Mengunduh Berkat Dari Ketaatan Pancaran Air Hidup 8 Mei 2026

8 May 2026

Bacaan: Kejadian 7 : 1 – 24  |  Pujian: KJ. 439
Nats: “Berfirmanlah TUHAN kepada Nuh, “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang benar dalam pandangan-Ku di antara orang zaman ini.” (Ayat 1)

Pada tahun 2015 ada sebuah berita viral yang mengisahkan tentang seorang bernama Mbah Sadiman. Dia adalah seorang petani dari Wonogiri, Jawa Tengah. Kisahnya viral karena dia mendedikasikan hidupnya untuk menanam dan merawat puluhan ribu pohon di lereng gunung Lawu. Mimpinya sederhana, dia ingin memulihkan vegetasi di lereng gunung Lawu yang rusak akibat kebakaran hutan. Imbasnya sumber air mati dan warga kekurangan air. Sejak saat itulah, Mbah Sadiman mulai berkomitmen menanam pohon secara mandiri. Selama lebih dari 20 tahun, ribuan pohon telah ditanam oleh Mbah Sadiman. Meskipun aksinya sempat diremehkan warga sekitar, namun dia tetap konsisten dan setia. Pada akhirnya ketekunannya membuahkan hasil yang luar biasa, yang berdampak bagi orang banyak, dan pada akhirnya dia mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah.

Bacaan firman Tuhan dalam Kejadian 7 saat ini bukan hanya kisah tentang air bah, tetapi juga tentang Nuh sebagai pribadi yang taat kepada Allah. Pada saat itu, ada banyak orang yang tidak lagi taat kepada Allah, sehingga dunia dipandang telah rusak serta dipenuhi dengan kejahatan oleh Allah. Manusia sudah tidak mau mendengar suara Allah, mereka lebih memilih hidup menurut keinginan mereka sendiri. Air bah adalah cara Allah untuk melakukan pembaruan kembali dunia yang telah rusak. Namun di tengah rusaknya dunia yang dipenuhi kejahatan, Nuh berbeda dari kebanyakan orang. Ia adalah pribadi yang taat kepada Allah, hidupnya benar, tidak bercela, dan berjalan seturut kehendak Allah. Melalui ketaatannya itulah, ia mengunduh berkat yang besar, yaitu keselamatan bagi diri dan keluarganya (Ay. 1).

Nuh tidak mengunduh berkat karena keberuntungan, tetapi karena ketaatan. Pada saat ini kita hidup di zaman dimana banyak orang lebih memilih menuruti hawa nafsunya untuk memuaskan diri sendiri daripada memilih taat kepada Tuhan. Taat membutuhkan komitmen yang kuat, sehingga kita mampu untuk melakukan hal yang benar dan sesuai kehendak Tuhan. Sekalipun banyak tantangan, godaan, atau bahkan kita diremehkan orang banyak, sebagai umat Tuhan, kita harus selalu teguh dalam iman. Karena buah dari ketaatan adalah berkat dari Tuhan. Berkat bukan hanya materi, tetapi perlindungan, penyertaan, dan pemeliharaan dari Tuhan. Amin. [Yefta].

“Setia dan taat di dalam Tuhan akan membuahkan berkat.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak