Purna Tugas Pendeta Chrysta Andrea

11 May 2026

Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Kapel IPTh. Balewiyata, Kantor Majelis Agung GKJW pada hari Senin, 11 Mei 2026. Keluarga besar pendeta dan karyawan Kantor Majelis Agung, bersama perwakilan jemaat yang pernah dilayani serta tamu undangan, bersekutu untuk mengikuti kebaktian Emeritasi Pdt. Chrysta Budi Prasetyanto Andrea, M.Th. Kebaktian yang menandai purnatugas sebagai pendeta aktif ini dilayani langsung oleh Ketua Majelis Agung GKJW, Pdt. Natael Hermawan Prianto, S.Si, MBA. beserta perwakilan anggota Pelayan Harian Majelis Agung GKJW.

Kebaktian dan prosesi emeritasi tersebut dilangsungkan di tempat yang menjadi medan pengabdian terakhir beliau sebagai pendeta aktif, di kantor Majelis Agung GKJW. Kehadiran para kolega pendeta, kolega dari jaringan lintas iman, serta para pelayan Tuhan dari berbagai daerah memberikan warna tersendiri, menggambarkan luasnya cakrawala pelayanan yang telah ditempuh oleh Pdt. Chrysta selama ini. Berbagai ungkapan syukur dan testimoni yang muncul selama acara memperlihatkan kedalaman relasi yang telah beliau bangun.

Pdt. Chrysta Budi Prasetyanto Andrea dilahirkan di Kediri pada 10 Mei 1966. Panggilannya untuk menjadi seorang pendeta di lingkup pelayanan GKJW mulai dipupuk saat beliau masih muda dan dipertegas ketika menempuh pendidikan di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) yang beliau selesaikan pada tahun 1991. Kesungguhan tekad dan kesetiaan dalam mempersiapkan diri selama berada di bangku perkuliahan serta menjalani masa vikariat, membawa beliau pada momen penahbisan pendeta yang dilaksanakan dalam Sidang Majelis Agung di GKJW Jemaat Mojowarno pada 20 Juni 1993.

Setelah resmi menjadi pendeta aktif, beliau menjalani perjalanan panjang dari satu jemaat ke jemaat lain, serta penugasan non-parokial di ruang lingkup pelayanan GKJW. Beliau mengawali tugas pelayanan di GKJW Jemaat Jatiroto-MD Besuki Barat (1993-1998), lalu melayani di GKJW Jemaat Mojokerto pada tahun 1998, dan terpilih sebagai Wakil Sekretaris Umum di Kantor Majelis Agung hingga tahun 2001. Setelahnya ditugaskan untuk menempuh studi lanjut S2 (pasca sarjana), di Fakultas Teologi UKDW.

Setelah menyelesaikan studi S2 di UKDW pada tahun 2003, beliau melanjutkan pelayanan di GKJW Jemaat Ngagel-MD Surabaya Timur I (2003-2008), kemudian di GKJW Jemaat Sitiarjo-MD Malang II (2008-2016), dan mengakhiri masa aktifnya sebagai pendeta GKJW dalam penugasan sebagai Staf IPTh. Balewiyata (2016-2026).

Selama lebih dari tiga dasawarsa, Pdt. Chrysta tidak hanya berfokus pada pelayanan internal gerejawi, namun juga dikenal aktif dalam membangun jejaring lintas iman dan gerakan oikumene. Beliau memiliki kepedulian yang besar terhadap berbagai isu sosial, politik, ekonomi, hingga kelestarian ekologi, yang menjadikannya sosok pendeta yang dikenal inklusif dan progresif.

Dalam setiap langkah pelayanannya, Pdt. Chrysta senantiasa didampingi oleh istri tercinta, Ibu Selvy Yosephine Pellondo’u, yang bersama saling mengikatkan diri dalam ikatan pernikahan kudus pada 22 April 1996. Dukungan penuh dari keluarga, termasuk ketiga putra-putrinya: Bethari Putri Hyang Taya, Jonathan Orlen Pellondo’u, dan Yang Nasa Asih Wikan Ati, menjadi kekuatan utama yang mengiringi perjalanan pelayanan beliau hingga masa purna tugas.

Dalam khotbah bungsu yang didasarkan pada 2 Timotius 4:1-8, Pdt. Chrysta menyampaikan refleksi mendalam mengenai tanggung jawab setiap pelayan Tuhan untuk senantiasa mewartakan kebenaran Firman Allah di segala waktu. Beliau menekankan bahwa panggilan seorang pelayan tidaklah terbatas pada situasi yang nyaman saja, melainkan harus tetap teguh berdiri meskipun berhadapan dengan berbagai macam tantangan, penolakan, maupun pergeseran nilai di tengah zaman yang terus berubah. Bagi beliau, kesetiaan pada tugas pemberitaan Injil adalah mandat mutlak yang harus dijaga hingga garis akhir pelayanan.

Refleksi tersebut diperkuat dengan mengajak jemaat belajar dari perjalanan hidup Rasul Paulus yang memandang seluruh eksistensinya sebagai sebuah “liturgi yang hidup”. Pdt. Chrysta menggarisbawahi bahwa pelayanan sejati tidak boleh terjebak dalam sekat-sekat ritualitas di atas mimbar semata, melainkan harus termanifestasi dalam perilaku dan integritas hidup keseharian. Terinspirasi dari ketegasan Paulus, beliau juga mengajak setiap orang untuk berani menunjukkan karakter yang jujur dan konsisten; berani berkata “Ya” jika memang ya, dan “Tidak” jika memang tidak, sebagai bentuk kesaksian iman yang nyata di tengah dunia.

Lebih lanjut, di tengah khotbahnya, Pdt. Chrysta memberikan pesan yang sangat relevan mengenai kehidupan bersama. Beliau mengajak segenap warga jemaat dan pelayan Tuhan untuk senantiasa menjaga kerukunan serta merawat keharmonisan di tengah segala perbedaan yang ada. Baginya, kemajemukan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus disyukuri dan dikelola dengan kasih, agar gereja tetap menjadi ruang yang sejuk dan inklusif bagi siapa saja, sebagaimana semangat oikumene yang selama ini beliau perjuangkan.

Momen puncak kebaktian ditandai dengan prosesi emeritasi yang dipimpin langsung oleh Pdt. Natael Hermawan Prianto, S.Si., MBA. serta pembacaan Surat Keputusan emeritasi oleh Sekretaris Umum: Pdt. Dr. Agung Siswanto, M.Th. Suasana penuh haru menyelimuti kapel saat doa bersama dipanjatkan oleh para pendeta yang hadir, sebagai tanda pelepasan tugas struktural sekaligus dukungan doa untuk babak baru kehidupan beliau.

Meskipun telah memasuki masa purna tugas secara kelembagaan, status kependetaan beliau tetap melekat sesuai dengan Tata Gereja dan Pranata GKJW. Sebagai Pendeta Emeritus, Pdt. Chrysta Budi Prasetyanto Andrea, M.Th. tetap memiliki ruang untuk berkarya dan melayani di tengah-tengah jemaat dalam kapasitas yang berbeda. Masa emeritasi ini bukanlah akhir, melainkan fase baru dalam pengabdian panjang beliau kepada Sang Kepala Gereja.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak