Suasana hangat dan semangat kebersamaan menyelimuti lingkungan Kantor Majelis Agung GKJW (IPTh. Balewiyata), pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Hari itu, Tim Rekonstruksi Kurikulum Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK) GKJW menyelenggarakan kegiatan Workshop Penulisan Materi Ajar dan Pelatihan Formasi Spiritualitas: Rekonstruksi Kurikulum Projek Tahap II. Kegiatan ini mempertemukan para guru pengampu mata pelajaran ke-GKJW-an serta perwakilan murid dari Fase A hingga Fase F. Setiap unit sekolah di bawah naungan YBPK GKJW mulai dari jenjang SD hingga SMA/SMK mengirimkan delegasi yang terdiri dari satu orang guru dan dua orang murid untuk duduk, belajar, dan berproses bersama.
Sejak pagi hari, keakraban sudah terasa saat para guru dan murid dari berbagai daerah saling menyapa sembari menikmati kudapan dan minuman hangat di selasar Pendapa Atas IPTh. Balewiyata Majelis Agung GKJW. Setelah melakukan presensi, seluruh peserta memasuki ruang Kapel untuk mengikuti doa bersama serta rangkaian pembukaan dan pengambilan gambar bersama.
Rangkaian acara diawali dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Hardiyan Triasmoroadi, M.Th. Sejak awal kegiatan, pada layar utama terpampang jelas tema besar Kurikulum YBPK GKJW, yakni “Membangun Iman Mempererat Persaudaraan”. Tema besar ini menjadi pengingat sekaligus penegas komitmen bahwa keberadaan YBPK GKJW tidak semata-mata menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada ilmu pengetahuan, melainkan juga merawat keseimbangan antara pertumbuhan iman dan semangat membangun persaudaraan yang tulus.
Dalam sambutan pertama, Wakil Ketua Bidang Pendidikan YBPK GKJW, Ibu Tutut Sriwahyuni, M.Pd., menyampaikan rasa syukur bahwa program ini dapat terselenggara berkat kerja sama yang erat antara GKJW dengan mitra United Evangelical Mission (UEM). Beliau menjelaskan bahwa konsep materi ajar sejatinya telah dirancang dengan matang oleh tenaga-tenaga kompeten di bidangnya. Namun, sebelum materi tersebut dibagikan secara resmi ke seluruh unit sekolah, diperlukan beberapa tahapan uji coba bersama para pelaku pendidikan di lapangan.
Melalui workshop ini, para guru dan murid tidak hanya dilatih menerapkan dasar-dasar spiritualitas, tetapi juga dilibatkan secara aktif untuk mensimulasikan langsung materi ajar yang telah disusun. Keterlibatan langsung dari guru maupun murid sebagai pengguna di ruang kelas diharapkan dapat melahirkan masukan-masukan konstruktif apabila masih terdapat bagian materi yang perlu disesuaikan. Langkah penyelarasan ini menjadi sangat penting mengingat sebaran unit-unit sekolah YBPK GKJW yang begitu beragam—mulai dari kawasan perkotaan, lingkungan industri, hingga pedesaan—sehingga setiap materi ajar perlu dikontekstualisasikan agar menjawab kebutuhan nyata di masing-masing sekolah.
Senada dengan hal tersebut, Anggota Pembina YBPK, Bapak Laksda TNI (Purn) Dr. Agung Pramono, S.H., M.Hum., dalam sambutan kedua menekankan pentingnya “mendaratkan” kurikulum ke-GKJW-an ke dalam hati dan pikiran seluruh tenaga pendidik maupun para murid. Menurut beliau, hal ini sangat krusial agar setiap langkah gerak dalam proses pengajaran di sekolah senantiasa menghidupi semangat GKJW. Mengingat materi ajar secara konseptual sudah tersedia, tantangan berikutnya terletak pada bagaimana mengimplementasikannya secara nyata di lingkup pengajaran, disertai evaluasi berkala di tengah perkembangan dunia yang terus bergerak cepat.
Apresiasi dan dukungan penuh juga mengalir dari Sekretaris Majelis Agung GKJW, Pdt. Dr. Agung Siswanto, M.Th., dalam sambutan ketiga. Mengutip pesan dari judul buku “Never Stop Learning”, Pdt. Agung mengajak seluruh peserta—baik guru maupun murid—untuk senantiasa membuka diri menjadi pembelajar sepanjang hayat.
“Segala sesuatu yang ada di dunia ini senantiasa berubah. Tidak ada satu pun yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri,” ungkap Pdt. Agung. Mewakili Pelayan Harian Majelis Agung (PHMA) GKJW, beliau menyambut baik inisiatif ini dan menyampaikan terima kasih kepada jajaran pembina, pengurus, dan pengawas YBPK, serta secara khusus Tim Rekonstruksi Kurikulum YBPK GKJW yang tanpa lelah terus berupaya menyesuaikan dan mengontekstualisasikan pendidikan GKJW dengan perkembangan zaman.
Usai prosesi pembukaan, para peserta dibagi ke dalam dua kelompok paralel di ruangan terpisah: kelompok guru berproses di Gedung Pendapa Atas, sedangkan kelompok murid berkumpul di Kapel Balewiyata. Di Pendapa Atas, kelompok guru mengawali proses belajar pada sesi pertama dengan mendalami Tips dan Kiat Penulisan Materi Ajar bersama Dr. Nugraheni Warih. Dalam sesi ini, para pendidik diajak memahami cara meramu bahan ajar yang tidak hanya runtut secara akademis, tetapi juga komunikatif, menarik, dan mudah dicerna sesuai tahap perkembangan murid. Para guru dibekali kiat memilih pendekatan bahasa yang membumi, merancang aktivitas belajar yang interaktif, serta menyisipkan nilai-nilai ke-GKJW-an secara alami ke dalam materi pelajaran.
Memasuki sesi kedua, para guru melanjutkan pembelajaran mengenai Tips dan Kiat Penulisan Refleksi bersama Pdt. Em. Drs. Sumardijana. Sesi ini menolong para guru melihat bahwa refleksi merupakan jembatan penting yang menghubungkan pengetahuan intelektual dengan penghayatan iman. Para guru dilatih merangkai kalimat pemantik dan narasi reflektif yang mampu menyentuh hati murid, sehingga setiap materi yang diajarkan di kelas dapat mendorong perubahan sikap serta pemaknaan hidup sehari-hari.
Sementara para guru berkutat dengan penulisan materi dan refleksi di Pendapa Atas, kelompok murid mengikuti sesi Pelatihan Formasi Spiritualitas di ruang Kapel bersama Pdt. Dr. Hardiyan Triasmoroadi, M.Th.. Dalam suasana yang dialogis dan akrab, para murid lintas jenjang ini diajak mengenal spiritualitas Kristen khas GKJW secara sederhana dan dekat dengan dunia mereka. Mereka dibimbing untuk membangun kebiasaan berdoa, menyadari kehadiran Tuhan dalam proses belajar, serta mempraktikkan sikap saling menghargai dan mempererat persaudaraan di tengah pergaulan sehari-hari di sekolah maupun di rumah.
Setelah jeda santap siang bersama yang hangat di ruang makan dan selasar Balewiyata, dinamika kegiatan berlanjut pada siang hari dengan pertukaran ruang dan fokus materi antara guru dan murid. Kelompok guru beralih menuju ruang Kapel untuk mengikuti sesi Pelatihan Formasi Spiritualitas yang kembali difasilitasi oleh Pdt. Dr. Hardiyan Triasmoroadi, M.Th.. Pada kesempatan ini, para guru diajak menyegarkan kembali panggilan batin mereka bahwa tugas pendidik bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan menjadi rekan seperjalanan rohani bagi para murid. Para guru dibekali pemahaman dan praktik dasar pembentukan spiritualitas (spiritual formation) agar mampu menghadirkan keteladanan, kepekaan hati, dan atmosfer kasih di lingkungan sekolah masing-masing.
Di saat yang sama, kelompok murid berpindah ke Pendapa Atas dan lingkungan sekitar Balewiyata untuk mengikuti sesi Tips dan Praktik Penulisan Refleksi Formasi Spiritualitas bersama Ibu Dra. Denise Resiamini P.. Tidak hanya mendengarkan paparan di dalam ruangan, para murid diajak mengamati lingkungan sekitar, merasakan keteduhan alam Balewiyata, dan merenungkan pengalaman kebersamaan yang mereka alami sejak pagi. Dari pengamatan dan perenungan tersebut, para murid dibimbing secara langsung untuk menuliskan refleksi iman menggunakan bahasa mereka sendiri yang jujur, sederhana, dan autentik.
Kesadaran untuk menjaga ketertiban dan kepedulian terhadap lingkungan juga mewarnai jalannya kegiatan ini, terlihat dari kedisiplinan para peserta yang membawa tumbler serta alat tulis masing-masing selama berproses. Seluruh rangkaian kegiatan akhirnya ditutup dengan doa bersama. Melalui perjumpaan dan kerja bersama antara guru serta murid ini, kurikulum ke-GKJW-an diharapkan dapat semakin membumi dan menjadi berkat nyata bagi pembentukan karakter, pertumbuhan iman, serta eratnya persaudaraan di seluruh unit sekolah di bawah naungan YBPK GKJW serta membawa dampak yang nyata bagi dunia di sekitarnya.