Saat Ketupat Menjadi Jembatan Lintas Iman dan Ekologi Kupatan di GKJW Jemaat Menganti

15 May 2026

Di tengah perayaan dan penghayatan hari besar keagamaan yang saling berdekatan, sebuah pemandangan menyejukkan menyeruak dari sudut Kabupaten Gresik. Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Menganti, yang terletak di kawasan Perumahan Palem Pertiwi, berubah menjadi ruang perjumpaan hangat bagi ratusan warga lintas keyakinan dalam gelaran “Kupatan Kebangsaan”, pada hari Jumat, 10 April 2026.

Acara kupatan yang diinisiasi oleh kolaborasi antara warga Jemaat Gresik, GKJW Jemaat Menganti serta komunitas GUSDURian Gresik dan ini bukan sekadar seremoni makan ketupat bersama, melainkan sebuah ajang untuk membangun perjumpaan di tengah segala perbedaan yang ada. Apalagi pada tahun 2026 ini, momentumnya memang terasa magis karena menjadi titik temu tiga hari besar sekaligus: Idulfitri, Paskah, dan Nyepi.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya mengawali kegiatan, namun suasana mencapai puncak emosional saat “Nyanyian Perdamaian” berkumandang. Lirik yang menekankan kasih sayang dan penghormatan antarumat beragama seolah mengukuhkan pesan Pdt. Lantikaningrum tentang konsep Tunggal Ambekan.

“Dalam kidung kami, ada istilah tunggal ambekan. Artinya, napas kita semua sama. Siapa pun kita, pada dasarnya kita membutuhkan hal yang sama: hidup damai berdampingan,” ujar Pdt. Lantikaningrum dengan nada dalam.

Senada dengan itu, Pdt. Dhaniel Rinadi Nugrahawan menekankan pentingnya mendesentralisasi pesan perdamaian ini. Menurutnya, misi toleransi tidak boleh berhenti di pusat kota, tetapi harus merambah ke jemaat-jemaat di daerah agar getarannya terasa langsung oleh masyarakat akar rumput.

Aan Anshori, penggerak keberagaman sekaligus akademisi dari Universitas Ciputra, hadir sebagai pemantik dalam sesi “Jagongan Lintas Iman”. Ia menyoroti bagaimana ketupat—sebuah kearifan lokal Jawa—mampu meluruhkan sekat-sekat dogmatis.

“Ketupat adalah alat pemersatu. Di sini, ia melampaui identitas agama,” jelas Aan. Ia juga melemparkan tantangan positif bagi identitas Gresik ke depan. “Gresik harus memposisikan diri tidak hanya sebagai Kota Santri, tapi juga Kota Toleransi. Seharusnya, semakin santri seseorang, ia akan semakin toleran.”

Satu hal yang membedakan acara ini dengan hajatan pada umumnya adalah keberanian panitia menerapkan konsep Zero Waste (minim sampah). Di bawah komando Yuni selaku Koordinator Konsumsi, tak ada tumpukan botol plastik atau sterofom yang mengotori area gereja. Teh dan kopi disajikan dalam wadah besar, sementara para undangan telah diimbau membawa botol minum (tumbler) sendiri. Hidangan tradisional seperti palawija dan ketupat disuguhkan dengan alas daun pisang yang ramah lingkungan.

Miladiyah, penggerak GUSDURian Gresik, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan manifestasi dari gerakan JAGAT (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi). “Toleransi tidak hanya soal hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan manusia dengan alam. Menjaga bumi adalah tugas kolektif lintas iman,” tegasnya.

Meski Pdt. Lantikaningrum mengakui tantangan dalam mengubah kebiasaan jemaat untuk sepenuhnya bebas plastik masih besar, langkah awal di Jemaat Menganti ini menjadi gebrakan yang penting.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh-tokoh dari berbagai agama. Di bawah langit Menganti, warga tidak hanya pulang dengan perut kenyang oleh sayur ketupat, tetapi juga dengan harapan baru bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan menjaga alam adalah bentuk ibadah yang nyata.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak