik hati, dan ramah kepada orang lain, namun jika motivasi kita tidak tulus dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, itu tidak dianggap benar oleh Tuhan.
Bacaan hari ini memberikan pelajaraan bagi kita bahwa Tuhan bukan hanya melihat setiap hal yang dilakukan manusia, melainkan Ia juga melihat kedalaman hati kita. Berkaitan dengan hal tersebut, marilah kita melihat dan merenungkan kembali motivasi kita dalam melakukan segala sesuatu, baik dalam pekerjaan, pelayanan maupun hubungan kita dengan sesama, agar apapun perbuatan baik yang kita lakukan senantiasa dimotivasi oleh hati yang bersih dan baik, bukan karena pencitraan semata. Amin. [YHS].
“Saat ketulusan bersandar dalam jiwa, kasih akan menjadi jauh lebih sempurna.”