Berarti Di Hadapan Allah Pancaran Air Hidup 4 April 2023

4 April 2023

Bacaan: 1 Korintus 1 : 18 – 31 ǀ Pujian: KJ. 169 : 1, 2
Nats:… dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (Ayat 28-29).

Seringkali orang membanggakan bahkan cenderung menyombongkan diri oleh karena memiliki kekuatan, kekayaan, kemampuan, dan kepandaian. Di hadapan orang lain, dia tidak segan menunjukkan apa yang dia miliki tersebut, untuk menunjukkan bahwa dia memiliki nilai yang lebih dibandingkan orang lain. Hal ini dapat kita jumpai dalam strata sosial masyarakat, dimana ada orang kaya dan ada orang miskin, ada orang pandai dan ada yang bodoh. Oleh karena itu, banyak orang berupaya sedemikian rupa agar dia dapat mencapai tahap kesuksesan dan keberhasilan dalam hidupnya. Jika dia berhasil dalam usaha, pekerjaan, pendidikan, maka dia akan dipandang sebagai orang penting dan berarti di hadapan orang lain.

Bacaan firman Tuhan yang kita renungkan saat ini merupakan nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat Korintus tentang hikmat. Situasi Jemaat Korintus yang majemuk menyebabkan ada banyak pandangan dan pemahaman yang muncul tentang Yesus Kristus. Bagi orang Yahudi, pewartaan tentang Yesus Kristus dipandang sebagai batu sandungan, sedangkan bagi orang Yunani dipandang sebagai suatu kebodohan (Ay. 23). Hal ini disebabkan orang Yahudi menghendaki tanda agar mereka percaya akan kebangkitan Yesus Kristus, sedangkan orang Yunani mencari hikmat manusia yang terbatas (Ay. 22). Namun kepada Jemaat Kristen di Korintus, Paulus menasihatkan agar mereka memiliki hikmat Allah. Dengan hikmat Allah, mereka dapat mengerti kebenaran Allah, percaya kepada Yesus Kristus, dan diselamatkan Allah. Mereka diingatkan untuk selalu rendah hati di hadapan Allah, sebab mereka dipilih dan diselamatkan Allah, itu adalah kasih karunia Allah.

Saat ini kita berada di Pekan Suci, kita menghayati perjalanan Yesus Kristus yang telah tiba di Yerusalem untuk misi penyelamatan dunia. Dia yang semula disanjung, dipuja-puji sebagai seorang Raja saat memasuki kota Yerusalem, nyatanya Dia dihina, disiksa, dan mati disalibkan. Belajar dari nasihat Rasul Paulus dan kisah penderitaan Yesus di Yerusalem, hendaknya kita memiliki hikmat Allah yang memampukan kita untuk terus memandang Yesus Kristus. Sekalipun kita dipandang rendah, dihina, diremehkan bahkan disakiti, tidak dihargai di hadapan orang lain, pandanglah Yesus Kristus, sebab di hadapan Allah kita berarti. Amin. [AR].

“Berjalanlah terus bersama Kristus sekalipun menderita, sebab kita berarti di hadapan-Nya”

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak