Bacaan: Matius 20 : 1 – 16 | Pujian: KJ. 446
Nats: “Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan upah yang adil akan kuberikan kepadamu.” (Ayat 4a)
Dalam kehidupan masyarakat saat ini, kita sering menyaksikan kerusakan lingkungan: banjir akibat sampah, penebangan pohon, udara yang tercemar, tanah yang kehilangan kesuburannya, dan krisis air bersih di berbagai tempat. Semua itu tidak terjadi begitu saja, melainkan sebagai akibat dari cara manusia memperlakukan alam. Di tengah situasi ini, kita diajak untuk melihat kembali bahwa firman Tuhan tidak hanya berbicara tentang keselamatan jiwa, tetapi juga menuntun kita untuk hidup bertanggung jawab terhadap seluruh ciptaan.
Dalam perumpamaan-Nya, Yesus menggambarkan seorang tuan yang memanggil pekerja untuk bekerja di kebun anggurnya pada waktu yang berbeda-beda. Ada yang bekerja sejak pagi, ada pula yang baru dipanggil menjelang petang. Namun pada akhirnya, semua pekerja menerima upah yang sama. Perumpamaan ini sering dipahami sebagai gambaran anugerah Allah yang tidak diukur berdasarkan jasa manusia. Namun, jika dibaca dalam terang pertobatan ekologi, kebun anggur juga dapat dipahami sebagai simbol ciptaan Tuhan yang dipercayakan untuk dikelola bersama. Kesetiaan para pekerja bukan terletak pada lamanya mereka bekerja, melainkan pada kesediaan mereka menjawab panggilan tuan kebun. Mereka yang datang belakangan pun tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Ini mengingatkan kita bahwa setiap orang, cepat atau lambat, dipanggil untuk terlibat dalam merawat ciptaan. Tidak ada alasan untuk menunda atau merasa tidak perlu bertanggung jawab.
Sikap para pekerja yang bersungut-sungut mencerminkan kecenderungan manusia yang mengukur segala sesuatunya dengan keadilan versi dirinya sendiri. Dalam konteks ekologi, sikap ini tampak ketika manusia merasa berhak mengeksploitasi alam demi keuntungan pribadi, tanpa memikirkan keberlanjutan dan keadilan bagi sesama serta generasi mendatang. Tuhan menegaskan bahwa kebun itu milik-Nya dan manusia hanyalah pengelola, bukan pemilik mutlak. Pertobatan ekologi tentu juga menuntut kesetiaan, setia mendengar firman, setia menjalankan panggilan, dan setia merawat ciptaan Tuhan dengan penuh tanggung jawab. Kesetiaan ini lahir dari rasa syukur atas anugerah Allah yang begitu besar, bukan dari perhitungan untung dan rugi. Amin. [asen].
“Setialah melangkah, setialah menjaga kehidupan!”