Melakukan Dengan Penuh Kesadaran Tuntunan Ibadah Remaja 5 Juli 2026

22 June 2026

Tahun Gerejawi: Pekan Anak
Tema: Ketaatan
Judul: Melakukan Dengan Penuh Kesadaran

Bacaan: Kejadian 22:1-14
Ayat Hafalan: “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang berkenan kepada Tuhan.” (Kolose 3:20)

Lagu Tema: KJ. 424 Yesus Menginginkan Daku

POV: Kepatuhan Ishak terhadap Abraham menjadi teladan bagi anak-anak Tuhan di masa kini; patuh berarti mendengar dan mengikuti perintah orang tua.

Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Kejadian 22:1-14

Abraham dikenal sebagai Bapa Orang Beriman. Ia dipanggil oleh Allah untuk taat kepada-Nya, dimulai dari meninggalkan tempat kelahirannya. Ketaatannya membuahkan janji Allah, yaitu tanah perjanjian dan keturunan yang besar. Setelah menerima semua pemenuhan janji tersebut, Allah menguji proses kesetiaan dan ketaatan Abraham. Mengapa Abraham diuji, apakah ia kurang taat? Tentu bukan seperti itu. Setelah mendapat semua yang dijanjikan kepadanya, Allah ingin melihat apakah Abraham akan tetap taat dan setia.

Allah menguji Abraham dengan menghendaki ia mempersembahkan Ishak, anak yang dijanjikan dan dinantikan itu, sebagai korban bakaran. Perintah ini sangat tiba-tiba dan tidak beralasan. Sama seperti saat mendapat perintah yang pertama untuk meninggalkan tanah kelahirannya, saat menerima perintah kali ini pun Abraham tidak menyanggah atau menanyakan alasannya kepada Allah. Bisa saja hatinya terasa pedih, tetapi hal itu tidak terungkap. Abraham tetap memilih taat melakukan perintah Allah, walau tidak mudah untuk melakukannya. Abraham menyiapkan semuanya sendiri: ia bangun pagi-pagi, mempersiapkan keledai beban, memanggil kedua bujangnya dan Ishak, serta membelah sendiri kayu yang akan dipakai untuk korban bakaran. Semuanya dilakukannya sendiri, tanpa bantuan siapa-siapa. Tampaknya itulah cara ia mengungkapkan kepedihan hatinya.

Setelah semua selesai, Abraham beserta Ishak dan kedua bujangnya berangkat ke Gunung Moria. Sesampainya di Moria, bujangnya ditinggalkan dan ia melanjutkan perjalanan bersama Ishak. Perjalanan ke gunung itu dilakukan di dalam diam, seolah masing-masing bergumul dengan hatinya sendiri-sendiri. Abraham dengan kepedihannya dan Ishak dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. Sampai akhirnya, suasana diam itu diinterupsi oleh Ishak yang menanyakan di manakah anak domba yang akan dikorbankan itu. Pertanyaan ini menjadikan Abraham semakin pedih. Dengan diplomatis ia menjawab bahwa Allah akan mempersiapkan anak dombanya. Jawaban Abraham ini adalah jawaban iman dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, walau sebenarnya ia tidak mengetahui apa rencana dan alasan Allah untuk dirinya.

Menjelang Abraham akan menyembelih Ishak, tiba-tiba malaikat Tuhan datang dan memerintahkan Abraham untuk membatalkannya. Ishak tidak jadi disembelih dan sebagai gantinya ada domba jantan yang tanduknya tersangkut di dalam belukar. Domba itulah yang akhirnya menjadi korban bakarannya. Sekali lagi, ketaatan Abraham berbuah anugerah baginya. Allah kembali memberikan janji-Nya kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi sangat banyak, serta memberkati Abraham dengan berlimpah ruah. Atas semua yang telah terjadi, Abraham menamai tempat itu “Tuhan Menyediakan”, karena Allah menyediakan apa yang menjadi kegundahan hati Abraham untuk terus taat melakukan perintah Allah. Ketaatan dan kesetiaan Abraham membuahkan anugerah Allah bagi kehidupannya.

Refleksi Pamong
Ketaatan adalah sikap tunduk, patuh, dan setia kepada aturan atau otoritas tertentu (seperti Tuhan Allah) yang didasari oleh hati, kepercayaan, dan kasih sayang. Ketaatan dilakukan secara sukarela, bukan dengan paksaan. Inilah yang diteladankan oleh Abraham, yaitu dengan taat melakukan perintah Allah. Begitu juga Ishak yang mau taat melakukan perintah bapanya, walau perintah itu adalah sesuatu hal yang sebenarnya tidak mudah untuk dilakukan.

Pada fase remaja, anak-anak sedang mencari jati diri sehingga ingin bertindak mandiri dan mempertanyakan aturan yang ada. Dalam konteks seperti ini, sering kali anak remaja dilabeli sebagai anak yang tidak taat melakukan perintah. Padahal sebenarnya mereka bukan memberontak, melainkan hanya ingin memiliki identitas diri dan pengakuan. Oleh karena itu, gereja melalui para pamong memiliki peran untuk mendampingi proses perkembangan anak remaja yang sedang mencari jati diri. Sehingga, di tengah proses perkembangan yang terjadi, mereka tetap memiliki ketaatan, baik kepada orang tua maupun kepada Allah, sebagai bentuk disiplin rohani.

Tujuan: Melalui tulisan refleksi, remaja mampu menyusun sebuah pernyataan komitmen untuk menjadikan ketaatan sebagai bagian dari disiplin rohani dengan sungguh-sungguh.

Pendahuluan
Permainan: Apa yang tidak aku sukai?

  1. Pamong menyiapkan kertas karton yang ditempel di depan ruangan.
  2. Pamong membagikan sticky note kepada para remaja dan meminta mereka menuliskan “pekerjaan rumah yang tidak mereka sukai”. Remaja bisa menuliskan satu atau lebih. Contoh: mencuci baju, menyetrika seragam, menyapu rumah, dll.
  3. Pamong memanggil remaja ke depan satu per satu (bergantian) untuk menempelkan sticky note di karton sambil bercerita tentang:
    • Alasan tidak menyukai pekerjaan rumah tersebut.
    • Apa yang dilakukan jika orang tua meminta remaja melakukan pekerjaan rumah tersebut?
    • Jika terpaksa melakukan pekerjaan rumah itu, apa yang akan mereka lakukan?

Cerita dan Penerapan
Adik-adik, Abraham harus melakukan hal yang tidak menyenangkan baginya, yaitu mengorbankan Ishak, anak yang dinantikannya. Tentunya itu adalah perintah yang berat untuk dilakukan oleh Abraham. Ia sudah menunggu sangat lama sampai Ishak lahir. Saat sudah bertumbuh dewasa, ia harus mengorbankan Ishak sebagai korban bakaran. Tentu hal itu sangat tidak mudah dan sebenarnya menjadi hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan oleh Abraham. Kita lihat bersama, bagaimana reaksi Abraham saat menerima perintah itu? Ia taat, tidak menyanggah, dan mau melakukan perintah Allah. Abraham mau melakukannya dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan. Hal ini berarti Abraham taat kepada perintah Allah.

Begitu juga dengan Ishak. Pada saat itu ia sudah dewasa; ia bisa menolak atau mempertanyakan apa yang diperintahkan oleh Abraham, bapanya, jika hal itu tidak menyenangkan atau berat untuk dilakukannya. Ia sempat bertanya di mana domba yang akan dikorbankan. Akan tetapi, saat Abraham menjawab bahwa Allah akan menyediakan, Ishak tetap taat melakukan perintah bapanya. Ishak tetap memikul kayu bakar sampai ke atas Gunung Moria. Ishak pun tetap taat saat ia diikat dan ditaruh di atas kayu bakar serta hendak disembelih oleh Abraham sebagai korban bakaran. Ishak mau melakukan perintah itu dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan, walaupun hal itu tidak menyenangkan serta tidak mudah. Hal ini berarti Ishak taat kepada perintah bapanya.

Refleksi
Adik-adik, bagi Abraham, ketaatan kepada perintah Allah adalah segalanya bagi dia. Begitu juga bagi Ishak, taat kepada perintah bapanya adalah segalanya bagi dia. Ia percaya bahwa bapanya akan memberikan perintah yang baik dan benar baginya. Ia percaya bahwa perintah yang diberikan bapanya tidak akan dengan sengaja mencelakakannya, walaupun perintah itu tidak menyenangkan dan berat untuk dilakukan karena ia akan dijadikan korban bakaran. Ishak percaya bahwa taat kepada perintah bapanya adalah suatu kebenaran.

Demikian juga dengan orang tua adik-adik, saat memberikan perintah kepada adik-adik untuk melakukan pekerjaan rumah, bukan berarti mereka tidak sayang kepada adik-adik. Pekerjaan rumah yang diperintahkan untuk dilakukan mengajarkan kepada adik-adik agar peka dan memiliki tanggung jawab. Saat adik-adik mau melakukan pekerjaan rumah dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan—walaupun hal itu tidak menyenangkan bagi adik-adik—berarti adik-adik sudah mau taat kepada perintah orang tua dan melakukan bagian yang benar dalam kehidupan.

Aktivitas
Anak remaja menulis refleksi tentang:

  1. Mengapa mereka pernah tidak taat melakukan perintah orang tua.
  2. Apa yang mereka rasakan saat tidak taat.
  3. Membuat komitmen untuk taat kepada perintah orang tua, salah satunya adalah melakukan pekerjaan rumah yang selama ini tidak disukai.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak