Tahun Gerejawi: Paskah 6
Tema: Berita suka cita untuk semua
Judul: Natal Tidak Hanya Untuk-ku
Bacaan: Lukas 2: 8-20
Ayat Hafalan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat yaitu Kristus Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:11 TB2)
Lagu Tema:
- Kidung Siwi 143 Sambut Natal
- KJ 120 Hai Siarkan di Gunung
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Di sini kita menyaksikan bagaimana keadaan para gembala ketika menerima pemberitahuan ini. Ketika itu mereka sedang tinggal di padang, di pinggiran Betlehem, sedang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (ay. 8). Malaikat itu tidak diutus kepada imam kepala atau tua-tua (mereka belum siap menerima kabar ini), tetapi kepada sekelompok gembala miskin. Nenek moyang mereka adalah gembala. Musa dan Daud secara khusus dipanggil untuk memerintah umat Allah ketika sedang menjaga domba. Dengan contoh ini Allah ingin menunjukkan bahwa Ia masih menyukai pekerjaan yang tulus ini. Perhatikanlah:
- Mereka tidak sedang tidur di atas tempat tidur ketika berita ini disampaikan kepada mereka, tetapi sedang tinggal di padang, dan sedang berjaga-jaga.
- Pada saat itu mereka sedang bekerja, bukan sedang beribadah. Mereka sedang melakukan pekerjaan yang menjadi panggilan mereka, yaitu menjaga kawanan ternak mereka. Kita tidak luput dari kunjungan ilahi bila kita melakukan pekerjaan yang menjadi panggilan kita dengan tulus dan melibatkan Allah di dalamnya.
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka (ay. 9), epestē — berdiri di atas mereka, besar kemungkinan malaikat itu melayang di udara di atas kepala mereka.Ia memberikan kata-kata penegasan untuk menghentikan ketakutan mereka, “Jangan takut!” dan melengkapi mereka dengan sukacita yang berlimpah-limpah, Sang Juruselamat yang telah begitu lama dinanti-nantikan, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (ay. 11) – sesuai dengan nubuatan para nabi (Yesaya 9:5). Malaikat ini memberikan tanda untuk menegaskan iman mereka : “Ia terbaring di dalam palungani.” Ketika Kristus masih berada di atas muka bumi ini, Ia membuat diri-Nya sendiri berbeda, dan membuat diri-Nya ternama hanya dengan keteladanan kehinaan-Nya.
Puji-pujian malaikat-malaikat bagi Allah dan ucapan selamat mereka bagi manusia atas kesempatan yang khidmat ini (ay. 13-14). Setelah pesan ini disampaikan, tiba-tiba tampak sejumlah besar bala tentara sorga bersama malaikat itu. Para gembala itu berkata seorang kepada yang lain mengenai hal itu (ay. 15). Sementara para malaikat melantunkan nyanyian pujian mereka, para gembala itu hanya dapat memusatkan perhatian mereka pada nyanyian itu. Tetapi, setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain, “Marilah kita pergi ke Betlehem”. Mereka segera berkunjung ke sana (ay. 16). Mereka tidak membuang-buang waktu, tetapi justru cepat-cepat berangkat ke tempat yang telah dijelaskan oleh malaikat dan di sanalah mereka menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi yang sedang berbaring di dalam palungan. Kemiskinan dan kekurangan yang mereka jumpai dalam Kristus Tuhan tidak mengguncang iman mereka sebab mereka sendiri mengetahui apa arti menjalani kehidupan dalam persekutuan yang menyenangkan bersama Allah dalam keadaan miskin dan kekurangan.
Kepedulian para gembala untuk menyebarluaskan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu (ay. 17). Ketika mereka melihat-Nya, sekalipun mereka tidak melihat sesuatu dalam diri Anak itu yang dapat membuat mereka percaya bahwa Dia adalah Kristus Tuhan, namun, segala keadaan, walaupun miskinnya keluarga ini, benar-benar sesuai dengan tanda yang telah diberitahukan oleh malaikat itu, dan mereka pun merasa sangat puas. Maka mereka pun memberitahukan ke mana-mana seluruh kisah yang telah dikatakan kepada mereka, baik oleh para malaikat maupun oleh Yusuf dan Maria tentang Anak itu, bahwa Ia adalah Sang Juruselamat, bahkan Ia adalah Kristus Tuhan.
Ibu Maria menjadikannya sebagai bahan renungan pribadinya. Ia tidak banyak berbicara, tetapi menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (ay. 19). Ia mengumpulkan semua bukti itu bersama-sama dan menyimpannya baik-baik untuk dibandingkan dengan penemuan-penemuan lain yang dialaminya sesudah itu.
Para gembala lebih menjadikan kabar tentang Kristus itu sebagai puji-pujian kepada orang banyak. Jika orang-orang lain tidak tergugah, para gembala itu sangat tersentuh (ay. 20). Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah sesuai dengan apa yang telah dikatakan malaikat kepada mereka. Mereka bersyukur kepada Allah bahwa mereka telah melihat Kristus, meskipun dalam keadaan penuh kehinaan.
