Tahun Liturgi: Bulan Budaya
Tema: Budaya kerja keras dalam melayani
Judul: Demi Apa Coba?
Bacaan: 1 Tesalonika 2 : 9 – 13
Ayat Hafalan: “Karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, …” (1 Tes. 2 : 13a)
Lagu Tema:
- “Kerja Buat Tuhan Selalu Manise”
- NKB 133 “Syukur Pada-Mu, Ya Allah”
Tujuan:
Remaja dapat menelaah secara kritis perbedaan antara bekerja demi upah duniawi dan kerja keras karena menghargai Firman Allah yang bekerja di dalam diri mereka
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Alkitab memang tidak pernah menyebutkan bahwa Paulus adalah seorang pembuat tenda. Namun kita akan mengetahuinya bila mengingat bahwa dia pernah belajar di bawah bimbingan Rabi Gamaliel di Tarsus. Ya, Paulus berasal dari Tarsus, khususnya provinsi Kilikia, yang terkenal karena berternak kambing dan mengasilkan bulu kambing yang digunakan untuk membuat tenda. Sehingga bukanlah hal yang mengherankan bila Paulus muda pernah belajar membuat tenda di sana dan di kemudian hari ia pun di kenal sebagai pembuat tenda. Maka pekerjaan yang dimaksudkan oleh Paulus ketika ingin mengungkapkan betapa ia tidak ingin menjadi beban pada jemaat di Tesalonika selama proses pemberitaan Injil (ay. 9).
Sementara itu, Paulus juga menyatakan bukti keseriusannya dalam mewartakan Injil, yang ia nyatakan dengan saleh, adil dan tak bercacat, bahkan jemaat Tesalonika menjadi saksi atas upaya-upaya serius yang dilakukannya (ay. 10). Paulus sedang menyatakan betapa ia tidak ingin mengambil keuntungan pribadi atas pelayanan yang sedang diupayakan. Ia dan kawan-kawan sepelayanan sangat berusaha untuk tidak memberi teladan yang buruk, supaya mereka hidup benar-benar sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Dalam hal ini, Rasul Paulus ingin senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia (Kis. 24:16).
Jemaat Tesalonika menjadi saksi keseriusan Paulus dalam mendampingi jemaat, bahkan berkenan memberikan nasehat dan menguatkan hari umat orang-perorang (ay. 11). Oleh karena itu bukan berlebihan bila Paulus meminta merea untuk hidupsesuai dengan kehandak Allah (12). Paulus dan rekan-rekan sekerjanya bukan hanya orang-orang Kristen yang baik, namun juga pelayan-pelayan yang setia. Umat seharusnya bukan hanya menjadi orang baik menurut panggilan umum sebagai orang-orang Kristen, namun juga dalam panggilan-panggilan dan hubungan-hubungan khusus kita. Paulus berusaha menghibur mereka dengan berusaha keras menggembirakan dan menyemangati mereka di tengah kesulitan-kesulitan dan keputusasaan yang mungkin mereka alami. Supaya mereka hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil mereka ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya (ay. 12).
Di tengah berbagai dinamika pelayanannya, Paulus tetap bersyukur. Meski dalam prosesnya ia sempat dicurigai akan menjadi beban, ia tetap bersyukur. Sebab di atas itu semua Paulus melihat keberhasilan pewartaan Injil, sebab jemaat Tesalonika telah menerima Firman Tuhan sebagai sesungguhnya Firman Tuhan, bukan karena karya manusia (ay. 13). Allah-lah yang turut bekerja dalam hati tiap orang percaya. Jelaslah sekarang bahwa Paulus lebih mementingkan karya Allah dibandingkan kepentingan manusia atau upah duniawi.
Pendahuluan
“Demi apa coba?” adalah ungkapan kekagetan, ketidakpercayaan, atau antusiasme yang sering digunakan di media sosial untuk menyoroti momen seru, harga murah, atau kejadian tak terduga. Biasanya dikaitkan dengan kejadian seru/ekstrem. Sering pula dipakai saat menceritakan pengalaman mendebarkan seperti naik wahana permainan berkali-kali. Digunakan untuk mengekspresikan keterkejutan atas harga yang sangat murah. Kalimat-kalimat dalam situasi ini biasanya bermakna “Sumpah, demi apa ini kok bisa terjadi?” atau “Serius, ini beneran?”
Namun sejatinya kata ‘demi apa coba?’ ini muncul dari adanya kecurigaan adanya niatan tertentu yang tersembunyi dengan ketika sesuatu yang hebat sedang terjadi. Sepintas memiliki makna yang sama dengan peribahasa: ada udang di balik batu. Di balik sesuatu yang hebat, mendebarkan dan memberi banyak keuntungan mendatangkan kecurigaan. Too good to be true. Demikianlah kecurigaan yang juga diarahkan pada Paulus yang totalitas dalam melayani dianggap mencari keuntungan dari pengumpulan persembahan. Sebab sebenarnya Paulus memiliki mata pencaharian sebagai pembuat tenda.
Cerita
Alkitab memang tidak pernah menyebutkan bahwa Paulus adalah seorang pembuat tenda. Namun kita akan mengetahuinya bila mengingat bahwa dia pernah belajar di bawah bimbingan Rabi Gamaliel di Tarsus. Ya, Paulus berasal dari Tarsus, khususnya provinsi Kilikia, yang terkenal karena berternak kambing dan mengasilkan bulu kambing yang digunakan untuk membuat tenda. Sehingga bukanlah hal yang mengherankan bila Paulus muda pernah belajar membuat tenda di sana dan di kemudian hari ia pun di kenal sebagai pembuat tenda. Maka pekerjaan yang dimaksudkan oleh Paulus ketika ingin mengungkapkan betapa ia tidak ingin menjadi beban pada jemaat di Tesalonika selama proses pemberitaan Injil (ay. 9).
Sementara itu, Paulus juga menyatakan bukti keseriusannya dalam mewartakan Injil, yang ia nyatakan dengan saleh, adil dan tak bercacat, bahkan jemaat Tesalonika menjadi saksi atas upaya-upaya serius yang dilakukannya (ay. 10). Paulus sedang menyatakan betapa ia tidak ingin mengambil keuntungan pribadi atas pelayanan yang sedang diupayakan. Ia dan kawan-kawan sepelayanan sangat berusaha untuk tidak memberi teladan yang buruk, supaya mereka hidup benar-benar sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Dalam hal ini, Rasul Paulus ingin senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia (Kis. 24:16).
Jemaat Tesalonika menjadi saksi keseriusan Paulus dalam mendampingi jemaat, bahkan berkenan memberikan nasehat dan menguatkan hari umat orang-perorang (ay. 11). Oleh karena itu bukan berlebihan bila Paulus meminta merea untuk hidupsesuai dengan kehandak Allah (12). Paulus dan rekan-rekan sekerjanya bukan hanya orang-orang Kristen yang baik, namun juga pelayan-pelayan yang setia. Umat seharusnya bukan hanya menjadi orang baik menurut panggilan umum sebagai orang-orang Kristen, namun juga dalam panggilan-panggilan dan hubungan-hubungan khusus kita. Paulus berusaha menghibur mereka dengan berusaha keras menggembirakan dan menyemangati mereka di tengah kesulitan-kesulitan dan keputusasaan yang mungkin mereka alami. Supaya mereka hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil mereka ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya (ay. 12).
Di tengah berbagai dinamika pelayanannya, Paulus tetap bersyukur. Meski dalam prosesnya ia sempat dicurigai akan menjadi beban, ia tetap bersyukur. Sebab di atas itu semua Paulus melihat keberhasilan pewartaan Injil, sebab jemaat Tesalonika telah menerima Firman Tuhan sebagai sesungguhnya Firman Tuhan, bukan karena karya manusia (ay. 13). Allah-lah yang turut bekerja dalam hati tiap orang percaya. Jelaslah sekarang bahwa Paulus lebih mementingkan karya Allah dibandingkan kepentingan manusia atau upah duniawi.
Dengan demikian bahwa Paulus tidak memiliki niatan meraup keuntungan secara pribadi, motivasinya tulus hanya untuk kemuliaan nama Tuhan dan tersampaikannya Firman Tuhan kepada dunia. Mari kita juga meneladani ini motivasi Paulus dalam pelayanan kita sehari-hari. Mari melakukan segala sesuatu dengan sukacia dan penuh ketulusan demi kemuliaan nama Tuhan, demi pewartaan Firman Tuhan bagi dunia. Amin.
Aktivitas
“#demiapacoba?”
- Ajak remaja mengumpulkan postingan instagram dengan hashtag #DemiApaCoba?
- Ajak remaja mengungkapkan motivasi di balik postingan-postingan tersebut (ambil 2 atau 3 postingan yang manarik dan bermuatan nilai kekristenan)
- Ajak remaja untuk membuat postingan intagram berupa foto atau kutipan yang bernada semangat melayani atau motivasi yang tulis dalam melayani dengan hashtag #DemiKemuliaanTuhan.