Slametan Pancaran Air Hidup 10 Mei 2021

10 May 2021

Bacaan:  Ulangan 7 : 1 – 11  |  Pujian:  KJ. 439
Nats: “… tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, …” (Ayat 8)

“Slametan” merupakan salah satu kekayaan budaya Jawa yang masih dilakukan saat ini. “Slametan” biasanya dilakukan sebagai bentuk syukur karena seseorang menerima sesuatu atau mewujudkan sesuatu yang memang dinantikan selama kurun waktu tertentu. Sebagai contoh: slametan setelah membeli mobil atau kendaraan lainnya, slametan bayi lahir, slametan mendapat hadiah tertentu dan masih banyak ragam slametan lainnya. Salah satu tujuan dari “slametan” adalah berterimakasih kepada Tuhan atas apapun yang telah diterima oleh orang yang mengadakan slametan tersebut. Acara “slametan” bisa dilakukan dengan mengundang tetangga sekitar dan makan bersama atau membagikan makanan kepada mereka. Tujuannya tidak lain adalah untuk berbagi sukacita atas kebaikan yang telah diterimanya.

Bacaan hari ini memberikan gambaran tentang kebaikan Tuhan yang diterima oleh umat Israel. Dalam pidatonya, Musa mengingatkan kembali kepada umat Israel bahwa mereka bisa bebas dari tangan Firaun di Mesir itu merupakan kebaikan Tuhan kepada mereka. Melalui peristiwa tersebut, Musa meyakinkan umat Israel bahwa kebaikan Tuhan akan terus dinyatakan. Tuhan berjanji akan senantiasa memberikan kasih setia-Nya bagi umat yang berpegang pada perintah-Nya. Janji kebaikan Tuhan bukan hanya berlaku bagi generasi tertentu saja melainkan bagi semua generasi bahkan beribu-ribu keturunan (ayat 9). Oleh sebab itu, kebaikan Tuhan itu harus terus diceritakan secara turun-temurun sebagai bentuk ungkapan syukur umat atas kebaikan Tuhan kepada mereka dari waktu ke waktu. Seperti yang sudah mereka alami yakni pembebasan dari tanah perbudakan di Mesir.

Sebagai umat kepunyaan-Nya janji kebaikan Tuhan juga berlaku bagi kita yang berpegang pada perintah-Nya. Dengan sadar itu sudah kita rasakan sejak dulu, kemarin, hari ini dan tentu hari esok. Sekalipun tidak semua kebaikan Tuhan harus diungkapkan dengan “slametan”, namun mari tetap menandai kebaikan Tuhan yang kita alami sebagai bentuk ungkapan syukur. Bagaimana caranya? Mewartakan kebaikan Tuhan itu kepada banyak orang melalui kehidupan kita sehari-hari. (TpJ)

“Karena Slametan bukan hanya tentang bagi-bagi makanan, tetapi juga berbagi cerita tentang kebaikan Tuhan”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak