Perubahan nama ini didasari oleh revisi Tata Gereja GKJW tahun 2025. Untuk memahami dinamika
perubahan tersebut, berikut uraiannya.
Trilogi Gereja sebagaimana dikenal dalam pengistilahan umum terdiri atas Koinonia, Marturia, dan
Diakonia. Dalam konteks GKJW, trilogi ini berkembang menjadi Pancalogi dengan tambahan dua bidang:
Teologi dan Penatalayanan. Pada Tata Gereja Tahun 1996, istilah-istilah Yunani tersebut diterjemahkan ke
dalam Bahasa Indonesia sebagai upaya kontekstualisasi: Koinonia menjadi Persekutuan, Marturia menjadi
Kesaksian, dan Diakonia menjadi Pelayanan Cinta Kasih.
Dari perubahan itulah lahir perayaan iman yang dikenal sebagai Bulan Kesaksian dan Pelayanan (Kespel).
Bulan ini dibuka pada Hari Kenaikan Tuhan Yesus dan berlangsung selama satu bulan, menandai peran
gereja sebagai perpanjangan tangan persekutuan murid-sahabat Kristus, rekan kerja Tuhan di dunia, dalam
mewujudkan panggilannya. Bulan Kespel menjadi wujud nyata, baik secara simbolis maupun aktual,
kehadiran trilogi gereja di tengah dunia yang terus berubah.
Dalam Revisi Tata Gereja GKJW 2025, istilah yang dipakai kembali menjadi Koinonia, Marturia, dan
Diakonia. Dalam kaitannya dengan Bulan Kesaksian dan Pelayanan, perubahan ini didasari oleh beberapa
pertimbangan berikut.
A. Kembali pada semangat Tata Gereja sebagai dokumen teologis-eklesiologis. Tata Gereja GKJW telah
mengalami beberapa kali perubahan: pertama pada 1932, kemudian 1948/1949, 1967/1968, 1996, dan
terakhir 2025. Istilah Koinonia, Marturia, dan Diakonia merupakan bahasa teologis-eklesiologis yang
dikenal secara umum di kalangan Kristen. Mengembalikan istilah ini bukan bermaksud menghapus
kekhasan penamaan GKJW, melainkan menggunakan kembali istilah yang sejak awal memang dipakai oleh
GKJW, sekaligus menghubungkan gereja dengan semangat ekumene bersama seluruh rekan kerja Tuhan
di dunia.
Dalam Tata Gereja 2025, GKJW menyatakan keikutsertaannya dalam karya Tuhan bersama seluruh ciptaan,
termasuk gereja dari berbagai denominasi. Penggunaan istilah ini adalah pernyataan bahwa kita memiliki
bahasa yang sama dengan seluruh rekan sekerja Tuhan yang mengupayakan panggilan yang sama. Pada
kenyataannya, Koinonia, Marturia, dan Diakonia adalah panggilan gereja yang terus dinamis seiring
perubahan konteks (misalnya, kini kita mengenal berbagai model diakonia). Perubahan nama ini mengajak
warga untuk kembali melihat bahwa panggilan teologis-eklesiologis gereja selalu berkembang, tetapi
prinsip dasarnya tetap.
B. Kontekstualisasi dilakukan pada muatan, bentuk, dan sasaran kegiatan. Tantangan kontekstual gereja
bukan sekadar soal nama, melainkan pada aksi nyata yang dilakukan untuk mewujudkan Trilogi dan
Pancalogi gereja. Hal inilah yang dianggap lebih substantif. Selain itu, upaya kontekstualisasi (yang lebih
tepat disebut partikularisasi atau pengkhususan) tercermin dalam akronim Bulan Marturia dan Diakonia
menjadi Bulan Mardika. Penyebutan ini menggemakan panggilan GKJW untuk mandiri (interdependensi),
dalam teologi, daya, dan dana. Sekaligus memanggil GKJW bahwa kamardikan GKJW dapat menjadi jalan berkat,
sebagaimana tercermin dalam Sejarah GKJW, ketika sebuah jemaat mardika, maka orang lain ikut
datang dan diberkati dengan pertumbuhan jemaat tersebut.
C. Memori kolektif warga tetap terjaga. Penggunaan istilah baru tidak menghapus memori kolektif yang
selama ini dihayati warga GKJW melalui penamaan Persekutuan, Kesaksian, dan Pelayanan Cinta Kasih.
Sangat dimungkinkan warga masih akan menyebutnya sebagai Bulan Kespel, sebagaimana hingga hari ini
orang masih menyebut Sondach School untuk Kebaktian Anak dan Remaja, Serokan untuk Persembahan,
Kumpulan untuk Kebaktian, atau KW untuk KPPW. Penyebutan demikian dapat diterima sebagai
penyebutan kultural yang dipakai sehari-hari; untuk penyebutan resmi, disesuaikan dengan Tata Gereja
2025. Secara sederhana, istilah lama tentu masih dapat digunakan. Bersama dengan itu, Majelis Jemaat
mulai memperkenalkan Bulan Mardika secara bertahap seiring waktu.
Semoga perubahan ini membawa GKJW kembali pada panggilan gerejawinya sebagai tubuh Kristus yang
dipanggil hadir di tengah dunia, menghadirkan karya kasih dan pendamaian Allah. Sukacita Kristus
menemani upaya kita menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia.