Kebangkitan-Nya Menumbuhkan Pengharapan Khotbah Minggu Paskah 4 April 2021

22 March 2021

Bacaan 1Yesaya 25 : 6 – 9
Bacaan 2
1 Korintus 15 : 1 – 11
Bacaan 3
Yohanes 20 : 1 – 18

Tema Liturgis: Kebangkitan telah Terjadi dan Kami Hanyalah Saksi-Saksi-Nya
Tema KhotbahKebangkitan-Nya Menumbuhkan Pengharapan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 25: 6 – 9
Kitab Nabi Yesaya yang kita kenal sekarang, sebenarnya bukanlah sebuah satu kesatuan. Namun ia terdiri dari tiga bagian yang memiliki latar belakang historis yang berbeda. Tiga bagian Yesaya tersebut adalah: Proto-Yesaya (psl. 1-39) dengan latar belakang krisis yang disebabkan oleh ancaman Asyur terhadap Yehuda di masa pra-pembuangan; Deutero-Yesaya (Yes. 40-55) dengan latar belakang masa pembuangan di Babel; dan Trito-Yesaya (Yes. 56-66) yang ditujukan pada rakyat Yehuda yang kembali dari pengasingan. Jadi, teks kita hari ini termasuk ke dalam bagian pertama Kitab Yesaya yang memiliki konteks krisis geo-politis yang cukup mencekam, sehingga cenderung memiliki tema eskatologis (pengharapan akan akhir jaman) yang kuat.

Pasal 25 diawali dengan  nyanyian syukur pada Allah yang dinyanyikan oleh tua-tua umat (lih. 24:23). Allah telah setia pada janji yang dibuat sejak nenek moyang Israel dengan meruntuhkan bangsa tiran yang menindas umat-Nya (ay.1-2). Karena itulah, bangsa milik Allah merayakan penyertaan Tuhan dan menjadikan-Nya tempat perlindungan (ay.3-5). Ucapan syukur ini dilanjukan dalam perikop selanjutnya dengan kiasan tentang perjamuan makan ilahi di Gunung Sion. Penyebutan Sion dalam bagian ini menarik, karena secara tidak langsung mengajak pembacanya saat itu untuk membandingkannya dengan gunung suci yang lain, yaitu Sinai. Berbeda dengan Gunung Sinai yang mewakili sifat “ekslusif” Israel karena hanya berlaku untuk Musa dan para tua-tua Israel bnd. Kel 24:9-11 (Sinai bersifat partikular), Gunung Sion justru disebut sebagai tempat segala bangsa dapat menikmati perjamuan dengan masakan yang bergemuk dan anggur yang tua benar (universal). Perjamuan ini bukan hanya menyediakan makanan dan minuman terbaik (ay. 6), namun juga sukaria yang tak pernah terputus bahkan oleh maut sekalipun. Karena Allah sendiri yang telah meniadakan maut, mengoyakkan kain kabung dan menghapuskan semua air mata (ay. 7-8). Gambaran perjamuan universal ini kemudian dilanjutkan dengan respon umat dalam bentuk himne singkat yang berisi pengakuan bahwa Allahlah yang dinantikan untuk membawa keselamatan (ay. 9). Demikianlah, di tengah krisis yang mencekam, para umat pilihan diajak untuk berpengharapan hanya Tuhanlah yang menjadi sumber keselamatan. Bukan hanya keselamatan partikular, namun juga terutama keselamatan universal.

1 Korintus 15: 1 – 11
Meski diberi nama “Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus”, sebenarnya surat ini bukanlah yang benar-benar pertama. Sebelumnya sudah ada korespondensi antara Paulus dan Jemaat di Korintus. 1 Kor 5:9 menunjukkan bahwa sudah ada surat terdahulu yang dikirimkan Paulus pada Korintus, dan sebaliknya telah ada kabar yang Paulus dengar (1:11) dari surat terdahulu yang nampaknya berisi tentang laporan dan pertanyaan Korintus pada Sang Rasul. 1 Korintus yang kita miliki sekarang adalah salah satu surat dari korespondensi antara Paulus dan Jemaat di Korintus yang memuat pendapat teologis-retoris Paulus dalam menanggapi berbagai pertanyaan dan juga ancaman perpecahan yang dialami oleh Jemaat. Dalam membaca teks yang berbentuk ayat dalam Perjanjian Baru, kita harus sadar bahwa kita menjadi pihak ketiga dalam komunikasi dua arah antara penulis dan pembaca asli. Kita sebagai pembaca masa kini, tidak berbagi konteks yang sama dengan penulis dan pembaca asli surat, oleh sebab itu rekonstruksi atas konteks korespondensi mutlak dilakukan dalam proses penafsiran.

Bagian bacaan ini memuat teologi Paulus mengenai kebangkitan Kristus sebagai pilar utama iman Kristen. Nampaknya perihal kebangkitan ini menjadi salah satu pertanyaan yang diajukan Korintus pada Sang Rasul. Sebenarnya, permasalahan utamanya bukanlah pada kebangkitan Kristus itu sendiri, melainkan pada kebangkitan tubuh. Kebangkitan adalah tema yang kompleks bagi Jemaat di Korintus saat itu, karena sama dengan hampir semua Jemaat di abad pertama, Jemaat di Korintus juga terdiri dari orang Kristen-Yahudi (orang-orang yang tadinya beragama Yahudi, kemudian menjadi Kristen) dan orang Kristen-Yunani (orang-orang yang tadinya percaya pada dewa-dewi Yunani/pagan, kemudian menjadi Kristen). Tema kebangkitan kemudian menjadi masalah dalam perkembangan iman Jemaat, karena alam pikir dua konteks (Yunani dan Yahudi) itu sama-sama memiliki persepsi khusus tentang kebangkitan tubuh. Secara umum, alam pikir Yunani mempercayai bahwa jiwa itu abadi, namun mereka tidak menghargai tubuh, sebab tubuh dianggap sebagai sumber dari kelemahan dan dosa manusia. Jadi, kematian adalah terbebasnya jiwa abadi seseorang dari tubuh fananya dan kebangkitan hanya akan memenjarakan jika lebih lama. Sedang dalam Yudaisme, terutama dalam Golongan Saduki, mereka menolak sama sekali keyakinan tentang kehidupan setelah kematian. Keyakinan ini didasarkan pada gambaran Perjanjian Lama mengenai dunia orang mati: syeol. Jadi, tidak ada kekekalan jiwa atau kebangkitan tubuh, yang ada setelah kematian hanyalah kehampaan, kesuraman dan kegelapan dalam syeol. Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa baik alam pikir Yunani maupun Yahudi sama-sama menolak paham kebangkitan tubuh dan menganggap bahwa kematian adalah akhir dari segala sesuatu.

Rasul Paulus sadar bahwa pengaruh paham ini berbahaya, karena jika Jemaat tidak mempercayai kebangkitan tubuh maka kebangkitan Kristus juga akan diragukan kebenarannya. Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan Jemaat di Korintus bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah pusat dari berita Injil yang menyelamatkan. Jika gagal mempercayai kebangkitan tubuh, maka sia-sia pulalah iman terhadap Kristus yang bangkit (bnd. ay.2b & 17). Paulus memberikan bukti kronologis mengenai kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus yang telah disaksikan sendiri oleh para murid, yang bahkan ada yang masih hidup sampai surat itu ditulis (ay. 4-7). Dengan data kronologis ini, Paulus sedang ingin memberikan bukti pada Korintus bahwa kematian dan kebangkitan Yesus itu suatu kebenaran yang pernah dilihat dengan mata kepala  sendiri oleh orang-orang yang layak dipercaya.

Dalam bagian selanjutnya, Paulus juga menyebut dirinya sendiri sebagai salah satu saksi yang melihat sendiri Yesus yang bangkit itu, meski dengan cara yang tidak “normal”. Karena itulah Paulus menyebut dirinya sebagai ektroma (lahir prematur, anak yang lahir sebelum waktunya yang biasanya buruk atau cacat) di ay.8. Kata ektroma adalah kata hinaan yang kemungkinan saat itu dipakai para lawan Paulus untuk mengolok-olok rupanya yang tak elok. Jadi, dengan sengaja Paulus menggunakan kata yang sama untuk mengidentifikasi siapa dirinya di tengah para rasul Kristus yang lainnya. Meski ia paling hina karena pernah menganiaya jemaat Allah, ia beroleh kasih karunia untuk terus bekerja keras mengajar dan mengabarkan Injil Kristus yang bangkit (ay. 9-11).

Yohanes 20: 1 – 18
Tidak seperti Injil Sinoptik (tiga injil pertama) yang menggambarkan sekelompok perempuan yang datang ke kubur Yesus di hari Minggu pagi, penulis Injil Yohanes memilih untuk menyebutkan bahwa Maria Magdalena seorang dirilah yang datang di pagi itu (bdk. Mat. 28:1-10, Mrk. 15:42-47 dan Luk. 23:50-56). Dalam narasi Yohanes ini, Maria Magdalena digambarkan tidak mampu membendung gejolak hati karena kasihnya pada Yesus. Sudah menjadi tradisi di masa itu, bahwa jenazah yang telah dimakamkan akan diberi rempah-rempah di hari yang ketiga. Itulah yang sedianya akan dilakukan oleh Maria Magdalena, ia tak menunggu matahari terbit, ia segera berangkat ke kubur saat Sabat telah lewat.

Sebenarnya keputusan Maria untuk datang ke kubur Yesus seorang diri adalah keputusan yang beresiko besar. Yohanes menggambarkan bahwa Maria Magdalena pergi ke kubur saat pagi benar dan hari masih gelap (ay. 1), keterangan ini menunjukkan resiko yang diambil oleh Maria Magdalena. Pertama, kubur bagi orang Yahudi adalah tempat yang najis, sehingga letaknya pastilah jauh dari kota agar tak mencemari orang yang akan beribadah di Yerusalem. Kedua, perjalanan ke luar kota sangat membahayakan apalagi untuk seorang perempuan yang berjalan sendirian. Selain beresiko tersesat atau terantuk batu karena gelap, Maria Magdalena juga bisa saja jadi korban kejahatan. Ketiga, Maria Magdalena jelas paham bahwa makam di jaman itu bukanlah sebuah lobang di tanah dengan kijing di atasnya, melainkan sebuah goa yang ditutup dengan batu yang sangat besar. Ia pastilah paham bahwa kemungkinan besar ia tak akan kuat menggulingkan batu itu sendirian. Namun, resiko-resiko itu tidak membuat Maria Magdalena mengurungkan niatnya. Ia tetap pergi, digerakkan oleh kasih yang membuncah. Namun, setibanya di kubur ekspektasinya buyar, batu telah terguling dan tubuh Yesus menghilang. Beberapa opsi muncul di kepala Maria, ia mungkin mengira bahwa orang-orang Yahudilah yang merasa belum cukup menghukum Yesus sehingga mencuri tubuh-Nya atau pihak Romawi yang berusaha menghilangkan jasad-Nya untuk meredam pergerakan pendukung-Nya. Tanpa pikir panjang, Maria Magdalena berlari-lari kembali ke kota dan memberitahu Petrus dan Yohanes. Setelah penyangkalan yang dilakukannya, ternyata Petrus masih dianggap sebagai pemimpin para murid, sebab itulah Maria datang padanya. Kedua murid itu berlari bersama menuju kubur, tetapi Yohanes berlari lebih cepat ketimbang Petrus. Yohanes hanya menjenguk ke dalam, sedang Petrus masuk dan melihat kain kapan yang tergeletak. Keberadaan kain kapan ini menunjukkan bahwa bukan pencuri yang melakukannya, tidak mungkin pencuri jenazah membuang waktu untuk melepas kain kapan apalagi menggulungnya. Mereka sadar, bahwa Sang Guru itu telah bangkit, seperti yang sering Ia katakan selama ini. Kebangkitan Kristus membuka kenyataan bahwa ternyata selama mengikut Yesus, para murid utama ini belum percaya. Peristiwa kebangkitanlah yang akhirnya membuat mereka mengerti isi Kitab Suci dan percaya (ay. 8-9). Kebangkitan Kristus yang menjadi pusat dari kebangkitan iman.

Pusat narasi kemudian kembali pada Maria Magdalena yang baru tiba dan berada di sana sendirian karena dua murid itu telah pergi. Hatinya hancur, ia tak bisa lagi menahan tangisnya. Berbeda dengan dua orang murid lelaki yang hanya bertemu dengan kubur kosong, Maria bertemu dengan dua orang malaikat yang menyapanya (ay. 11-13). Tanpa menyadari benar siapa dua orang itu, Maria menjawab mereka dengan jawaban menarik: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu dimana Ia diletakkan”. Secara gramatika, Maria menggunakan kasus Genetif mou yang menerangkan kepemilikan pada kata ton Kurion (Tuhan), ini menunjukkan bahwa pusat kesedihannya bukanlah kematian Yesus itu sendiri melainkan kehilangan jasadNya. Maria merasa bahwa jasad Yesus itu miliknya. Rasa kepemilikan itu diulanginya pula saat Yesus yang telah bangkit itu bertanya mengapa ia menangis. Barulah setelah Kristus menyebut namanya, kesedihan yang diakibatkan keegoisan dan rasa memiliki gugur, dan membuat Maria mampu mengenal-Nya dan menyebut-Nya, “Rabuni”. Setelah itu, Maria bagai memiliki energi baru. Ia bangkit, berjalan (atau mungkin juga berlari) mendapati para murid lain untuk mengabarkan berita penting bagi keselamatan semua ciptaan: “Aku telah melihat Tuhan!”.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Kebangkitan Kristus adalah pondasi iman kita, Dia benar-benar mati dan karenanya benar-benar bangkit. Bersama kebangkitan Kristus, iman kita pun turut dibangkitkan. Sama seperti Yesus menyapa Maria secara personal, kuasa kebangkitan-Nya juga berlaku bagi kita secara personal pula. Namun, kebangkitan Kristus ini tidaklah bersifat eksklusif, karya keselamatan Allah dalam kebangkitan Kristus juga bersifat universal. Dia menderita, mati dan bangkit untuk keselamatan dan keutuhan segala ciptaan. Oleh sebab itu, penghayatan akan kebangkitan Kristus harus membawa keterbukaan dan penerimaan universal, bukan penghakiman. Perayaan akan kemenangan Kristus harus membawa kita berjumpa secara personal dengan Tuhan dan membawa berita penting pada dunia: “Aku telah melihat Tuhan!”

 

Rancangan Khotbah:  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Bapak, Ibu dan saudara yang terkasih. Rindu, sering dilukiskan dalam peribahasa “bagai pungguk merindukan bulan”. Ada banyak  versi kisah di belakang peribahasa itu, kali ini saya memilih salah satu diantaranya. Alkisah ada seorang pemuda desa yang tampan bernama Pungguk. Suatu hari, ia bertemu dengan iring-iringan Putri kerajaan yang bernama Bulan. Tak sengaja, Pungguk dan Putri Bulan saling memandang dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Hampir mustahil bagi rakyat jelata seperti Pungguk untuk mendekati Sang Putri, karena itu hal yang terlarang. Namun di suatu malam bulan purnama, mereka berdua bertemu di sebuah bukit untuk saling menyatakan cinta. Putri Bulan dan Pungguk sangatlah berbahagia malam itu, karenanya mereka berjanji untuk bertemu kembali di tiap malam bulan purnama.

Setelah perjumpaan itu, mereka berdua berpisah dengan harapan bisa bertemu lagi di malam purnama bulan depan. Putri Bulan pulang ke Istananya dengan aman. Namun, tanpa sepengetahuan Sang Putri, para prajurit kerajaan menangkap Pungguk, membunuhnya dan membuang mayatnya ke sebuah jurang. Konon karena rasa rindu dan harapannya berjumpa lagi dengan sang kekasih hati sangat besar, para dewa mengubah jasadnya menjadi seekor burung. Pada tiap malam bulan purnama, burung itu terbang ke dahan tertinggi di bukit, memandang bulan dan bersuara….pungguuuukkk pungguuuuukk. Karena itulah burung itu disebut Pungguk sampai sekarang.

Kisah tidak berhenti di situ, rindu tidak hanya dirasakan oleh si Pungguk. Putri Bulan pun dengan setia terus datang ke bukit itu tiap malam bulan purnama, tanpa pernah tahu bahwa kekasih jiwanya telah tiada. Demikianlah, harapan terus membuat Pungguk dan Putri Bulan datang ke bukit itu di tiap malam bulan purnama, meski mereka tak pernah berjumpa. Inilah kekuatan dari sebuah harapan.

Isi
Saudara-saudara yang terkasih, harapan seringkali menjadi alasan bagi kita untuk terus berjuang dan berusaha meskipun sedang ada dalam masa krisis dan kritis. Kerajaan Yehuda juga pernah ada dalam masa krisis karena ancaman Kerajaan Asyur yang besar dan kuat. Di atas kertas, Yehuda pastilah tak akan menang jika melawan Asyur. Namun, justru dalam kondisi krisis inilah mereka memelihara pengharapan pada Allah. Mereka percaya bahwa hanya Allah yang menjadi tempat perlindungan mereka. Dalam tulisannya, Yesaya mengajak Yehuda untuk turut dalam pesta ilahi di Gunung Sion (25:6). Penyebutan Sion dalam bagian ini menarik, karena secara tidak langsung mengajak pembacanya saat itu untuk membandingkannya dengan gunung suci yang lain, yaitu Sinai. Berbeda dengan Gunung Sinai yang mewakili sifat “ekslusif” karena hanya berlaku untuk Musa dan para tua-tua Israel bnd. Kel 24:9-11 (Sinai bersifat partikular), Gunung Sion justru disebut sebagai tempat segala bangsa dapat menikmati perjamuan dengan masakan yang bergemuk dan anggur yang tua benar (universal). Demikianlah, di tengah krisis yang mencekam, para umat pilihan diajak untuk berpengharapan hanya Tuhan yang menjadi sumber keselamatan. Bukan hanya keselamatan partikular dan personal, namun juga terutama keselamatan universal.

Dalam teologi Paulus, karya keselamatan universal terjadi dalam diri Kristus yang benar-benar mati dan benar-benar bangkit. Penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya bukanlah isapan jempol karena telah disaksikan sendiri oleh para rasul. Jemaat di Korintus yang menyangsikan kebangkitan tubuh, diingatkan dengan keras oleh Paulus. Sang Rasul juga menunjukkan bahwa dirinya yang tadinya paling hina karena menganiaya jemaat Tuhan, justru kini beroleh karunia untuk bekerja mengabarkan injil. Pengharapan, hanya bisa diletakkan pada kebangkitan.

Harapan juga memampukan Maria Magdalena untuk berjalan sendirian keluar kota Yerusalem dan mengambil resiko besar untuk merempahi jenazah Yesus. Tapi, harapan itu ambyar saat ia menemukan kuburnya kosong. Maria Magdalena kehilangan harapan, apalagi saat dua murid lain, Petrus dan Yohanes, yang ia harap dapat menemukan jawaban atas hilangnya Yesus justru meninggalkannya sendirian. Yang bisa dilakukan Maria, hanyalah menangis putus asa. Tangisan Maria ini ternyata bersumber dari kelirunya meletakkan pengharapan. Ia berharap berjumpa mayat, tapi saat berjumpa Dia yang hidup, Maria tak mampu mengenali-Nya. Ia berharap menemukan kematian, tapi saat menemukan kebangkitan, Maria tak mampu mengenali-Nya. Kesedihan dan kehilangan menjadi pusat hidup Maria Magdalena sampai Kristus sendiri yang menyebut namanya dengan lembut, “Maria”. Dengan sapaan personal inilah, Maria Magdalena diubahkan. Pengharapannya kembali muncul dan kepercayaannya kembali kuat. Karena itu, meski pasti lelah karena sudah berjalan bolak balik, Maria tetap bangkit, menuju Yerusalem Kembali dengan membawa kesaksian besar: “Aku telah melihat Tuhan”

Penutup
Mungkin masih segar di ingatan kita, bagaimana perayaan Paskah tahun 2020 lalu, yang kita rayakan dan hayati di tengah-tengah krisis akibat pandemi Covid-19. Saat menulis bahan RK ini, saya tidak tahu bagaimana kondisi Paskah kita tahun ini. Tapi yang jelas, kondisi krisis dan kritis pastilah terjadi dalam hidup kita, entah bagaimanapun bentuknya. Di hari Paskah ini, marilah kita syukuri karya penyelamatan universal Allah dalam kebangkitan Yesus. Dia menderita, mati dan bangkit untuk keselamatan dan keutuhan segala ciptaan. Oleh sebab itu, penghayatan akan kebangkitan Kristus harus membawa keterbukaan dan penerimaan universal, bukan penghakiman. Perayaan akan kemenangan Kristus harus membawa kita berjumpa secara personal dengan Tuhan dan membawa berita penting pada dunia: “Aku telah melihat Tuhan!”

