Hidup dalam Rumah Bersama Khotbah Minggu 3 Oktober 2021

20 September 2021

Minggu Biasa – Perjamuan Kudus Ekumene
Stola Putih

Bacaan 1: Kejadian 2 : 18 – 25
Bacaan 2: Ibrani 1 : 1 – 4, 2 : 5 – 12
Bacaan 3: Markus 10 : 2 – 16

Tema Liturgis: Hidup Bersama dalam Kepedulian.
Tema Khotbah: Hidup dalam Rumah Bersama.

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 2 : 18 – 25
Manusia diciptakan Allah menurut gambar-Nya, gambar ini dimaknai sebagai kehadiran manusia yang merepresentasikan kehadiran Allah. Selanjutnya, gambar ini juga dimaknai sebagai tanggungjawab, karena Tuhan menempatkan manusia di taman untuk melayani (Ibr: abad, Indonesia: mengabdi kepada, LAI: mengusahakan) dan memeliharanya. Manusia diberi kuasa menamai binatang, memanfaatkan tanah, tanaman, dan menjaganya sehingga dapat mempertahankan keberlangsungan untuk diwariskan kepada umat manusia. Allah memberi kuasa pada manusia berkaitan erat dengan tanggungjawab. Demikian juga dalam relasi antar manusia (Adam dan Hawa), Adam yang diciptakan terlebih dahulu, tidak mengartikan bahwa Adam lebih utama dan Hawa diperbantukan kepada Adam. Kata kerja menolong (Ibr: azan) di dalam Alkitab, nyatanya juga digunakan dalam relasi yang sejajar dengan orang yang ditolong.

Ibrani 1 : 1 – 4, 2 : 5 – 12
Penulis Surat Ibrani menyatakan bahwa wahyu Allah yang datang melalui para nabi adalah wahyu yang diberikan secara berulangkali (polumeros) dan berbagai cara (polutropos) (ayat 1). Dua gagasan ini, menunjukkan bahwa dari zaman ke zaman, nabi menyampaikan berita yang relevan dan sesuai konteks yang dialami. Yang kedua, nabi selalu menggunakan banyak cara menyampaikan kebenaran Allah, sampai di era Yesus yang menyatakan kehadiran Allah dengan dirinya sendiri. Bukan dengan perkataan saja, tetapi diri-Nya sendiri. Surat Ibrani ini memakai dua gambaran yang penting yaitu Yesus sebagai apaugasma yang berarti cahaya yang memancar atau terang yang dipantulkan (ayat 3). Dalam diri Yesus terdapat karakter Allah. Allah yang menciptakan, memelihara, menebus, dan menyucikan dosa manusia melalui pengorbanan tubuh-Nya di kayu salib.

Markus 10 : 2 – 16
Dalam tradisi Yahudi, jamahan adalah tradisi penting. Makna beberapa jamahan bertujuan memberi penguatan, curahan berkat, dan memberikan karunia. Dalam perikop disebutkan, seseorang membawa anak-anak kecil kepada Yesus supaya Tuhan memberkati anak-anak itu. Hanya saja, para murid memarahi orang itu. Yesus melihat dan menegur para murid yang menghalangi anak-anak dengan menyalahgunakan kedekatan dengan Yesus. “Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya”. Yesus menempatkan anak-anak kecil di tengah orang dewasa untuk mengajari mereka bagaimana berpaling dari hasrat dan gairah orang besar tentang kekuasaan dan kekayaan sambil melihat ulang kesederhanaan yang terdapat pada anak kecil dan menyadari bahwa dalam kelemahanpun, ia telah dilayakkan menjadi orang yang dikasihi, semata-mata karena ia memang ada.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Dalam kisah penciptaan, dunia telah diciptakan dalam kemajemukan. Semua ciptaan (manusia, binatang, dan tumbuhan) diciptakan dalam relasi setara. Saling membutuhkan, melayani, dan menolong. Selanjutnya, dalam perjalanan hidup manusia, kuasa dan ketamakan menyebabkan posisi tidak lagi setara. Cerita tentang kemarahan Yesus pada para murid menggambarkan kritik Yesus pada relasi tuan-hamba dan superior-inferior di kalangan orang Yahudi. Yesus membawa anak-anak yang berada di pinggiran ke pusat komunitas dan mengajak orang dewasa dengan rendah hati belajar dari kesederhanaan anak kecil. Anak-anak yang seringkali dipandang lemah, mereka juga adalah bagian dari komunitas. Yesus tidak hanya memberi contoh melalui perkataan, bahkan diri-Nya melalui salib menjadi contoh tentang bagaimana Ia peduli dan berbelarasa dengan manusia yang lemah dan penuh dosa. Dan melalui pengorbanan-Nya, Ia dimuliakan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Rumah bersama. Sebuah rumah dihuni oleh anggota keluarga. Terdiri dari orangtua, anak-anak, dewasa, laki-laki dan perempuan. Rumah adalah tempat setiap anggota keluarga untuk beristirahat, melepas lelah dari aktifitas bekerja dan belajar. Tidak hanya itu, di masa pandemi, rumah juga menjadi tempat ibadah, kerja, sekolah, dan segala aktifitas yang biasanya dilakukan di luar rumah. Hal ini berdampak pada semakin banyaknya waktu bersama di tengah keluarga, yang juga menuntut kerelaan untuk berbagi ruang dan tanggung jawab. Setiap orang dalam keluarga bersama-sama menjaga kebersamaan, berbagi ruang dan tanggung jawab, tidak peduli apakah ia bapak atau ibu atau anak perempuan atau anak laki-laki ataupun anggota keluarga yang lain. Karena rumah adalah rumah milik bersama.

