Tahun Gerejawi: Paskah 1
Judul: Menceritakan Dia yang Hidup
Tema:
- Paskah
- Kebangkitan: Menjadi Terang
Bacaan Alkitab: Lukas 23:54 – 24:12
Ayat Hafalan/ Nats: Lukas 24 : 5
Lagu Tema:
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Maria Magdalena, Yohana, dan Maria Ibu Yakobus adalah saksi pertama di mana Yesus dibangkitkan. Mereka semua pada waktu itu melihat kubur tempat mayat Yesus dibaringkan itu, kosong. Kemungkinan besar juga mereka yang selama ini yang merawat tubuh Yesus yang mati dan diletakkan di kubur berbungkus kain lenan. Mereka datang dengan keyakinan bahwa jenasah yang mereka rawat dan jumpai kemarin, hari itu masih ada di kubur itu. Entah di mana para murid laki-laki lainnya, tidak satupun yang menengok ataupun mengunjungi kubur Yesus.
Dalam narasi Lukas 23, pada ayat-ayat sebelumnya, seorang bernama Yusuf Arimatea meminta tubuh Yesus pada Pontius Pilatus. Para perempuan (Maria Magdalena, Yohana, dan Maria Ibu Yakobus) dan Yusuf Arimatea adalah pengikut Yesus diluar 12 Murid Yesus. Mereka bukanlah orang-orang yang memiliki ketenaran. Mereka adalah orang-orang kecil (cameo), namun justru orang-orang kecil inilah yang mengikut Yesus dengan setia. Tidak hanya ketika Yesus menunjukkan kuasa hebat-Nya, melainkan juga mengikuti Yesus sampai dengan Yesus mati. Orang-orang kecil inilah yang mewartakan pertama kali akan kebangkitan Yesus. Para perempuan bersaksi bahwa Yesus telah bangkit dan memberitakannya kepada para murid walaupun para murid masih meragukan kabar dari para perempuan tersebut.
Paskah memiliki arti bahwa mengikut Yesus tidak hanya ketika Yesus hidup melainkan juga ketika Yesus mengalami penderitaan sampai kematian. Inilah makna kebangkitan, melampaui kenyataan yang ada. Paskah mengajak kita melihat totalitas Yesus dalam memberikan cinta kasih-Nya kepada manusia. Ia rela melalui kegelapan maut, demi manusia bisa merasakan terang keselamatan hidup sejati.
TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA
Tujuan: Anak dapat menceritakan kembali kisah perjumpaan para perempuan di kubur Yesus dengan dua malaikat
Alat Peraga: Pamong menyiapkan Lampu / senter / lilin
Pendahuluan
(Pamong mematikan lampu ruang ibadah anak dan bertanya) “Teman-teman, kalau ruangan gelap begini apakah kalian bisa melihat dengan jelas?” (Pamong menyalakan lampu kembali) “Sekarang, kalau terang begini, apakah kalian bisa melihat dengan jelas? Lebih enak mana, gelap atau terang?” (Pamong bisa juga memakai senter atau lilin untuk memeragakan bagian ini)
Bagaimana perasaan teman-teman ketika gelap? Hati kita biasanya tidak enak kalau gelap, karena kita tidak bisa melihat dengan jelas. Kita bisa salah memegang sesuatu, bisa juga nabrak sesuatu.
Sebaliknya, bagaimana perasaan teman-teman ketika terang? Hati kita biasanya juga ikut senang. Kita bisa melihat dengan jelas : itu apa dan siapa. Kita tidak takut nabrak-nabrak dan keliru.
Inti Penyampaian
Ketika Tuhan Yesus disalib dan wafat, itu rasanya seperti gelap. Murid-murid perempuan Yesus merasa sedih hati. Mereka ini adalah Maria Magdalena, Yohana dan Maria ibu Yakobus. Mereka ini yang merawat tubuh setelah diturunkan dari salib sampai dengan dibaringkan di kubur. Hati mereka tidak enak.
Mereka sedih, karena Tuhan Yesus yang mereka sayangi itu sudah tidak bergerak. Karenanya, pagi-pagi sekali mereka datang ke kubur lagi untuk melihat Yesus? Apakah mereka bertemu Tuhan Yesus? Woow… ternyata tidak! Yesus tidak ada di sana. Kuburnya kosong.
Tapi, para perempuan itu justru bertemu dua orang yang bajunya berkilau-kilauan. Para perempuan itu ketakutan dan tidak berani melihat. Mereka hanya bisa menunduk. Siapakah dua orang itu? Ya, mereka itu malaikat yang memberitahu bahwa “Yesus tidak ada di sini, Yesus sudah hidup!” Ayo kita ulangi bersama-sama (ajak anak-anak mengatakan dengan suara kedengaran) “Yesus sudah hidup! Yesus sudah hidup!”
Waaw… kita-kira bagaimana perasaan para perempuan itu ya? Pasti senang. Awalnya mereka seperti di ruang gelap, sekarang mereka seperti di ruang terang. Bahagia, karena Yesus sudah tidak mati, tapi Dia hidup.
Hari ini kita merayakan Paskah, kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. (pamong memakai peraga lilin, yang sebaiknya dinyalakan sejak awal) Seperti halnya lilin ini, dia menyala, memberikan terang bagi kita saat gelap, tapi lilin itu sendiri hancur, meleleh, sampai akhirnya mati. Jadi, teman-teman, mari kita rayakan kebangkitan Yesus dengan sukacita. Dan mari menjadi seperti lilin kecil ini, terus bersinar, terus melakukan kebaikan.
Aktivitas
Anak-anak Balita diajak untuk menggambar lilin dan mewarnainya. Pamong dapat meletakkan lilin di hadapan anak-anak untuk ditiru atau dijiplak.
TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA
Tujuan:
- Anak dapat menceritakan kembali kisah perjumpaan para perempuan di kubur Yesus dengan dua malaikat
- Anak dapat menunjukkan tindakan para perempuan setelah berjumpa dengan dua malaikat
- Anak dapat menjadi saksi kebangkitan Yesus dalam kehidupannya sehari-hari
Alat Peraga: Pamong menyiapakan : Lampu dan lembar aktivitas
Pendahuluan
Teman-teman, bagaimana perasaan kalian ketika mati lampu? (pamong mematikan lampu ruangan). Senang atau tidak? Apa yang dilakukan ketika gelap dan mati lampu?
(Pamong menyalakan lampu kembali) “Sekarang, kalau terang begini, apakah kalian bisa melihat dengan jelas? Lebih enak mana, gelap atau terang?”
Selain membuat perasaan tidak enak, berada dalam gelap juga menyulitkan. Tidak tahu mana meja dan mana kursi. Kita bisa salah memegang sesuatu, atau juga nabrak sesuatu. Oleh karena itu kalau sedang gelap atau mati lampu, orang akan segera mencari penerang. Apa biasanya? Bisa lilin, senter, lampu otomatis, dan lain-lainnya.
Inti Penyampaian
Teman-teman, hidup yang seperti berada dalam gelap itu juga pernah dialami oleh para murid ketika Tuhan Yesus disalib dan wafat. Sedih, bingung, takut rasanya. Paling tidak, ada tiga orang perempuan yang merasakan itu. Mereka adalah Maria dari Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus. Mereka sangat mengasihi Yesus, sehingga setelah tubuh Yesus diturunkan dari salib sampai dengan dibaringkan di kubur, mereka ini yang membantu merawatnya.
Mereka sedih, karena Tuhan Yesus yang mereka sayangi itu sudah tidak bergerak. Karenanya, pagi-pagi sekali mereka datang ke kubur lagi untuk melihat Yesus? Apakah mereka bertemu Tuhan Yesus di sana? Woow… ternyata tidak! Yesus tidak ada di sana. Kuburnya kosong. Tambah kalut lagi perasaan mereka.
Namun, dalam situasi seperti gelap itu, para perempuan seperti melihat terang. Byaar… ada dua orang yang bajunya berkilau-kilauan menemui mereka. Para perempuan itu ketakutan dan tidak berani melihat. Mereka hanya bisa menunduk. Siapakah dua orang itu? Ya, mereka itu malaikat yang memberitahu bahwa “Yesus tidak ada di sini, Yesus sudah hidup!” Ayo kita ulangi bersama-sama (ajak anak-anak mengatakan dengan suara kedengaran) “Yesus sudah hidup! Yesus sudah hidup!”
Waaw… kita-kira bagaimana perasaan para perempuan itu ya? Pasti senang. Awalnya mereka seperti di ruang gelap, sekarang mereka seperti di ruang terang. Bahagia, karena Yesus sudah tidak mati, tapi Dia hidup.
Apakah kebahagiaan itu mereka simpan sendiri? Tidak. Para perempuan yang telah menyaksikan kubur kosong itu segera pergi memberitahu murid-murid yang lain. mereka ingin banyak orang tidak lagi kalut, tapi bahagia dengan berita hidupnya Tuhan Yesus.
Hari ini kita merayakan Paskah, kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Mari kita rayakan dengan bahagia, seperti tiga orang perempuan tadi. Mereka yang awalnya takut dan sedih, setelah bertemu malaikat menjadi bahagia dan berani. Jadi, terus semangat menjadi anak-anak Tuhan yang setia. Yesus yang hidup menerangi hidup kita. Mari bertumbuh jadi anak-anak terang, bukan anak-anak gelap. Anak-anak terang akan melakukan segala hal yang baik dan benar, bukan yang jahat dan merugikan.
Aktivitas
Anak-anak Pratama diajak mencari dan menandai kata yang menunjukkan perbuatan anak terang.

TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA
Tujuan:
- Anak dapat menceritakan kembali kisah perjumpaan para perempuan di kubur Yesus dengan dua malaikat
- Anak dapat menunjukkan tindakan para perempuan setelah berjumpa dengan dua malaikat
- Anak dapat menjadi saksi kebangkitan Yesus dalam kehidupannya sehari-hari
Alat Peraga: Pamong menyediakan Lampu
Pendahuluan
Teman-teman, bagaimana perasaan kalian ketika mati lampu dan gelap? (pamong mematikan lampu ruangan). Apa tidak enaknya kalau gelap? Apakah ada enaknya? Apa yang dilakukan ketika gelap? Mencari penerang. Apa saja penerang itu? Bisa lilin, senter, lampu otomatis, dan lain-lainnya.
(Pamong menyalakan lampu kembali) Ya, Sekarang, kalau terang begini, bagaimana rasanya? Lebih enak mana, gelap atau terang?”
Gelap itu seringkali membuat perasaan tidak enak. Kita tidak tahu mana meja dan mana kursi. Kita bisa salah memegang sesuatu, atau juga nabrak sesuatu. Oleh karena itu kalau sedang gelap atau mati lampu, orang akan segera mencari penerang.
Inti Penyampaian
Teman-teman, hidup yang seperti berada dalam gelap itu juga pernah dialami oleh para murid ketika Tuhan Yesus disalib dan wafat. Ada perasaan sedih, bingung, takut. Paling tidak, ada tiga orang perempuan yang merasakan itu. Mereka adalah Maria dari Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus. Mereka sangat mengasihi Yesus, sehingga setelah tubuh Yesus diturunkan dari salib sampai dengan dibaringkan di kubur, mereka ini yang membantu merawatnya.
Mereka sedih, karena Tuhan Yesus yang mereka sayangi itu sudah mati. Karenanya, pagi-pagi sekali mereka datang ke kubur lagi untuk melihat Yesus. Apakah benar Yesus yang mereka lihat? Ternyata tidak! Yesus tidak ada di sana. Kuburnya kosong. Perasaan mereka bertambah kalut lagi.
Namun, dalam situasi seperti gelap itu, para perempuan seperti melihat terang. Byaar… ada dua orang yang bajunya berkilau-kilauan menemui mereka. Para perempuan itu ketakutan dan tidak berani melihat. Mereka hanya bisa menunduk. Siapakah dua orang itu? Ya, mereka itu malaikat yang memberitahu bahwa “Yesus tidak ada di sini, Yesus sudah hidup!”
Waaw… kita-kira bagaimana perasaan para perempuan itu ya? Pasti senang. Awalnya mereka seperti di ruang gelap, sekarang mereka seperti di ruang terang. Bahagia, karena Yesus sudah tidak mati, tapi Dia hidup. Mereka pasti ingat apa yang pernah dikatakan dan dilakukan Yesus sebelumnya. Yesus bisa menghidupkan orang mati, dan Yesus pernah berkata kalau setelah disalibkan, Dia akan bangkit di hari bahagia.
Woow… beneran terjadi. Apa yang dikatakan Yesus telah digenapi. Sungguh membahagiakan. Nha, apakah kebahagiaan itu mereka simpan sendiri? Tidak. Para perempuan yang telah menyaksikan kubur kosong itu segera pergi memberitahu murid-murid yang lain. Mereka ingin banyak orang tidak lagi kalut, tapi bahagia dengan berita hidupnya Tuhan Yesus.
Hari ini kita merayakan Paskah, kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Mari kita rayakan dengan bahagia, seperti tiga orang perempuan tadi. Mereka yang awalnya takut dan sedih, setelah bertemu malaikat menjadi bahagia dan berani. Jadi, mari terus semangat menjadi anak-anak Tuhan yang setia. Yesus yang hidup menerangi hidup kita. Mari bertumbuh jadi anak-anak terang, bukan anak-anak gelap. Anak-anak terang akan melakukan segala hal yang baik dan benar, bukan yang jahat dan merugikan.
Aktivitas
Anak-anak Madya diajak untuk membuat lentera kertas. Cahaya dari lentera itu mengingatkan kita untuk terus bersinar, menjadi saksi Tuhan.

Bahan-bahan yang dibutuhkan
- Kertas karton.
- Gunting.
- Selotip.
- Lilin.
Cara Membuat
- Lipat kertas karton menjadi dua secara memanjang dengan ukuran kurang lebih 20 cm.
- Potong bagian yang terlipat dengan jarak 2 cm, tetapi jangan sampai terputus.
- Buka lipatan kemudian satukan kedua ujung kertas sehingga berbentuk tabung menggunakan selotip.
- Gunting kertas karton dengan panjang 15 cm dan lebar 2 cm.
- Pasang hasil guntingan tersebut pada bagian atas lentera menggunakan selotip sehingga menjadi pegangan.
- Letakkan lilin di dalam lentera.