Bacaan: Kejadian 8 : 1 – 22 | Pujian: KJ. 62
Nats: “Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering.” (Ayat 13).
Di sepanjang waktu membangun bahtera, ditambah dengan sekitar 300 hari menunggu air Bah surut dan bahtera kandas di puncak Ararat bukanlah waktu yang singkat. Banyak tantangan dan halangan yang harus dihadapi Nuh dalam melaksanakan kehendak Allah. Tantangan dan hambatan itu muncul baik dari luar maupun dalam dirinya sendiri.
Kisah air bah menunjukan dua hal kepada kita. Pertama, kisah itu menyisakan kenangan pahit dan tak terlupakan. Dosa tidak pernah memberikan kebahagiaan dalam hidup dan kondisi dunia ini. Kedua, kisah itu mendatangkan sukacita, karena di balik penghukuman Allah, Allah berbelas kasih kepada umat-Nya. Penyelamatan Nuh dan keluarganya, beserta wakil dari semua makhluk yang bernyawa, menggambarkan pemulihan ciptaan dan penciptaan suatu umat perjanjian. Nuh yang telah memperoleh anugerah keselamatan dari Allah mendirikan mezbah sebagai respons syukurnya kepada Allah. Mezbah tersebut bukan upaya Nuh untuk membujuk Allah agar menyingkirkan murka- Nya, seperti yang banyak dipahami di dalam agama-agama manusia tentang kurban-kurban. Mezbah itu justru adalah ungkapan syukur Nuh atas inisiatif Allah baik dalam menghukum maupun terlebih dalam menyelamatkan. Kini, Nuh mengemban tugas berat, memulai dari awal, yaitu mengisi dan membentuk bumi ciptaan baru.
Saat ini kita berada pada masa Adven, masa dimana kita menantikan kedatangan Tuhan Yesus, yaitu masa dimana Tuhan merealisasikan janji keselamatan yang sudah diberikan-Nya kepada kita. Kita patut bersyukur, karena kita memiliki Allah yang dahsyat dan berdaulat penuh atas hidup kita. Kristus yang dulu pernah datang, sudah menanggung penghukuman atas kita, penghukuman yang kedahsyatannya bagai air bah yang memusnahkan kehidupan. Itu sebabnya mari kita menjadi taat seperti Nuh yang setia dalam masa penantian akan surutnya air bah. Mari kita menjadi taat memelihara keselamatan yang sudah diberikan Tuhan untuk kita, hingga Tuhan datang kedua kali merealisasikan janji keselamatan-Nya bagi kita. Amin [ndrung].
“Allah serius dalam upaya menyelamatkan manusia dan itu terealisasi dalam Putra-Nya sendiri, yang rela mati, demi menyelamatkan orang- orang pilihan-Nya dari murka kekal.”