Tahun Gerejawi: Bulan Keluarga
Tema: Firman yang Bertumbuh
Judul: Bertahan di Tengah Himpitan
Bacaan: Matius 13:1-9
Ayat Hafalan: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)
Lagu Tema: Firman-Mu Pelita Bagi Kakiku
POV: Hati adalah tempat bertumbuhnya firman; menjadi anak Tuhan yang setia berarti tekun menjaga ‘tanah hati’ dari gangguan agar kebenaran yang didengar dapat berbuah nyata dalam karakter sehari-hari.
Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Matius 13:1-9
Yesus sering mengajar dengan menggunakan perumpamaan agar para pendengar-Nya lebih mudah mengerti dan memahami pengajaran-Nya. Mengapa? Karena perumpamaan yang digunakan diambil dari kehidupan sehari-hari atau juga hasil kebudayaan yang dekat dengan para pendengar-Nya. Dengan suatu hal yang tidak asing dengan kehidupannya, hal ini akan memudahkan mereka mengerti dan memahami apa yang diajarkan oleh Yesus. Dalam pengajaran-Nya, Yesus pun mengajarkan bahwa di dunia ini selalu ada yang baik dan jahat. Para pengikut-Nya akan selalu diperhadapkan dengan berbagai tawaran dan kompromi dunia yang bisa membawa jauh dari Tuhan atau tetap setia kepada Tuhan. Perumpamaan yang diberikan Yesus kali ini bertujuan untuk mengingatkan pengikut-Nya agar tidak terkejut jika melihat kejahatan di dunia sehingga mereka memiliki sikap yang tepat untuk mengambil keputusan dan hidup di dalam kebenaran.
Matius 13:1-9 menceritakan perumpamaan tentang seorang penabur. Penabur memiliki benih yang sama-sama bagus; seharusnya bisa tumbuh di mana saja, tetapi tetap bergantung pada media tanahnya. Benih itu seperti firman Tuhan; benih yang ditabur sama, tetapi bergantung pada hati dan kemampuan dari pendengarnya untuk mendengar dan memahami firman Tuhan.
Ada 4 tipe tanah tempat benih jatuh:
- Tanah di pinggir jalan: Benih yang jatuh di pinggir jalan tidak tahan lama, langsung hilang sebelum sempat tumbuh karena dimakan burung yang menjadi simbol kuasa lain.
- Tanah berbatu-batu: Benih yang jatuh di tanah berbatu-batu tidak memiliki akar yang kuat sehingga saat baru tumbuh langsung layu oleh panas matahari karena tanahnya tipis dan berbatu. Matahari yang seharusnya memberi kehidupan bisa membinasakan jika dasar tanahnya tidak kuat.
- Tanah bersemak duri: Benih yang jatuh di tanah bersemak duri, saat bertumbuh terhimpit oleh semak duri sehingga langsung mati. Himpitan semak duri itu ibarat himpitan keinginan pribadi dan tipu daya dunia.
- Tanah yang baik: Benih yang jatuh di tanah yang baik dapat tumbuh subur karena berakar kuat dan tidak ada gangguan, sehingga dapat berbuah lebat.
Dari keempat jenis tanah ini yang digambarkan sebagai hati manusia, yang terpenting bukan hanya mendengar, melainkan sungguh-sungguh mendengarkan sehingga mampu melakukan firman Tuhan dalam kehidupan. Memang untuk hal itu membutuhkan perjuangan yang sangat keras agar bisa menjadi benih yang tumbuh dan menghasilkan buah yang baik. Penting untuk memelihara hati yang subur, tetapi terkadang kesibukan diri, tawaran dunia, dan pikiran sendiri dapat menjauhkan dan menutup hati dari firman Tuhan.
Refleksi Pamong
Firman Tuhan adalah dasar kehidupan bagi semua orang percaya. Oleh karena itu, proses mendengarkan dan melakukan firman Tuhan adalah proses yang harus terjadi secara konsisten dan terus-menerus. Akan tetapi, pada zaman sekarang proses itu sering tergantikan oleh kesibukan diri atau godaan media sosial yang menjadikan manusia tidak berhenti scrolling. Algoritma media sosial menyajikan konten yang sesuai dengan minat penggunanya sehingga membuatnya susah untuk berhenti karena selalu ada video atau berita menarik lainnya. Berbeda dengan membaca Alkitab, firman Tuhan sering kali dianggap sebagai hal yang membosankan dan tidak menarik.
Firman Tuhan menjadi bagian penting bagi kehidupan para remaja karena mengajarkan kebenaran dan membentuk karakter baik bagi mereka. Oleh karena itu, gereja melalui para pamong juga bertanggung jawab untuk menceritakan dan mengajarkan firman Tuhan agar menarik bagi hati para remaja. Dengan demikian, firman Tuhan itu akan tumbuh dengan baik dan diikuti dengan konsistensi para remaja untuk mendengar serta melakukan firman Tuhan tanpa gangguan media sosial atau kesibukan diri.
Tujuan:
Setelah menganalisis konteks perikop, remaja mampu mengkritisi hal-hal apa saja (seperti gawai/gadget, pergaulan, atau kemalasan) yang sering menjadi ‘semak duri’ bagi pertumbuhan rohani mereka secara logis.
Pendahuluan
Permainan: “The Squeeze Box”
Bahan yang disiapkan:
- Kardus air mineral atau kardus apa pun yang berukuran sedang.
- 1 buah tanaman dalam polybag, bisa berupa bibit tanaman asalkan sudah ada bagian yang bertumbuh.
- Beberapa lembar kertas koran atau kertas bekas yang dipotong sekitar 10×10 cm.
Cara Bermain:
- Bibit tanaman diletakkan di dalam kardus air mineral.
- Anak remaja dibagikan kertas koran atau kertas bekas, masing-masing 3-4 lembar.
- Minta anak remaja untuk menuliskan label “semak duri” yang sering mereka lakukan, seperti: tuntutan nilai selalu bagus, game online, kecanduan medsos, insecure, FOMO, pacaran, skincare, belanja kekinian, malas mengerjakan tugas sekolah, atau tugas di rumah, dll.
- Masing-masing kertas ditulisi 1 semak duri. Jadi, 1 remaja bisa menuliskan 3-4 semak duri di kertas yang dibagikan kepada mereka.
- Setelah selesai menuliskan label semak duri, mintalah remaja untuk meremas-remas kertas tersebut. Lalu, masukkan kertas-kertas itu ke dalam kardus berisi tumbuhan.
- Jika semua sudah memasukkan kertas-kertasnya ke dalam kardus, tekan kertas-kertas tersebut sampai memenuhi kardus sehingga akan menekan tanaman di dalam kardus tersebut.
- Setelah itu, minta remaja untuk melihat kondisi tanaman di dalam kardus. Apakah terlihat tertutup kertas atau menjadi bengkok?
Cerita dan Penerapan
Adik-adik, kardus ini ibarat hati kita dan tanaman yang ada di dalamnya adalah firman Tuhan yang diajarkan atau didengar oleh adik-adik. Firman Tuhan itu seperti tanaman, butuh tempat untuk bisa berakar dan bertumbuh subur lalu menghasilkan buah. Firman Tuhan tadi sempat mendapatkan tempat dan cahaya matahari yang memberi pengharapan agar dapat bertumbuh. Ternyata, tak lama kemudian ada banyak hal yang menghimpitnya, yaitu hal-hal yang menyita fokus dan perhatian adik-adik. Awalnya karena butuh hiburan sejenak supaya tidak stres dengan tugas sekolah, tetapi akhirnya malah kecanduan. Akibatnya, hal ini mengalihkan perhatian dari firman Tuhan dan fokusnya hanya pada dunia dan kesenangan semata.
Beberapa contoh semak duri yang menyita fokus dan perhatian dari firman Tuhan, seperti yang dimasukkan di kotak tadi:
- Tuntutan nilai harus selalu bagus. Adik-adik membaca pesan WhatsApp di grup remaja jika diminta melayani di ibadah minggu. Tetapi rasa cemas tidak punya waktu untuk mengerjakan tugas sehingga tidak mendapat nilai paling bagus atau juara kelas bisa membuat adik-adik mengesampingkan pelayanan kepada Tuhan.
- Game online. Adik-adik ingat lagu “Baca Kitab Suci, Doa Tiap Hari Kalau Mau Tumbuh”. Tetapi ternyata saat di rumah, waktunya habis untuk bermain game online sampai larut malam. Sehingga lupa dan tidak pernah membaca Alkitab di rumah, berdoa pun sekadar formalitas karena mau makan atau tidur, dan juga tidak mendengar perintah orang tua karena telanjur asyik bermain game online.
- Kecanduan Media Sosial. Di ibadah, adik-adik mendengar cerita bahwa adik-adik berharga di mata Tuhan. Tetapi sampai rumah langsung menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat media sosialnya, juga melihat sudah berapa yang menekan tombol like pada unggahan konten yang dibuat adik-adik.
(Pamong bisa memberikan contoh yang lain).
Refleksi
Akibat tekanan dari semak duri itu, tumbuhan bisa layu dan mati. Begitu juga firman Tuhan dalam hati kita. Semak duri adalah hal-hal yang dianggap biasa dilakukan sehingga dibiarkan tumbuh terlalu besar dan menyita ruang di hati kita. Firman Tuhan tidak bisa tumbuh subur bukan karena dicabut, melainkan karena tidak ada lagi ruang di hati kita.
Oleh karena itu, mari melihat semak duri yang paling mengganggu di dalam diri adik-adik. Setelah ketemu, semak duri itu harus dicabut agar tidak lagi mengganggu dan menghimpit firman Tuhan dalam hati adik-adik. Dengan demikian, hati adik-adik tidak lagi menjadi tanah bersemak duri, melainkan menjadi tanah yang subur tempat firman Tuhan dapat bertumbuh subur dan berbuah lebat.
Aktivitas
Pamong membagikan Kartu Komitmen “Memangkas Semak Duri” kepada masing-masing remaja. Pamong bisa mendesain sendiri kartu tersebut sesuai kreativitas masing-masing.
Di dalam kartu tersebut berisikan:
Nama : ______________________________
Tanggal : ______________________________
Semak Duri Dalam Diri Saya:
Semak duri yang sering menghimpit pertumbuhan iman saya adalah …………..
(contoh: bermain game online, kecanduan medsos, dll.)
Rencana Pemangkasan:
Untuk memberi ruang bagi firman Tuhan, maka saya berkomitmen …………….
(contoh: mengurangi bermain ponsel menjadi maksimal 2 jam sehari, mengurangi durasi bermain medsos maksimal 1 jam sehari, dll.)
Doa:
Tuhan Yesus, bantulah saya memangkas semak duri dalam diri saya sehingga hati saya menjadi tanah yang subur untuk firman Tuhan.