Bacaan: 2 Korintus 4 : 16 – 18 | Pujian: KJ. 454
Nats: “Sebab itu, kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari.” (Ayat 16)
Seseorang dalam keadaan tertentu bisa merasa tertekan oleh masalah yang sedang dia hadapi. Dia menjadi seperti tidak berdaya, putus asa, dan mengeluh, berpikir bahwa Tuhan sedang tidak berpihak padanya, tidak memedulikan keadaannya bahkan meninggalkannya. Seseorang yang memiliki perasaan demikian dipastikan dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, sedang “nglokro” atau tidak mempunyai semangat, kecewa, putus asa, dan merasa tidak berharga.
Perikop yang kita baca saat ini merupakan nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, untuk tidak tawar hati, kecewa, dan putus asa pada saat mengalami berbagai macam penderitaan. Paulus juga mengalami penderitaan secara fisik, tidak hanya menderita dalam penjara karena pemberitaan Injil, namun ia juga mengalami berbagai penderitaan fisik lainnya. Secara lahiriah mudah dipahami, kondisi Paulus semakin lama semakin merosot, tetapi ia tidak tawar hati, bahkan imannya semakin kuat. Manusia batiniahnya diperbaharui Allah dari hari ke hari (Ay. 16). Penderitaan yang ia alami sangat berat, tetapi terasa ringan. Hal ini terjadi karena Paulus membandingkan dengan kemuliaan kekal dari Allah yang melebihi segala-galanya, yang akan ia terima pada kehidupan selanjutnya (Ay. 17). Ia meyakinkan jemaat di Korintus, “Kita tahu bahwa Dia turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.” (Roma 8:28).
Kita memiliki kedewasaan iman, walaupun kita dalam kondisi carut marut, tidak sejahtera dan penuh drama kehidupan, kita tidak akan menyikapi masalah secara berlebihan yang menguras emosi dan pikiran. Jangan putus asa, hadapi dengan tenang, bukan menyerah tetapi berserah, memintalah pertolongan kepada-Nya. Jangan goyah, percayalah, Allah membersamai setiap langkah kita untuk menemukan jalan keluar. Sikap positif yang kita pancarkan itu tidak hanya menguatkan hati kita saja, tetapi juga dapat menguatkan orang lain yang menghadapi masalah. Di penghujung tahun ini, marilah kita sebagai anak-anak Allah tidak hanya memperbarui manusia lahiriah kita saja, tetapi juga terus menerus memperbarui manusia batiniah yang dikehendaki-Nya, karena Allah melihat hati kita. Amin. [DP].
“Jangan panik, jangan goyah, tetap percaya bahwa Tuhan Allah senantiasa membersamai suka duka kehidupan kita.”