Bacaan : Matius 25 : 1 – 13 | Pujian: KJ. 446:1
Nats: “Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.” (Ayat 9)
Dalam KBBI sungkan memiliki arti malas, merasa tidak enak, menaruh hormat. Dalam kondisi tertentu sungkan memang diperlukan, sebagaimana dalam pengertian “menaruh hormat” dapat menempatkan diri dengan baik, menyadari diri, dan menghargai yang lain. Akan tetapi apabila terjebak dengan pengertian merasa tidak enak, maka yang ada adalah menafikan yang seharusnya dilakukan. Dengan demikian maka akan ada pengingkaran, pembiaran, dan tidak otentik menjadi diri sendiri, hanyut dalam idealisme orang lain. Bahkan karena sungkan imanpun menjadi taruhan.
Kisah gadis-gadis dalam bacaan kita untuk menyongsong mempelai laki-laki, dibagi menjadi dua golongan, yang pertama gadis-gadis bijaksana dan yang kedua gadis-gadis yang bodoh. Gadis-gadis bijaksana mempersiapkan segala sesuatunya agar dapat bertemu dengan mempelai laki-laki, sedangkan gadis-gadis bodoh tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, sehingga tidak dapat bertemu dengan mempelai laki-laki. Kesiapan gadis-gadis bijaksana merupakan wujud kesiapan iman dalam menanti kedatangan Tuhan, menjaga hidup terus berkenan dihadapan Tuhan, karena kedatangan-Nya tidak ada yang mengetahuinya. Dalam narasinya, gadis-gadis bijaksana berada dalam pengingkaran “budaya sungkan” atau tidak enakan, gadis-gadis bijaksana menolak dengan tegas untuk berbagi minyak dengan gadis-gadis bodoh. Mereka paham dengan berbagi mereka akan mengalami nasib yang sama dengan gadis-gadis bodoh, tidak dapat bertemu dengan mempelai laki-laki.
Sekali lagi budaya sungkan boleh saja kita terapkan, sungkan juga membuat kita tetap menjaga rasa hormat kepada yang lain. Akan tetapi apabila berhubungan dengan iman, maka akan berbeda respon kita. Mari belajar tegas seperti gadis-gadis bijaksana, yang dengan tegas tidak merelakan kesiapan dirinya, kesiapan imannya karena sungkan atau ewuh pakewuh terhadap gadis-gadis yang lain. Masalah iman tidak bisa kita kompromikan, karena kedatangan-Nya tidak ada yang mengetahuinya, dan Tuhan tidak bisa kita tukarkan dengan rasa “sungkan” terhadap manusia. Jangan menjadikan budaya sungkan dan rasa ‘ewuh pakewuh’ melemahkan iman kita. Amin. [gfc].
“Tegas dalam beriman, luwes dalam penerapannya.”