Refleksi Untuk Pamong
Jika memperhatikan penjelasan teks di atas, tentu kita bisa membayangkan suasana Natal yang dialami oleh para gembala. Dari sisi sukacita, tentu Natal kita jaman ini tidak kalah sukacitanya. Namun dalam hal-hal ‘fisik’ lainnya tentu kita dapat melihat ada beda yang signifikan. Tidak bisa dipungkiri bahwa Natal jaman ini tampil dengan gemerlap dan tidak lepas dari konsumerisme. Mall dan pusat perbelanjaan mengadakan diskon Natal dengan dekorasi dan pernak-pernik yang wah! Tidak sedikit keluarga yang masih memelihara tradisi ‘baju baru’ paling tidak bagi anak-anak, menjelang Natal. Belum lagi kudapan-kudapan enak dan mahal yang ditawarkan. Di gereja, sepanjang Desember tentu semua menjadi lebih sibuk, koor, mendekor, usaha dana, memasak, bersiap untuk ‘pesta’ Natal dan itu menelan jutaan bahkan puluhan juta anggaran. Tidak salah! Bahwa itu adalah bagian dari cara kita menunjukkan suka cita. Namun, kadang kita kehilangan esensi Natal seperti yang dialami para gembala. Mereka mendengar berita, mengalami perjumpaan dan perubahan hidup melaluinya, kemudian mereka meneruskan berita suka cita itu. Kadang kita sampai pada merasakan suka cita tetapi kelelahan dan lupa meneruskan kabar suka citanya. Natal ini tidak hanya bagi kita tapi bagi dunia.
Tujuan:
- Remaja memahami bahwa Natal bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan untuk membagikan kasih dan sukacita kepada semua orang.
- Remaja berusaha membagikan kabar sukacita Natal dengan tindakan nyata seperti berbagi dengan orang yang membutuhkan atau mengucapkan selamat Natal dengan tulus
Pendahuluan
Selamat pagi remaja yang terkasih, Selamat Natal!
Wah senang ya hari ini kita bisa bertemu dan melaksanakan ibadah Natal! Tentu semua sudah tahu apa arti Natal kan? Di sini adakah yang bernama Natal, tahu dong apa artinya? Bisa diceritakan, mungkin teman-teman remaja ada yang lupa.
Inti Penyampaian
Natal kita peringati setiap tahun dengan berbagai kegiatan dan acara yang meriah. Tidak hanya di gereja, suasana dan hiasan Natal juga ada di jalan-jalan, pusat perbelanjaan/ mall, dsb. Ada diskon Natal untuk barang-barang yang dijual di sana. Belum lagi, siap yang biasanya pakai baju baru di hari Natal? Wah, kakak dulu juga begitu saat kecil. Karena itu Natal menjadi saat yang menyenangkan. Di gereja, memasuki Desember kita juga sudah disibukkan dengan berbagai latihan, sebagian teman remaja juga mulai dilibatkan dalam kepanitiaan Natal. Hari ini adalah harinya. Bagaimana perasaan teman-teman? (memberi kesempatan remaja menjawab).
Dalam kisah hari ini, para gembala juga sedang sibuk, mereka sibuk berkerja menajaga kawanan dombanya di padang. Gembala adalah kelompok orang yang dimasanya jarang bisa bersosialisasi dengan orang lain, keadaan sosial dan ekonominya juga tidak termasuk golongan menengah ke atas. Mereka lebih sering bersama hewan gembalaan, tentu bisa dibayangkan kodisi tubuhnya, kecil kemungkinan mereka tampak bersih dan wangi. Namun malam itu Malaikat datang membawa berita kelahiran Juruselamat kepada mereka. Menarik untuk diingat, nenek moyang mereka (Israel/ Yakub) adalah gembala. Musa dan Daud secara khusus dipanggil untuk memerintah umat Allah ketika sedang menjaga domba. Dari contoh tersebut kita bisa melihat bahwa Allah masih menyukai pekerjaan yang tulus ini. Mereka mendengar bahwa Juruselamat sudah datang. Dan tanpa ragu mereka berangkat untuk menjumpai bayi itu. Meski dalam segala kesederhanaan, dan secara fisik para gembala tidak melihat ‘hal spesial’ (seperti tubuh yang bercahaya, mahkota, dsb) namun mereka tidak sedikitpun meragukan berita yang dibawa Malaikat. Tidak hanya itu, mereka juga memberitakan apa yang mereka dengar dari Malaikat, serta yang dilihat di Bethlehem. Berita yang mengejutkan direspon dengan membuktikan sendiri berita tersebut, dan dari pengalaman itu mereka menyaksikan ke lebih banyak orang.
Penerapan
Natal itu memang menyukacitakan, namun kadang kita terlalu sibuk dan capek sehingga kesukacitaan itu berhenti di diri kita sendiri. Dari pengalaman para gembala hari ini kita diingatkan bahwa Natal ini tidak hanya untuk kita tetapi dalam suka cita menyambut kelahiran Tuhan, merayakan kedatangan Juruselamat, kita para remaja ini juga diajak untuk membagikan kabar sukacita ke lebih banyak orang juga kepada dunia. Bagaimana caranya? Coba teman-teman pikirkan dan diskusikan bersama!
Aktivitas
Pamong memberi waktu kepada remaja dalam 1 kelompok besar untuk berdiskusi dan menentukan 1 kegiatan yang akan dilakukan dalam minggu ini (dalam rentang tanggal 25 Desember – 1 Januari). Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberitakan kabar suka cita kepada lebih banyak orang!
(pamong bisa mengarahkan agar remaja melakukan perkunjungan kasih kepada warga sepuh/ berbagi kasih kepada warga diakonia/ kerjabakti merawat taman/ lingkungan gereja, dan alternatif kegiatan yang mencerminkan semangat mewartakan kabar suka cita).