Bacaan: Efesus 4 : 25 – 32 │ Pujian: KJ. 467 : 1 – 3
Nats: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”(Ayat 26-27)
Marah adalah salah satu emosi dasar manusia. Pendiri aliran psikologi behaviorisme, John B. Watson menyebutkan manusia memiliki tiga emosi dasar, yaitu takut, marah, dan kasih sayang. Ada kisah, seorang pedagang sego empog meluapkan amarahnya kepada seorang rentenir, karena tersinggung ditagih utangnya. Ia harus membayar Rp. 10.000,- per hari untuk utangnya sebesar Rp. 300.000,-. Saat itu, ia benar-benar tidak memiliki uang. Daganganya sepi pembeli dalam beberapa hari ini. Sudah satu minggu ia tidak mampu membayar cicilan hutangnya. Namun setiap hari, ia didatangi oleh rentenir agar hutangnya segera dicicil. Dalam kondisi tekanan hidup yang membebaninya, ia menjadi marah, dan akhirnya menganiaya tukang rentenir itu, sehingga ia mendapatkan hukuman. Ini hanyalah gambaran kecil bila seseorang marah.
Marah dapat terjadi akibat situasi dari luar maupun dari dalam diri kita yang tidak sesuai dengan harapan kita. Seperti Musa yang tidak mampu menahan emosinya, karena tekanan yang dihadapinya dari bangsa Israel. Saat bangsa Israel berada di padang gurun, mereka menginginkan air, karena kehausan. Kemudian, Musa diberi kuasa oleh Tuhan untuk memberi air kepada mereka, dengan memberi perintah dinding bukit untuk mengeluarkan air. Apa yang terjadi? Musa marah, lalu memukul dinding bukit itu hingga dua kali dengan tongkatnya dan dinding itu mengeluarkan air. Akibat kemarahannya itu, Musa dihukum Allah tidak boleh memasuki Tanah Kanaan.
Sebenarnya marah adalah perasaan yang wajar dan normal dalam hidup kita. Yang penting, bagaimana perasaan itu disadari, dikelola, dan dikendalikan dengan baik. Jangan sampai berlanjut dengan tindakan anarkis atau merusak yang bisa menyebabkan dosa dan keburukan yang lain. Kita banyak melihat akibat kemarahan berakhir pada pembunuhan yang sangat kejam. Oleh karena itu, Paulus memberikan nasihat praktis berkaitan dengan marah, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.” Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri. “Apakah aku sering marah? Apakah yang membuatku sulit untuk mengendalikan amarahku?” Semoga kita dapat mengelola dan mengendalikan kemarahan yang muncul pada diri kita. Amin. [RA].
“I have the right to be angry, but that doesn’t give me the right to be cruel!”