Bacaan : Yakobus 5 : 7 – 12 | Pujian : KJ. 445
“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” (Ayat 11).
Sabar adalah kata yang sering diucapkan ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan atau harapan. Kata sabar sangat mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Di dalam “sabar” mengandung usaha menjaga pikiran dan perasaan sehingga keinginan dan perbuatan kita dapat tetap tertata. Sabar juga berarti mampu bertahan dalam situasi sulit, tidak mengeluh, dan terus bekerja untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Yakobus mengajar kita untuk bersabar dan bertekun menantikan kedatangan Tuhan layaknya petani yang menantikan hasil tanamannya. Seorang petani tidak langsung memanen hasil tanamannya segera setelah menanamnya, namun melalui proses yang panjang. Setelah benih ditabur, bibit tanaman yang tumbuh harus dipupuk, disiram, dijaga dari hama dan penyakit hingga waktu untuk panen tiba. Petani yang menunggu hasil panen, tidak menunggu dengan diam, tetapi terus bekerja memelihara dan mengolah tanahnya. Sebab untuk memperoleh hasil terbaik memerlukan proses yang panjang sehingga harus bersabar dan bertekun.
Begitu pula dengan hidup kita yang sedang menantikan kedatangan Tuhan. Hidup tidak selalu berjalan dengan mulus, seringkali kita mengalami pergumulan dan kesesakan. Kita terkadang mudah mengeluh, bersungut-sungut, dan putus asa karena merasa tidak kuat. Melalui bacaan hari ini, Yakobus mengajar kita untuk sabar, bertekun, dan tetap mengerjakan bagian kita hingga saatnya tiba. Kita dapat melihat bagaimana Ayub tetap bertekun dalam kesusahannya. Ayub yang mendadak kehilangan keluarga, harta benda, dan menderita sakit, ia tetap sabar dan bertekun sehingga Tuhan memulihkan keadaannya. Bagaimana pun keadaan kita saat ini, mari tetap meneguhkan hati untuk tetap sabar dan bertekun mengerjakan bagian kita sambil menantikan Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan Allah yang penuh kasih sayang, tidak akan menegakan kita. (fani).
“Tetaplah sabar dan percayalah pada Tuhan.”