Merawat Harmoni KAUM MD Surabaya Timur II Kunjungi Pura Agung Jagat Karana-Surabaya

6 October 2026

Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, semangat merawat kerukunan dan membangun persaudaraan lintas iman diwujudkan melalui kunjungan Komisi Hubungan Antarumat Beragama Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Majelis Daerah Surabaya Timur II ke Pura Agung Jagat Karana Surabaya. Sebanyak 34 peserta dari 13 gereja GKJW di lingkup Majelis Daerah Surabaya Timur II mengikuti kegiatan yang diisi dengan tur lingkungan pura, dialog keagamaan, hingga ramah tamah dalam suasana penuh keakraban.

Kedatangan rombongan GKJW disambut hangat oleh pengurus Pura Agung Jagat Karana Surabaya, yang diawali dengan sesi perkenalan. Setelah itu, para peserta diajak menyusuri lingkungan pura, mulai dari halaman depan hingga area tempat persembahyangan (wilayah suci). Tur ini dipandu langsung oleh Jero Mangku Gede I Ketut Sedana selaku Pemangku Gede Pura Agung Jagat Karana Surabaya. Sepanjang perjalanan, beliau menjelaskan berbagai bagian pura, termasuk fungsi ruang, simbol keagamaan, serta filosofi yang mendasari setiap unsurnya.

Salah satu penjelasan yang menarik perhatian peserta adalah konsep Tri Mandala, yakni pembagian tata ruang pura ke dalam tiga zona berdasarkan tingkat kesuciannya. Zona terluar disebut Nista Mandala, yang berfungsi sebagai ruang peralihan dari kehidupan duniawi menuju lingkungan suci pura. Selanjutnya adalah Madya Mandala di bagian tengah, yang menjadi ruang antara sebelum umat memasuki wilayah yang lebih suci. Terakhir, Utama Mandala, merupakan bagian terdalam dan paling suci yang menjadi pusat pelaksanaan persembahyangan.

Peserta juga mendapat penjelasan mengenai sejumlah unsur arsitektur dan simbol keagamaan, seperti patung Dewi Saraswati yang dikenal sebagai lambang ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan seni. Ada pula paduraksa, yakni gerbang yang menjadi penanda dan pembatas ruang dalam kompleks pura. Tidak hanya bangunan, rimbunnya pepohonan dan indahnya bunga kamboja di lingkungan pura juga menjadi perhatian. Keberadaannya bukan sekadar penghias, melainkan upaya menciptakan suasana sejuk, bersih, dan asri guna mendukung kekhusyukan persembahyangan. Bagi para peserta dari GKJW, tur ini memberikan pengalaman langsung untuk memahami bahwa ruang ibadah tidak sekadar dibangun berdasarkan fungsi praktis, tetapi sarat akan simbol, filosofi, dan nilai spiritual yang mendalam.

Setelah tur, kegiatan dilanjutkan dengan sesi dialog yang berlangsung terbuka dan hangat. Para peserta antusias mengajukan berbagai pertanyaan mengenai praktik keagamaan Hindu. Salah satunya mengenai makna beras (bija) yang ditempelkan di dahi setelah persembahyangan, yang dijelaskan oleh Jero Mangku Gede I Ketut Sedana sebagai simbol kesucian, kesejahteraan, dan harapan akan kehidupan yang baik. Peserta juga menanyakan perihal sesajen yang dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur, ketulusan, dan penghormatan kepada Tuhan, serta upaya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Selain itu, dialog juga membahas konsep Catur Warna (Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra) yang berkaitan dengan peran dan kewajiban sosial masyarakat, yang penerapannya dapat berbeda-beda menyesuaikan konteks daerahnya.

Diskusi pun berkembang menyentuh topik seputar makanan yang berkaitan dengan prinsip kesucian, pengendalian diri, dan ajaran ahimsa (tanpa kekerasan). Tata waktu berdoa, tradisi perkawinan, hingga aturan mengenai siapa saja yang diperbolehkan memasuki wilayah suci saat persembahyangan juga dibahas secara komprehensif. Pembahasan yang tak kalah mendalam adalah mengenai konsep Triguna Brahman dan pemahaman ketuhanan dalam Hindu yang memiliki kekayaan filosofis. Melalui penjelasan tersebut, peserta diajak memahami konsep Brahman sebagai realitas tertinggi serta beragam cara umat Hindu menghayati hubungannya dengan Tuhan.

Menariknya, diskusi ini juga menyinggung proses inkulturasi dalam peribadatan GKJW. Seorang peserta menyampaikan bahwa dalam budaya GKJW terdapat penggunaan atribut atau unsur budaya lokal—yang terkadang bersinggungan dengan akar budaya Hindu—dalam kegiatan kebaktian. Diskusi mengenai perspektif Hindu terhadap hal ini memunculkan kesepahaman bahwa adopsi unsur budaya keagamaan harus dilakukan dengan tetap menghormati makna dan konteks asalnya. Perbedaan tradisi bukan untuk menciptakan jarak, melainkan menjadi ruang untuk saling belajar.

Pertemuan ini membuktikan bahwa kunjungan lintas agama bukan sekadar melihat bentuk fisik tempat ibadah, melainkan sebuah perjumpaan yang bermakna. GKJW dapat mengenal praktik dan filosofi umat Hindu secara lebih dekat, sementara pengurus Pura Agung Jagat Karana juga dapat mengenal tradisi GKJW. Dialog dua arah ini menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi terciptanya ruang persaudaraan jika didasari oleh keterbukaan dan rasa saling menghormati.

Sebagai wujud cinta kasih dan tanda persaudaraan, acara ditutup dengan penyerahan cinderamata dari GKJW kepada pengurus Pura Agung Jagat Karana Surabaya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama, ramah tamah, dan makan malam bernuansa kekeluargaan. Menjelang kepulangan, kehangatan semakin terasa saat seluruh peserta dan pengurus pura berbaur menyanyikan lagu “Kemesraan”.

Lagu tersebut menjadi penutup yang sempurna untuk menggambarkan perjumpaan malam itu: sederhana, akrab, dan merajut hati.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa harmoni tidak lahir dari keyakinan yang sama, melainkan dari kesediaan untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan. Dari Pura Agung Jagat Karana Surabaya, rombongan GKJW membawa pulang pengalaman berharga bahwa dialog lintas iman adalah jalan utama untuk merawat persaudaraan dan membangun kehidupan bersama yang damai di tengah keberagaman.

Tulisan dan foto: Yunita Kristinahwati

Renungan Harian

Renungan Harian Anak