Bacaan: Kejadian 12 : 1 – 7 | Pujian: PKJ. 241
Nats: “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dan dari sanak saudaramu, dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, memberkati engkau, serta membuat namamu masyur, dan engkau akan menjadi berkat.” (Ayat 1-2)
Tahun baru sering diwarnai dengan semangat baru, target baru, dan harapan-harapan besar. Namun, di balik semua itu, ada satu kenyataan yang tidak bisa kita abaikan: kita melangkah ke sesuatu yang belum kita kenal. Tahun baru seperti tanah asing, tempat di mana peta hidup belum tergambar jelas. Sama seperti Abram yang dipanggil Tuhan keluar dari tanah kelahirannya, kita pun dipanggil masuk ke wilayah yang belum kita ketahui. Sama seperti Abram, kita diajak keluar dari yang biasa, menuju tempat yang belum pernah kita kenal. Tidak dengan peta, tetapi dengan janji.
Tuhan tidak berkata ke Abram, “Aku akan tunjukkan dulu, baru kamu pergi.” Tetapi justru sebaliknya: “Pergilah… ke negeri yang akan Kutunjukkan” (Ay. 1). Abram tidak diberi rute. Tetapi ia diteguhkan dengan kalimat, “Aku akan menyertaimu.” Itu lebih cukup dari apapun. Karena dalam langkah iman, penyertaan selalu penting. Di tahun yang baru ini, kita mungkin belum menjadi seperti versi diri yang kita harapkan. Sama seperti Abram yang belum menjadi “Abraham”, namun Tuhan tetap berbicara kepada kita. Ia tetap menjanjikan sesuatu yang besar. Iman mendahului pemahaman. Kita tidak perlu tahu semuanya untuk percaya. Hal pertama yang Abram lakukan saat sampai di tanah itu bukan membangun rencana, tetapi membangun mezbah (Ay. 8). Ia menyembah Tuhan sebelum merancang. Ia berserah sebelum menguasai. Ia mengakui, “Ini tanah asing, tetapi Tuhan hadir di sini.”
Memasuki tahun ini, mari kita tidak sekadar ingin menjadi kuat atau berhasil namun mari kita menjadi percaya. Kita belajar melangkah meski belum tahu ke mana. Mari kita diam sejenak, membangun mezbah di dalam hati, dan berkata, “Tuhan, Engkau menyertai, tanah seasing apapun akan terasa cukup.” Karena yang membuat kita berani bukan karena kita tahu arah, melainkan karena kita percaya Tuhan berjalan bersama kita, Dia setia menemani kita, dan itu saja sudah cukup. Tahun baru bukan tentang apa yang harus kita capai, tetapi tentang di mana kita akan mengalami Tuhan yang menyertai kita. Amin. [MEA].
“Tanah asing itu tidak pernah benar-benar asing, karena Tuhan sudah ada di sana lebih dulu, menunggu kita datang.”