Bacaan: Yohanes 13 : 1 – 17, 31 – 35 | Pujian: KJ. 434
Nats: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi ; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Ayat 34)
Dalam sebuah komunitas dimana ada banyak orang saling bertemu, berinteraksi, dan hidup bersama, akan selalu ada upaya untuk membanding-bandingkan seseorang dengan yang lain. Karena komunitas itu sendiri terdiri dari banyak orang dengan beragam pemikiran dan latar belakang. Oleh sebab itu potensi untuk terjadinya perselisihan, persaingan, bahkan konflik selalu ada.
Demikian halnya dalam komunitas murid-murid Yesus yang selalu bersama mengikuti kemana Yesus pergi dan melayani. Dalam kisah-kisah Injil kita melihat adanya persaingan tentang siapa yang utama di antara para murid (Luk. 9:46). Melihat potensi itu, maka di akhir perjalanan-Nya Yesus memberikan sebuah perintah baru kepada para murid, yaitu untuk saling mengasihi. Tentu kata saling mengasihi ini merupakan kata yang seringkali kita dengar sebagai umat Kristen. Namun, sudahkah kita saling mengasihi dalam kehidupan sehari-hari? Sudahkah kita mengasihi keluarga kita, saudara kita, teman kita, atau orang yang berbeda pendapat dengan kita?
Dalam kehidupan bersama dengan banyak orang, kasih menjadi sikap yang penting untuk mengurangi potensi konflik yang selalu ada. Karena ketika kita saling mengasihi, maka kita tidak mudah jatuh dalam perselisihan atau merendahkan orang yang berbeda dengan kita. Karena kita lebih memilih untuk mengasihi, maka kita tidak akan mudah terbawa emosi ketika terjadi perbedaan pendapat, meskipun untuk mengasihi dalam kehidupan sehari-hari ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Ketika kita hidup dengan saling mengasihi, hidup akan terasa lebih indah dan penuh dengan kedamaian. Oleh sebab itu, marilah kita terus belajar untuk saling mengasihi sesama bahkan orang yang membenci kita sebagai wujud nyata kita melakukan perintah baru dari Tuhan Yesus yaitu saling mengasihi. Amin. [RES].
“Dimana saja kau berada, apapun keadaanmu,
cobalah selalu menjadi seorang pecinta yang senantiasa dimabuk oleh kasih-Nya”
(Jalaluddin Rumi)