Rumah bersama juga menjadi metafora tentang kehidupan manusia bersama dengan seluruh ciptaan yang lain. Semua hidup bersama di satu rumah yaitu bumi. Lebih dari 7 milyar manusia, 400 ribu lebih spesies tanaman dan 8 juta spesies fauna menghuni 510,1 juta km² luas bumi.

Tanpa sebuah kesadaran untuk berbagi ruang maka rumah bersama ini hanya akan menjadi tempat ajang kompetisi dan pertarungan demi kepentingannya sendiri. Manusia meminta alam memberi melebihi batas-batas yang dapat dihasilkannya yang mengakibatkan terjadinya penghancuran dan punahnya spesies flora dan fauna. Cerita tentang penolakan antar manusia yang menyebabkan kelompok minoritas tertindas. Keserakahan hanya terus mencari cara dan bentuk untuk mendapat ruang seluas-luasnya tanpa sebuah kesadaran bahwa dunia yang kita tinggali ini hanya satu.

Di tengah situasi ini, menjadi penting bagi kita untuk terlibat bersama menghayati bulan ekumene. Ekumene berasal dari bahasa Yunani yang berarti oikos ‘rumah’ dan menein ‘mendiami, tinggal’. Diterjemahkan sebagai rumah yang ditinggali bersama. Semangat ekumene ini mengajak setiap anggota warga bumi berbagi dan peduli membangun kehidupan bersama dengan berdampingan.

Isi
Saudara-saudari kekasih Tuhan, demikian dalam kisah Penciptaan, Allah menekankan bahwa manusia tidak diciptakan seorang diri. Adam bersama dengan Hawa yang adalah penolong baginya. Adam yang diciptakan terlebih dahulu bukan mengartikan bahwa Adam nomer satu dan Hawa diperbantukan kepada Adam, sebab kata kerja menolong (Ibr: azan) di dalam Alkitab tidak hanya digunakan untuk subyek yang lebih kuat atau mampu tetapi juga dalam relasi yang sejajar dengan orang yang ditolong. Selajutnya, Tuhan menempatkan manusia di taman untuk melayani (Ibr: abad, Indonesia: mengabdi kepada, LAI: mengusahakan) dan memeliharanya. Manusia diberi kuasa menamai dan memanfaatkan tanah, hewan, tanaman dan menjaganya sehingga dapat memberi hasil secara turun temurun untuk umat manusia. Dari pesan bacaan ini, Taman Eden digambarkan sebagai rumah bersama dimana setiap insan ciptaannya hidup secara berdampingan dengan kehidupan, saling memberi dan menerima. Manusia saling menolong. Alam memberi dari apa yang mereka miliki dan manusia mengusahakan serta memelihara demi keberlanjutan/ keberlangsungan. Dan itu dianggap baik dan cukup.

Keindahan taman Eden berubah, ketika manusia mulai menganggap apa yang dimiliki tidak cukup, keinginan menjadi seperti Allah lebih besar, maka manusia berhenti dari cukup, beralih pada ketamakan dan menolak peduli. Pemusatan pada diri sendiri (anthroposentris) inilah yang membawa manusia jatuh dalam dosa. Hal itu, selanjutnya tidak hanya menyebabkan rusaknya relasi manusia dengan Allah dan sesama saja, tetapi juga relasi dengan alam. Pesan ini kemudian mengingatkan manusia bahwa ketamakan adalah dosa itu sendiri.

Dalam kitab Injil, menolak berbagi ruang menyebabkan ketidakpedulian terhadap kelompok yang dianggap lebih lemah. Ketika ada orang yang membawa anak-anak kecil kepada Yesus supaya Tuhan menjamah mereka, murid-murid memarahi orang itu. Dalam tradisi Yahudi, ditengah pola kehidupan masyarakat yang didominasi orang dewasa, anak-anak seringkali tidak diperhitungkan, dianggap tidak produktif dan mudah dieksploitasi karena ketidakberdayaan dan kebergantungannya pada orang-orang dewasa. Anak kecil adalah yang terakhir dalam struktur keluarga dan masyarakat. Melihat hal itu, Tuhan Yesus marah dan berkata “Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah, sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya”. Ia memeluk dan meletakkan berkat atas mereka. Apa yang dilakukan Yesus adalah menempatkan martabat anak-anak kecil setara dengan orang-orang dewasa disekelilingnya. Tidak ada yang tertinggal. Semua mendapatkan ruang dan kesempatan. Yesus membawa anak-anak yang berada dipinggiran menuju pusat komunitas. Bahkan mengajari orang dewasa untuk melihat ulang kesederhanaan yang terdapat pada anak kecil dan menyadari bahwa dalam kelemahanpun, mereka telah dilayakkan menjadi orang yang dikasihi.

Penutup
Saudara, saudari kekasih Tuhan, pergumulan hidup bersama saudara dalam satu rumah terus diuji melalui berbagai dinamikanya. Saudara/ sedulur dalam rumah juga tidak selalu memiliki relasi harmonis, terkadang berkonflikpun menjadi sarana mengenal dan bertumbuh satu sama lain. Tetapi rupanya kebutuhan untuk terus terikat, bersama, dan bersatu menjadi kebutuhan. Kalau sampai saat ini, GKJW terus mengupayakan, memperjuangkan perjumpaan demi perjumpaan, dan menautkan diri dalam sebuah persekutuan. Artinya GKJW menyadari bahwa di rumah yang satu, GKJW telah, sedang dan akan golek sedulur (mencari saudara/ menjalin persaudaraan). Golek yang dalam bahasa Jawa berarti mencari adalah kata kerja aktif yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa pranata (ciri pokok ekumene) yang penuh prakarsa, tidak bersifat menunggu perintah dan penuh inisiatif). Dan sedulur dipahami sebagai siapapun yang berasal dari asal yang sama yaitu Allah (Ibrani 2:11-12). Maka saudara bukan hanya sesama manusia, tetapi yang diciptakan dan berasal dari Allah.

Sebagai gereja yang berekumene, GKJW berelasi dalam empati dan belarasa bukan hanya dengan lembaga gereja berbeda denominasi saja, tetapi juga kelompok-kelompok yang seringkali terpinggirkan di tengah komunitas. Dalam bacaan kita saat ini, anak-anak mewakili suara kelompok yang diposisikan rendah dan sengaja diposisikan berbeda seperti ras, warna kulit, usia, jenis kelamin, agama, kepercayaan, suku, bentuk tubuh, pilihan politik, disabilitas dll. Sikap terhadap kelompok yang berbeda seringkali menciptakan batasan, perlakuan stigma, diskriminasi, dan kekerasan.

Di perjamuan kudus ekumene ini, kita dipanggil terlibat dalam upaya menata dunia supaya menjadi rumah yang nyaman didiami oleh semua. Penulis Ibrani menyebutkan, pernyataan Yesus bagi manusia dan dunia melalui pancaran kemuliaan-Nya. Kemuliaan Yesus yang tidak ditampilkan dengan menggilas, menindas, dan merendahkan manusia melainkan melayani dan mati bagi mereka. Kemuliaan Allah yang merengkuh dan merangkul semua yang dicipta-Nya dalam penebusan. Kasih dalam kesediaan berkorban penuh kepedulian.

Tuhan Yesus telah menjadi teladan, bahwa salib adalah tentang keramahtamahan Allah menyambut manusia. Allah yang tidak menyerah dan berputus asa dengan manusia, bahkan di dunia yang hampir kehilangan harapan. Salib adalah tentang kepedulian dan keramahtamaan berbagi ruang supaya setiap insan bertumbuh dengan identitas dirinya, melakukan perjumpaan, dan bersahabat dengan sesamanya tanpa diskriminasi.

Mari kita syukuri bumi sebagai rumah, tempat kita bertumbuh, tetapi juga yang harus dilayani dan dipelihara demi keberlangsungan ciptaan Tuhan dan kemuliaan-Nya. Dan kiranya Tuhan memampukan kita menciptakan rumah yang terbuka, ramah, dan hangat sebab tanpa kepedulian dan niat berbagi ruang maka mustahil damai tercipta. Amin. (NW)

 

Pujian: KJ. 249 : 1, 2 Serikat Persaudaraan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Griya sesarengan. Griya ingkang dipun panggeni kaliyan anggota brayat, inggih punika tiyang sepuh, bocah, tiyang diwasa, jaler lan estri. Griya minangka papan kangge sedaya anggota brayat ngaso saking sedaya pakaryan. Boten namung punika kemawon, wonten ing salebeting pandemi, griya ugi dados papan ngabekti, makarya, pasinaonan, lan sedaya kegiyatan ingkang limrahipun dipun tindakaken ing sakjawinipun griya. Punika ndadosaken sangsaya kathah wekdhal sesarengan ing brayat, ingkang ugi nimbali sedaya tiyang saged ta mbagi ruang lan tanggel jawab. Sedaya anggota brayat boten preduli bapak utawi ibu, putri utawi putra, kasuwun tetep njagi patunggilan, nuduhake papan lan tanggel jawab. Amargi griya punika gadhahipun sedaya anggota brayat.

Griya punika minangka kiasan kangge gesang manungsa sesarengan kaliyan sedaya makhluk sanesipun. Sedaya gesang sesarengan wonten griya, inggih punika bumi. Langkung saking 7 milyar manungsa, 400 ewu luwih spesies tetanduran lan 8 yuta spesies fauna gesang sesarengan wonten ing 510,1 yuta km² wilayah bumi.

Tanpa pangertosan babagan ruang pambagi, griya namung dados papan kompetisi lan perang kapentingan pribadi. Manungsa namung mendhet hasil alam ngungkuli kaliyan ingkang saged dipun asilaken. Kahanan punika asring dadosaken karisakan spesies flora lan fauna. Carios babagan penolakan ing antara manungsa dadosaken kelompok minoritas katindhes. Sifat serakah asring pados cara supados angsal papan ingkang jembar, tanpa sadar menawi jagad ingkang kita panggeni punika namung satunggal.

Ing satengahing kahanan ing mekaten, kita tinimbalan ngegilut ing sasi ekumenis. Tembung Ekumene asalipun saking basa Yunani inggih punika oikos “griya” lan menein “manggen”. Bilih dipun artosaken dados manggen griya sesarengan. Semangat ekumenis punika nimbali sedaya anggota warga bumi mangun kapredulian babagan mbangun gesang sesarengan.

Isi
Para sedherekipun Gusti ingkang kula tresnani, wonten ing Kitab Purwaning Dumadi, Gusti Allah nitahaken manungsa boten ijen. Adam memitran kaliyan Hawa. Adam ingkang dipuntitahaken wiwitan, boten ateges Adam nomer setunggal lan Hawa namung dados rewang ingkang mbiyantu Adam, amarga tembung kriya pitulung (Heb: azan) ing Alkitab boten namung dipun ginakaken kangge tiyang ingkang langkung kiyat tinimbang tiyang ingkang dipun tulungi. Salajengipun, Gusti Allah mapanaken manungsa wonten ing taman supados saged leladi (Heb: abad, Indonesia: ngawula, LAI: ngupayakake) lan njagi. Manungsa dipun paringi kakiyatan kangge maringi nami lan ngginakaken sabin, kewan, tetanduran lan ngrimati supados saged ngasilaken berkah kangge putra wayah. Saking pesen punika, Taman Eden dipun gambaraken minangka griya ing pundi sedaya tiyang gesang sesarengan. Ngaturi lan nampi. Manungsa sami tulung tinulung. Alam maringi saking ingkang dipun gadhahi lan manungsa njagi alam. Sedaya dipun tingali sae lan cekap.

Kaendahan ing taman Eden boten langgeng, nalika manungsa nggalih bilih punapa ingkang dipun gadhahi boten cukup, raos kepingin dados kadosdene Gusti Allah langkung ageng, manungsa dados srakah lan boten preduli. Manungsa namung mikiraken gesang dhirinipun piyambak (antroposentris) ndadosaken manungsa dhumawah wonten ing dosa. Kahanan punika, saklajengipun boten namung ngrisak sesambetanipun manungsa kaliyan Gusti Allah lan sesami, nanging ugi kaliyan alam. Carios punika ngengetaken manungsa bilih srakah punika dosa.

Ing Injil, nyariosaken bilih nolak mbagi ruang dadosken gesang boten preduli kaliyan kelompok ingkang dipun anggep ringkih. Nalika wonten tiyang ingkang betha lare alit sowan dhateng Gusti Yesus, para sakabatipun Gusti Yesus sami nesu. Ing tradisi Yahudi, masyarakat dipun kuasani tiyang diwasa, bocah asring boten dipun gatosaken, kaanggep boten produktif lan gampil dipun eksploitasi amargi boten gadhah daya lan gumantung kaliyan tiyang diwasa. Bocah punika ingkang paling pungkasan ing struktur brayat lan ing masyarakat. Mirsani kahanan ingkang mekaten, Gusti Yesus dhawuh, “Ayo bocah-bocah teka ing Aku, aja ngalang-alangi, amarga wong-wong kaya ngono iku duwe Kratoning Allah, satemene sapa sing ora nampani Kratoning Allah kaya bocah cilik, dheweke ora bakal mlebu wae”. Gusti Yesus ngrangkul lan mberkahi para bocah. Ingkang dipun tindakaken Gusti Yesus punika supados bocah alit punika dipun ajeni kados dene tiyang diwasa sanesipun. Boten wonten ingkang katilar. Sedaya angsal panggenan lan wekdhal. Gusti Yesus bekta para bocah saking pinggiran tumuju pusat komunitas. Langkung-langkung, paring piwucal kangge tiyang diwasa supados nyinau gesanging bocah ingkang prasaja lan mangertos wonten ing karingkihanipun, anak-anak dipun tresnani.

Panutup
Para sedherek, kekasihipun Gusti Yesus, mangun gesang kaliyan sedherek wonten ing satunggil griya badhe kauji kanthi mawarni-warni dinamika. Gesang pasedherekan wonten griya, boten selaminipun nggadhahi sesambungan ingkang rukun, kadhang kala ugi dredah, nging samudayanipun saged dados sarana langkung tepang lan nuwuhaken gesang sesarengan. Nanging raos patunggilan, bebarengan, lan manunggal dados kabetahan. Nganti sapunika, GKJW tansah mbudidaya paseduluran. Kanthi sesanthi GOLEK SEDULUR. Golek wonten basa Jawa ngemu artos tembung kriya aktif ingkang katerjemahake tumindak ingkang kebak inisiatif, boten ngrantos prentah lan kebak inisiatif. Sedulur dipun mangertosi sinten kemawon ingkang asalipun sami, inggih punika saking Gusti Allah (Ibrani 2:11-12). Karana punika, sedulur boten namung manungsa kemawon, nanging ugi ingkang katitahaken lan asalipun saking Gusti Allah.

Minangka greja ekumenis, GKJW boten namung mangun empati lan welas asih kaliyan sadherek benten greja, nanging ugi klompok ingkang asring kaanggep alit wonten ing satengahing komunitas. Bocah-bocah wonten ing kitab Injil punika makili swantenipun klompok ingkang dipun anggep benten kaliyan padatanipun kados dene ras, warna kulit, umur, jenis kelamin, agami, kapitadosan, suku, preferensi politik, disabilitas lan sapanunggilanipun. Tumindak punika lajeng mangun wates, stigma, diskriminasi, lan kekerasan tumrap klompok ingkang kaanggep beda.

Ing komunitas ekumenis, kita dipun timbali nderek mranata jagad punika dados griya ingkang tinarbuka lan mberkahi sedaya umat. Juru serat Ibrani nyariosaken pratelanipun Gusti Yesus dhateng manungsa lan jagad punika kanthi wujud kamulyanipun. Kamulyanipun Gusti Yesus ingkang boten nindhes lan ngremehake manungsa, nanging ngawula lan seda kangge sedaya titahipun. Kamulyaning Gusti Allah ingkang ngrengkuh lan ngrangkul sedaya titah wonten ing panebusan. Katresnan kanthi kebak pangurbanan diri ingkang mawujud dados kapredulian.

Salib Yesus Kristus dados tuladha bab Gusti Allah ingkang sampun nampi manungsa. Gusti Allah ingkang boten semplah kaliyan manungsa, sanadyan jagad ngalami karisakan lan kicalan pangajeng-ajeng. Salib punika babagan preduli lan keramahtamahan mbagi ruang matemah sedaya tiyang saged tuwuh identitas pribadi, mangun kekancan lan memitran kaliyan tiyang sanes tanpa diskriminasi.

Swawi ngaturaken panuwun kangge bumi minangka griya, papan kangge kita tuwuh, lan ugi papan ingkang kedhah dipunjagi. Mugi Gusti Allah nyagedaken kita mangun griya ingkang tinarbuka, kebak katresnan awit tanpa preduli lan mbagi ruang, kahanan tentrem mokal kawujud. Amin. (NW)

 

Pamuji: KPJ. 357 : 1 Endahe Saduluran

Renungan Harian

Renungan Harian Anak