Salib-Mu Melembutkan Hatiku Tuntunan Ibadah Jumat Agung 15 April 2022 untuk Remaja

4 April 2022

Tahun Gerejawi: Jumat Agung
Tema: Penebusan: Melawan Kekerasan dengan Cinta Kasih

Bacaan Alkitab: Lukas 23:33-43
Ayat Hafalan: “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Roma 6:6)

Lagu Tema: Salib Mengubah Hidupku

Tujuan:

  1. Remaja dapat menyebutkan permintaan penjahat yang bersama-sama Yesus di kayu salib.
  2. Remaja dapat menyebutkan tanggapan Yesus pada permintaan penjahat yang bersama-sama denganNya.
  3. Remaja dapat menunjukkan cinta Yesus kepada penjahat yang bersama-sama dengan-Nya meskipun Ia sedang menderita.
  4. Remaja dapat membiasakan diri bersikap baik meskipun ia sedang susah.

Penjelasan Teks:
Kerajaan Romawi memiliki hukuman salib. Hukuman tersebut digunakan bagi siapa saja yang dianggap sebagai pemberontak. Waktu dan tempat sangat diperhitungkan. Bukit tengkorak (Golgota) adalah tempat yang sangat cocok untuk tempat penyaliban, luas dan memiliki bukit yang sedikit sehingga semua orang dapat melihat proses penyaliban ataupun melihat orang yang disalib sangatlah jelas. Hukuman salib tidak hanya terjadi pada masa Pontius Pilatus. Tercatat Romawi pernah melakukan pada masa Alexander Agung. Romawi memiliki prinsip kerajaan yakni Pax Romana, Romawi yang damai. Ironisnya, Romawi menjalankan misi kedamaian tersebut dengan cara kekerasan.

Penyaliban Yesus dapat dikatakan sebagai bentuk hukuman seorang pemberontak. Walaupun secara jelas baik Pontius Pilatus, bahkan prajurit Romawi mengatakan bahwa Yesus tidak bersalah. Penyaliban Yesus disertai dengan dialog dengan 2 penjahat yang disalibkan. Injil Lukas tidak menjelaskan apa yang menjadi alasan 2 penjahat disalibkan. Apakah karena pemberontakan atau pembunuhan atau pemberontakan dan pembunuhan? Yang jelas Injil Lukas menyebutnya sebagia penjahat. Berbeda dengan Injil Markus. Markus justru tidak menyebutkan dialog Yesus dengan dua penjahat. Justru olok-olokan datang dari mereka yang melihat Yesus disalib, termasuk ahli Taurat dan para pengikut ahli Taurat. Injil Lukas menyebutkan bahwa dialog terjadi antara Yesus dengan 2 penjahat. Salah satu penjahat meminta Yesus untuk menunjukkan kuasaNya sehingga dapat menyelamatkan diriNya dan 2 penjahat tadi. Penjahat yang lain meminta ketika Yesus datang kembali sebagai Raja untuk mengingat diri seorang penjahat tadi. Yesus dalam ayat 23 justru menunjukkan belas kasihannya kepada penjahat tadi dengan menjamin untuk masuk ke dalam Firdaus.

Dalam gambaran Lukas, Yesus sangat ditampilkan sebagai Raja Damai, pada ayat 34 dan 43 sangat jelas. Yesus memohon kepada Bapa untuk mengampuni orang-orang yang telah menyalibkan diri Yesus dan pada ayat 43 mengampuni seorang penjahat dengan menjaminnya masuk ke dalam Firdaus. Berbeda dengan Romawi tadi, Romawi menjalankan misi kedamaian dengan kekerasan, sedangkan Yesus menggambarkan kedamaian dengan jalan anti-kekerasan, jalan cinta dan kasih. Dengan kata lainnya, penebusan adalah melawan kekerasan dengan cinta dan kasih.

Pendahuluan

  1. Pamong memberikan wawasaan kepada remaja tentang tindak kekerasan. Dimulai dengan memberikan pertanyaan pemantik demikian: Bagaimana saudara memahami tentang tindak kekerasan? Berikan kesempatan beberapa remaja untuk menyampaikan pemahamannya tentang kekerasan.
  2. Pamong menjelaskan secara singkat macam macam bentuk kekerasan yang bisa di alami oleh anak. melalui link berikut.
  3. Membaca Lukas 23: 33 – 43!

Cerita
Sahabat remaja yang terkasih,

Dalam peristiwa penyaliban ini, Yesus disalibkan bersama dua orang penjahat. Tidak dijelaskan apa alasannya sehingga dua orang penjahat itu disalibkan. Apakah karena pemberontakan atau pembunuhan, atau tindakan jahat lainnya.

Yang jelas tindakan mereka melanggar hukum Romawi. Dan salib/disalibkan merupakan bentuk hukuman pemerintah Romawi pada saat itu. Romawi memiliki prinsip kerajaan yakni Pax Romana, yaitu Romawi yang damai. Ironisnya, Romawi menjalankan misinya tersebut dengan jalan kekerasan.

Permintaan dua orang penjahat tersebut berbeda satu dengan yang lainnya. Masing-masing menggambarkan pribadinya. Yang seorang menghujat Yesus dengan meminta Yesus menyelamatkan diri sendiri serta mereka berdua. Hujatan adalah salah satu bentuk kekerasan emosional. Catatan psikologis menyebutkan bahwa seorang yang menghujat adalah seorang yang selalu berpikiran negatif, sehingga menghasilkan emosi yang negatif juga. Orang semacam ini memiliki kondisi psikis yang tidak sehat, kehidupannya jauh dari kenyamanan dan ketentraman. Benar juga yang diucapkan penjahat yang lain terhadapnya, bahwa dia terkesan menolak penyaliban ini, tidak bisa menyadari bahwa dirinya salah. Bisa saja ia memahami bahwa penyaliban ini sebuah kekeliruan, yang tidak seharusnya ia terima. Inilah gambaran seorang yang menolak keras penderitaan yang harus dia terima, bahasa Jawanya “kemrungsung”, dan hidupnya sungguh menderita di dalam penderitaan. Berbeda dengan yang penjahat satunya. Seorang yang berpikir positif. Seorang yang mau merendahkan hati, melihat dan mengakui dirinya sebagai yang telah melakukan kesalahan sehingga layak menerima hukuman yang setimpal. Kerendahan hati inilah yang pada akhirnya membawa dia pada sikap memohon dengan tulus sebuah pertolongan dari Yesus, penjahat ini percaya bahwa Yesus memiliki kekuasaan sebagai seorang Raja. Penjahat ini menjadi gambaran dari seorang yang mengalami kedamaian/ketentraman hati di tengah penderitaan yang sedang dihadapinya.

Sahabat remaja terkasih,
Respon Yesus atas dua orang penjahat ini memberikan beberapa pelajaran penting tentang kehidupan.
Pertama. Kekerasan, apapun bentuknya, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik tidak perlu dibalas dengan kekerasan, namun perlu dibalas dengan hati yang tenang dan jernih. Sikap ini akan menghentikan siklus kekerasan. Seperti yang dilakukan oleh Yesus. Kekerasan fisik maupun verbal yang Dia hadapi, diterimanya dengan ikhlas, sebab Dia melihat bahwa mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Yesus hanya merasa perlu untuk mengampuni mereka. Kejernihan serta ketenangan hati menghadapi penderitaan membuahkan berkat pengampunan bagi orang lain.
Kedua. Berkat keselamatan sungguh nyata dianugerahkan bagi mereka yang merendahkan hati mau mengakui kelemahannya. Mereka dilayakkan untuk menerima keselamatan, yakni ketentraman seperti yang Yesus nyatakan bagi penjahat kedua.

Aktifitas
Remaja masuk dalam ruang support group (bisa terdiri dari 3 orang per kelompok). Pamong memberikan pertanyaan pemantik:

  1. Pernahkah Anda mengalami kekerasan di media sosial? Ceritakan pengalamanmu!
  2. Bagaimana perasaan Anda?
  3. Sikap baik apa yang seharusnya Anda lakukan untuk merespon peristiwa tersebut?

PR untuk Minggu Depan
Role Play sesuai dengan teks Lukas 23 : 54 – 24 : 12. Tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita ini adalah:

  1. Narator
  2. Tokoh 2 orang malaikat
  3. Tokoh Maria dari Magdala
  4. Tokoh Yohana
  5. Maria ibu Yakobus
  6. Beberapa perempuan lain
  7. Beberapa pria yang memerankan tokoh rasul-rasul
  8. Tokoh Petrus.

Catatan:

  1. Metode Role Play atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa actual, atau kejadian-kejadian yang muncul pada masa mendatang. Ketika permainan peran ini dilakukan dengan kesungguhan hati, serta bimbingan yang memadai dari pamong, maka permainan ini akan sangat membantu memperkuat perasaan remaja dalam menghayati ulang peristiwa kebangkitan Yesus. Perasaan yang semakin kuat dalam mengalami
    sendiri peristiwa ini selanjutnya akan membantu remaja untuk mempertajam imajinasi, serta belajar menentukan sebuah sikap yang nyata secara mandiri (yang mereka mau dan mampu).
  2. Setiap mereka yang memerankan tokoh akan memiliki pengalaman yang unik (menghayati perasaannya, memiliki imajinasi, memilih sebuah sikap/tindakan) atas responnya terhadap peristiwa Kebangkitan Yesus. Pengalaman mereka tidak ada yang keliru, sehingga pamong tidak perlu megevaluasi pengalaman mereka.
  3. Pada bagian persiapan untuk melakukan role play ini, para remaja diberi kebebasan berimajinasi dalam mengkreasikan dialog selama hal-hal prinsip dalam teks tidak diubah. Misalkan: dialog memakai dialek Malang, Surabaya, Madura, Kediri dan sebagainya. Dalam teks tidak banyak terdapat dialog para tokoh, dalam rangka memperkuat penghayatan maka bisa ditambahkan dialog lain di sela-sela dialog utama (yang sesuai teks).

Renungan Harian

Renungan Harian Anak