Bacaan: Yeremia 13 : 1 – 11 | Pujian: KJ. 309
Nats: “Sebab, sama seperti ikat pinggang melekat pada pinggang seseorang, demikianlah tadinya segenap kaum Israel dan kaum Yehuda Kulekatkan kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN, ...” (Ayat 11)
Namanya ikat pinggang pasti tempatnya melekat pada pinggang, bukan di kepala atau di kaki. Dalam kekristenan, ikat pinggang adalah simbol kesetiaan dan pengabdian. Fungsi utama ikat pinggang bukan sekadar sebagai aksesoris penghias pinggang, melainkan harus melekat erat agar benar-benar berguna. Sama halnya dengan diri kita, kegunaan dan nilai diri kita sangat ditentukan kepada siapa kita melekat. Tanpa “Sang Pemakai”, seindah dan semahal apa pun ikat pinggang itu, ia hanyalah selembar kain yang tidak memiliki fungsi apa-apa.
Yeremia 13:1-11 menyoroti bagaimana Tuhan memerintahkan Yeremia membeli ikat pinggang dari kain lenan. Dalam tradisi Israel, lenan adalah bahan kelas satu yang sangat berharga dan biasanya hanya dipakai oleh keluarga kerajaan. Ikat pinggang ini adalah simbol umat Israel sebagai umat pilihan yang sangat bernilai di mata Allah. Namun, ketika umat Israel mulai congkak, keras kepala, menjauh, terlebih mendua hati, seperti ikat pinggang yang dilepas dan disembunyikan di celah bukit batu maka hidup mereka berubah menjadi lapuk, rusak, dan sama sekali tidak berguna. Hal ini menggambarkan kondisi Israel yang sedang “sakit” secara rohani. Mereka merasa sehat padahal mereka sedang menuju kehancuran karena lebih memilih melekat pada berhala dan keinginan diri sendiri daripada melekat erat pada Tuhan.
Kehidupan kita pada masa kini seringkali tidak jauh berbeda dari kehidupan umat Israel. Kita menyandang status Kristen, namun cara hidup kita seringkali tidak mencerminkan Sang Kristus. Kita rajin beribadah, namun hati kita tetap “wangkot” (keras kepala) dan mendua terhadap Firman Tuhan. Di sini kita harus sadar bahwa kita adalah “Ikat Pinggang Kesayangan Tuhan” yang telah ditebus dengan harga yang mahal. Jangan pernah mencoba melepaskan diri dari Tuhan, sebab jauh dari Tuhan hanya akan membuat hidup kita lapuk, hancur, dan sia-sia, seperti kain yang terkubur di celah bukit batu. Mari kita tanggalkan keangkuhan dan bebaskan hati kita dari segala kedegilan. Kembalilah melekat erat pada pinggang Tuhan agar hidup kita tetap berharga dan berguna bagi kemuliaan-Nya! Amin. [tma].
“Tuhan tidak mencari yang hebat, Ia mencari yang mau tetap melekat.”