Mengabarkan berita kebangkitan ini memang tak mudah, tapi sama seperti Putri Bulan dan Pungguk yang setia karena pengharapan, mari kita pun belajar untuk meletakkan pengharapan kita hanya pada Tuhan. Selamat Paskah dan selamat terus menjaga harapan. Amin. (Rhe)

Nyanyian:  KJ. 189 : 1 – 4   Yerusalem

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Bapak, Ibu lan para sederek ingkang kinasih, raos kangen punika asring dipun gambaraken kaliyan paribasan “bagai pungguk merindukan bulan”. Paribasan punika nggadah versi carios ingkang mawarni-warni, wekdal punika kula milih salah setunggalipun. Ing sawijining dinten wonten pemuda desa ingkang bagus naminipun Pungguk. Piyambakipun pinanggih kaliyan rombongan Putri Kraton ingkang naminipun Bulan. Boten sengaja, Pungguk mandeng dhateng Putri Bulan, mekaten ugi kosokwangsulipun, Pungguk lan Putri Bulan sami ngraosaken tresna wiwit kekalihipun pinanggihan. Kadosipun mokal kanggenipun rakyat biasa kados Pungguk nyedaki Putri Bulan, awit punika dipun larang. Ananging ing sawijining dalu nalika wulan purnama, kekalihipun pinanggihan ing bukit lajeng sami ngaturaken raos tresnanipun. Putri Bulan lan Pungguk saestu rumaos bingah ing dalu punika, karana punika kekalihipun sami janji badhe pinanggih malih saben dalu purnama.

Sasampunipun pepanggihan punika, kekalihipun pisah kanthi pengajeng-ajeng saged pinanggih malih ing purnama wulan ngajeng. Putri Bulan wangsul dhateng istana kanthi wilujeng. Nanging, tanpa sapangertosaning Sang Putri, para prajurit kraton sami nyepeng Pungguk, mejahi piyambakipun lajeng bucal layonipun dhateng jurang. Konon karana raos kangen lan pengajeng-ajengipun saged pinanggih malih kaliyan Putri Bulan, para dewa ngubah layonipun Pungguk dados peksi. Ing wanci wulan purnama, peksi punika mabur lan ugi mandap ing wit ingkang paling inggil ing bukit, mandeng bulan lan ngedalaken suanten … pungguuukkk pungguuukkk. Karana punika peksi punika dipun sebat Pungguk ngantos sapunika.

Carios punika boten kandek ngantos semanten, raos kangen ugi dipun raosaken Putri Bulan. Putri Bulan kanthi setya dugi ing bukit punika saben dalu purnama. Putri Bulan boten nate sumerep bilih Pungguk sampun tilar donya. Mekaten, pengajeng-ajeng dadosaken Pungguk lan Putri Bulan dumugi dhateng bukit punika saben dalu purnama, senajan kekalihipun boten nate pinanggih. Punika kakiyatan saking pengajeng-ajeng.

Isi
Para sederek ingkang kinasih. Pengajeng-ajeng punika kedahipun dados alasan kangge kita terus ngupaya lan usaha senajan kita ing mangsa krisis lan kritis. Kraton Yehuda ugi nate wonten mangsa krisis karana ancaman saking kraton Asyur. Ing kasunyatan, Yehuda tamtu kalah bilih nglawan Asyur. Ananging, justru ing kahanan ingkang krisis punika Yehuda tansah ngugemi pengajeng-ajeng dhumateng Gusti Allah. Bangsa Yehuda pitados bilih namung Gusti Allah kemawon ingkang dados papan pangungsen. Ing seratanipun, Nabi Yesaya ngajak bangsa Yehuda tumut ing pesta illahi wonten redi Sion (25:6). Nami Sion ing perangan punika sacara boten langsung sami ngajak pamaos kitab Yesaya punika bandingaken kaliyan redi suci sanesipun, inggih punika Sinai. Benten kaliyan redi Sinai ingkang sifatipun “ekslusif” karana namung Musa lan para sesepuhing bangsa Israel ingkang saged pinanggih Gusti Allah (Pangentasan 24:9-11), kosokwangsulipun redi Sion saged dipun wastani papan kangge sadaya bangsa ngraosaken bujono kanthi tetedhan ingkang kebak lemak lan anggur ingkang sae. Mekaten, ing salebeting krisis ingkang bebayani, para umat piniji kaajak masrahaken gesang dhateng Gusti Allah ingkang dados sumbering kawilujengan. Boten namung kawilujengan partikular lan personal, nanging kawilujengan universal.

Salebeting teologi Paulus, karya kawilujengan sacara universal punika karana Gusti Yesus Kristus sampun kersa pejah lan wungu. Kasangsaran, pejah lan wungunipun saestu nyata karana kathah ingkang nyekseni kalebet para rasul. Pasamuan Korinta ingkang sangsi tumrap wunguning badan, dipun engetaken rasul Paulus. Paulus nedahaken bilih piyambakipun punika ingkang paling nistha awit saking nganiaya pasamuanipun Gusti, ananging sapunika pinaringan sih rahmatipun Gusti kangge babaraken Injiling Gusti. Pengajeng-ajeng punika wonten karana wunguning Gusti Yesus.

Sarana pengajeng-ajeng, Maria Magdalena mlampah piyambak, medal saking kitha Yerusalem lan nanggel resiko ingkang ageng kagem ngrimati layonipun Gusti Yesus. Ananging pengajeng-ajeng punika ambyar nalika ningali pasarean punika suwung. Maria Magdalena kecalan pangajeng-ajeng, punapa malih nalika Petrus lan Yohanes ingkang dipun ajeng-ajeng saged mangertos ing pundi layonipun Gusti Yesus, nyatanipun nilar piyambakipun. Maria Magdalena namung nangis pasrah. Tangisanipun Maria punika karana piyambakipun klentu anggenipun mapanaken pengajeng-ajengipun. Piyambakipun ngajeng-ajeng saged pinanggih layonipun Gusti Yesus, pramila nalika pinanggih Gusti Yesus ingkang gesang, Maria boten wanuh kaliyan Gusti Yesus. Piyambakipun ngajeng-ajeng pinanggih Gusti ingkang pejah, nalika pinanggih Gusti Yesus ingkang wungu, piyambakipun boten saged mengertosi bilih punika Gusti Yesus. Raos sedih lan kecalan Gusti Yesus dados pusat gesanging Maria Magdalena ngantos Gusti Yesus nimbali Maria kanthi lembut, “Maria”. Sarana timbalan punika Maria Magdalena dipun ubah, pangajeng-ajengipun tuwuh malih mekaten ugi iman kapitadosanipun sangsaya kiyat. Karana punika, sanajan sampun sayah karana lumampah bola-bali, Maria tetep lumampah dhateng Yerusalem kanthi betha kesaksian ingkang ageng : “Aku wus ndeleng Gusti Yesus”.

Panutup
Tamtu kita taksih enget, kados pundi panghargyan Paskah ing tahun 2020 kepengker ingkang kita pengeti lan hayati ing kawontenan krisis pandemi Covid-19. Nalika nulis bahan RK punika, kula boten mangertos kados pundi kahanan Paskah kita taun punika? Ingkang jelas, kahanan krisis lan kritis tansah wonten ing gesang kita, kadosa punapa kemawon wujudipun. Ing dinten Paskah punika, mangga kita sami saos sukur dhateng Gusti Allah tumrap sedaya pakaryan lan wungunipun Gusti Yesus. Gusti Yesus ingkang nandhang sangsara, pejah lan wungu malih kangge kawilujengan lan kautuhan sedaya titah. Karana punika, anggenipun kita ngraosaken bab wungunipun Gusti Yesus punika kedahipun dadosaken kita saged bikak lan nampi kawilujengan. Panghargyan bab kamenangan Gusti Yesus Kristus kedah dadosaken kita saged pinanggih Gusti sacara pribadi lan dadosaken kita saksi ingkang martosaken warta : “Aku wis ndeleng Gusti Yesus!”

Martosaken kabar wungunipun Gusti Yesus punika boten gampil, ananging kados Putri Bulan lan Pungguk ingkang setya karana pengajeng-ajeng, sumangga kita ugi purun sinau masrahaken pengajeng-ajeng lan gesang kita dhumateng Gusti. Sugeng Paskah lan sugeng nglajengaken pengajeng-ajeng. Amin. (terj. AR).

Pamuji:  KPJ. 258   Gusti Yesus Wus Wungu

Renungan Harian

Renungan Harian Anak