Memento Mori: Ingatlah Akan Hari Kematianmu! Khotbah Sabtu Sunyi 3 April 2021

22 March 2021

Sabtu Sunyi – Pekan Suci
Stola Putih

Bacaan 1: Ayub 14: 1–14
Bacaan 2: 1 Petrus 4 : 1 – 8
Bacaan 3: Matius 27 : 57 – 66

Tema Liturgis:   Kepatuhan dan Kerendahan Hati Menghasilkan Ketenangan dan Persatuan
Tema Khotbah:  Memento Mori: Ingatlah Akan Hari Kematianmu!

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ayub 14 : 1 – 14
Ayub mengungkapkan sebuah penghayatan bahwa hidup manusia itu singkat seperti bunga yang berkembang, lalu layu. Kehidupan dan keberadaan manusia begitu singkat dan fana, bahkan dibandingkan dengan pohon, hidup manusia tidak dapat menandingi daya hidup sebuah pohon, “karena bagi pohon masih ada harapan; apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh.(Ayub 14 : 7). Ketika manusia mati, tak ada yang bisa dilakukan dan tak ada lagi pengharapan, seperti yang diungkapkan dalam ayat 10, “Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?”. Pemahaman Ayub adalah pemahaman banyak orang dalam Perjanjian Lama. Tak ada lagi pengharapan, tak ada lagi kehidupan setelah kematian, sebab orang Israel memahami bahwa roh dan tubuh adalah satu keutuhan. Berdasarkan pemahaman yang demikian, manusia takut menghadapi kematian. Ayub berupaya menghilangkan ketakutan karena kematian itu dengan memohon pertolongan dari Tuhan, “Ah, kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut; dan menetapkan waktu bagiku, kemudian mengingat aku pula!” (ayat 13). Dalam kesemuanya itu, Ayub sadar bahwa  kematian adalah kehendak Tuhan. Bila Tuhan memanggil manusia untuk kembali kepada-Nya, siapa yang bisa menolak? (ayat 14-25).

1 Petrus 4: 1–8
1 Petrus 4:1-8 adalah bagian yang lekat dengan 1 Petrus 3:19. Kesaksian 1 Petrus 3:19 menunjuk pada aktifitas Kristus di dalam dunia Roh. Seorang penafsir yang bernama William Barclay mengatakan sesungguhnya di antara kematian dan kebangkitan-Nya, saat Tuhan Yesus wafat, Roh-Nya tidak berdiam diri tanpa karya keselamatan dan penebusan. Sebaliknya Roh Kristus menyatakan karya keselamatan Allah dengan membebaskan roh-roh yang pada zaman Nuh tidak taat kepada Allah (1 Petrus 3:20). Di dalam Roh itulah Tuhan Yesus membawa kabar sukacita ke dunia bawah (hades/sheol). Artinya, Yesus hidup dalam tubuh manusia dan berada dalam keterbatasan-Nya. Ia telah mati dan dikuburkan sebagaimana manusia biasa, namun Ia menunjukkan solidaritasnya kepada manusia yang lemah dan tidak berpengharapan agar kelak manusia mendapat pembebasan dari Allah.

Senada dengan Barclay, seorang teolog bernama Von Baltshasar memberikan bukti paling kuat tentang solidaritas Kristus yang secara liturgis dinampakkan melalui Sabtu Sunyi atau Misteri Sabtu Suci. Sabtu Sunyi tidak hanya sekedar tentang turunnya Yesus ke dunia bawah, melainkan juga tentang solidaritas-Nya kepada orang berdosa dalam kematian. Meskipun Ia tidak berdosa, Ia mati sebagai orang berdosa dan mengalami “neraka”, yaitu keadaan ditinggalkan oleh Bapa-Nya dengan cara yang tidak mungkin bagi manusia. Dalam keadaan itu pula, sebagai orang yang “turun ke neraka”, Ia adalah lambang bahwa Allah tidak mau meninggalkan orang berdosa, bahkan di tempat di mana tak ada Allah di sana. Sabtu Sunyi adalah waktu di mana Allah melalui Yesus Kristus yang mati dan Roh-Nya turun ke dunia bawah, memancangkan salib di tengah neraka sebagai tanda cinta dan belas kasih Allah yang tak terperikan.

Dengan melihat karya Yesus di neraka, Petrus mengajak jemaat penerima suratnya untuk menghayati bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas kehidupan dan kematian. Penting di sini untuk melihat bahwa kehidupan dan kematian adalah satu kesatuan yang ada di bawah kuasa Tuhan. Oleh karena itu, selama masih hidup, hidup harus dijalani dengan penghargaan kepada semua hal yang melekat kepada kehidupan, yaitu dengan menghargai tubuh (badan). Tubuh mesti digunakan untuk memuliakan Allah. Langkah praktisnya adalah dengan menghindari hawa nafsu keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala (1 Petrus 4:4). Tak berhenti sampai di situ, Petrus menasehati agar jemaat bisa menguasai diri dengan membangun spiritualitas yang hidup kepada Allah melalui doa dan kehidupan dalam kasih, karena segala sesuatu sudah dekat (1 Petrus 4:7-8). Nasihat ini mengingatkan jemaat agar tidak melihat karya penebusan Kristus kepada orang-orang berdosa di neraka sebagai sesuatu yang murahan, namun justru memanggil jemaat untuk senantiasa menghargai hidup dan tubuh mereka melalui kehidupan yang kudus di hadapan Allah.

Matius 27: 57–66
Kisah ini mengisahkan tentang penguburan Yesus yang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : permintaan Yusuf kepada Pilatus untuk mengurus jenazah Yesus, penguburan Yesus dan kubur Yesus dijaga. Yusuf dari Arimatea adalah salah satu dari sekian dari murid Tuhan Yesus. Ia adalah orang Yahudi yang mengerti bagaimana memperlakukan jenazah menurut tata cara Yahudi. Mayat Tuhan Yesus yang tergantung di kayu salib tergolong mayat seorang pendosa yang mati karena hukuman mati. Dalam tradisi Yahudi, di dalam kitab Ulangan 21:22-23 dinyatakan bahwa apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian mayatnya digantung pada sebuah tiang, maka tidak baik bila membiarkan mayatnya tergantung semalam-malaman, namun harus segera dikuburkan pada hari itu juga, karena mayat yang tergantung itu dikutuk oleh Allah. Bila mayat itu tetap dibiarkan tergantung, maka sama dengan menajiskan tanah tempat dia mati tergantung itu. Dengan status itulah, maka mayat Tuhan Yesus segera diturunkan dan dikuburkan dengan tata cara khusus. Yusuf dari Arimatea menghadap Pilatus untuk meminta izin menguburkan mayat Yesus. Permintaan Yusuf dari Arimatea dikabulkan oleh Pilatus, maka Yusuf dari Arimatea segera menurunkan, lalu mengafani mayat Tuhan Yesus dengan kain lenan putih dan menguburkannya di sebuah kubur baru yang digalinya dalam bukit batu. Penguburan yang dilakukan Yusuf dari Arimatea menunjukkan penghargaan dan hormat kepada mayat Tuhan Yesus. Badan yang sudah mati tetap dihargai dan dihormati dengan layak. Setelah Yusuf dari Arimatea pergi meninggalkan kubur Yesus, para perempuan diceritakan menunggui kubur Yesus.

Keesokan harinya, imam-imam kepala meminta Pilatus agar ia menempatkan penjaga kubur hingga hari ketiga. Rupanya para imam mengingat perkataan Tuhan Yesus bahwa sesudah hari yang ketiga, Ia akan bangkit. Mereka khawatir kalau para murid mengambil mayat Tuhan Yesus dan memberitakan bahwa Tuhan Yesus bangkit. Pilatus tidak keberatan dengan permintaan para imam. Pilatus mengirim penjaga di kubur Yesus yang tak hanya menjaga, namun juga memeteraikan kubur itu. Peristiwa penjagaan dan pemeteraian kubur Yesus ini merupakan bagian penting untuk direfleksikan karena dari kisah inilah peristiwa kebangkitan Yesus tidak terbantahkan. Pintu kubur yang dijaga dan dimeterai tidak bisa membatasi dan mengurung kuasa Allah yang mampu membuka pintu tersebut.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Kehidupan dan kematian adalah satu bagian yang ada di bawah kuasa Allah. Kematian adalah keniscayaan, sehingga perlu dihadapi dan dihayati dengan pengharapan. Menghadapi dan menghayati kematian dalam pengharapan dilakukan dengan hidup yang sesuai kehendak Allah, secara khusus menghargai tubuh kita. Ketika kita mati, maka hidup kita dikenang, dan kita masih membutuhkan sesama manusia yang masih hidup untuk mengurus jenazah kita.

 

Rancangan Khotbah:  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Latin yang berbunyi Memento Mori yang berarti ingatlah akan hari kematianmu. Ungkapan ini mengajak setiap dari kita untuk menyadari bahwa kita semua pasti akan mati. Kematian yang akan kita alami itu harus kita hadapi dengan menghayati kehidupan yang berkenan di hadapan Allah. Senada dengan sepenggal lirik nyanyian rohani yang berjudul Hidup Ini Adalah Kesempatan :

Oh Tuhan, pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat

Sepenggal lirik tersebut setidaknya mewakili sebagian besar perasaan manusia, bahwa hidupnya harus berguna selama hidup dan menjadi berkat, sehingga ketika sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kehidupan yang dilakoni sudah dirasakan dan dikenang oleh banyak orang.

Isi
Agar kita semakin tersemangati agar hidup kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, sebelum kita tak berdaya, ada sebuah latihan rohani di dalam momen Sabtu Sunyi ini yang bisa kita lakukan sebagai permenungan kita. Latihan rohani ini bernama : Mengingat Kematian. Mari kita mengambil sikap yang rileks. Gambarkan dan lukiskan dalam pikiran kita apa yang akan dikatakan. Dalam semuanya itu, mari kita tetap terarah kepada Kristus.

(petunjuk tekhnis : bacalah sepenggal demi sepenggal agar jemaat menghayati tiap kalimat dengan baik)

  1. Bayangkan engkau sudah mati dan ada di dalam peti mati. Engkau mengenakan baju yang sudah engkau siapkan ketika masih hidup. Perhatikan wajahmu, ekspresimu. Lalu perhatian bagaimana orang yang datang melayatmu. Lihatlah satu persatu wajahnya. Berhentilah pada tiap orang.
  2. Tiba saatnya pelayanan ibadah kedukaan. Dengarkan firman yang dikhotbahkan. Dengarkan pula kenangan-kenangan baik yang diucapkan tentangmu. Lihatlah orang-orang yang mengelilingimu di sekitar peti mati. Lihatlah raut wajah mereka.
  3. Ibadah telah usai. Kini tiba saatnya, penghormatan terakhir. Engkau mendengar tangisan kesedihan dari orang-orang yang mencintaimu, yang sepertinya tak rela melepasmu. Mereka berteriak histeris. Tiba-tiba ada yang pingsan. Beberapa orang membopong orang yang pingsan itu. Yang lain tetap menghormati jasadmu dengan mengucurkan minyak wangi, menabur bunga di dalam peti matimu dan meletakkan beberapa barang yang berharga buatmu. Lalu peti ditutup.
  4. Kini engkau ada di makam. Peti matimu dimasukkan ke dalam liang lahat lalu ditimbun tanah. Orang-orang menaburkan bunga, setelah itu satu persatu meninggalkan makammu, dan sepi.
  5. Kini lihatlah hidupmu. Hidup yang diberikan oleh Allah. Apakah engkau sudah melakukan perbuatan baik? Atau banyak dosa yang kau lakukan? Ingat-ingat setiap perbuatanmu. Sebelum kematian menghampirimu, berjanjilah kepada Allah bahwa engkau akan mengubah hidupmu.

Penutup
Kematian suatu saat akan menghampiri masing-masing dari kita. Hidup ini singkat. Sabtu Sunyi mengajak kita semua untuk menghayati bahwa betapa pentingnya menghargai kehidupan yang sudah diberikan Allah kepada kita. Dengan menghargai kehidupan itulah, kita siap menghadapi kematian. Sekalipun Tuhan Yesus berkarya dan menebus orang-orang berdosa di neraka, justru ini adalah kesempatan bagi kita agar kita tak menodai hidup yang diberikan oleh Allah. Selama kita masih hidup, mari melakukan perbuatan-perbuatan baik agar itu semua menjadi warisan yang diteladani oleh orang-orang yang mencintai kita. Teladan baik adalah warisan berharga. Yusuf dari Arimatea mau menguburkan mayat Tuhan Yesus, karena dia melihat bahwa Tuhan Yesus adalah orang baik yang mewariskan banyak hal baik melalui ajaran-ajaran-Nya, sekalipun Tuhan Yesus harus mati melalui hukuman yang diperuntukkan bagi penjahat, yaitu salib. Memento Mori : Ingatlah Akan Hari Kematianmu dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik di hadapan Allah dan tinggalkan itu semua sebagai warisan bagi orang-orang yang mencintai kita. Amin (dix)

Nyanyian : KJ. 186 – Saat Sedih

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Wonten satunggaling pitembungan ing basa Latin ungelipun Memento Mori ingkang tegesipun “elinga marang dina patimu!” Pitembungan punika ngajak kita sadaya supados sami ngrumaosi bilih kita sadaya mesthi badhe pejah. Pepejah ingkang badhe kita alami kedah kita adhepi klayan nglampahi gesang ingkang mranani ing penggalihipun Gusti Allah. Punika selaras kaliyan cakepan lagu rohani ingkang nembe kondhang ingkang asesirah “Hidup Ini Adalah Kesempatan”

Oh Tuhan, pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat

Cakepan lagu punika dados gegambaran saperanganing perasaanipun manungsa, bilih gesang punika kedah piguna salamining gesang lan dadosa berkah, temah sareng sampun tanpa daya nindakaken samukawis, pigesangan ingkang sampun dipun lampahi sampun saged dipun raosaken lan dados pangeling-eling tumrap tiyang kathah.

Isi
Supados gesang kita saya gumreget saged dados berkah tumrap tiyang sanes, saderengipun kita tanpa daya, wonten satunggaling gladhen rohani ing wegdal Sabtu Sunyi punika ingkang saged kita tindakaken minangka paniti priksa. Gladhen rohani punika anami: Ngelingi Pati. Sumangga kita sami mapan ingkang mardika saestu, sekeca. Kagaliha ing manah kita punapa ingkang badhe kita ucapaken. Ing ngriku swawi kita tetep ngener dhateng Sang Kristus.

(pitedah lelampahan: Kawaosna alon-alon perangan baka perangan supados pasamuwan saestu ngraosaken saben pitembungan kanthi sae)

  1. Kagaliha bilih penjenengan sampun seda lan mapan ing lebeting trebela. Penjenengan nyandhang ageman ingkang sampun penjenengan cawisaken nalika taksih gesang. Kagatosna pasuryan penjenengan, raosing pasuryan penjenengan. Lajeng kagatosna kados pundi tiyang sami rawuh nglayat penjenengan. Katingalana satunggal baka satunggal pasuryanipun. Mandhega ing saben tiyang!
  2. Samangke titi wancinipun paladosan ibadah pametaking layon. Kapirengna sabdanipun Gusti ingkang dipun khotbahaken. Kapirengna ugi reraosan sae ingkang kaucapaken bab lelabuhan penjenengan. Kapirsanana tiyang-tiyang ingkang ngupengi trebela penjenengan. Kapirsanana polataning pasuryanipun.
  3. Pangibadah sampun rampung. Samangke titi wancinipun tiyang-tiyang punika atur pakurmatan pungkasan. Penjenengan mireng tangis sedhihing tiyang-tiyang ingkang nresnani penjenengan, ingkang prasasat boten nglilakaken seda penjenengan. Tiyang-tiyang punika sami jerit-jerit. Dumadakan wonten ingkang semaput. Sawatawis tiyang sanesipun mbopong ingkang saweg semaput punika. Dene sanesipun tetep ngurmati layon penjenengan srana nyiprataken lisah wangi, nyalap sekar lan badha aji ing trebela penjenengan. Lajeng trebela dipun tutup.
  4. Samangke penjenengan wonten ing pamakaman. Trebela penjenengan kacemplungaken lajeng dipun urug siti. Tiyang-tiyang sami nyawuraken sekar, lajeng satunggal baka satunggal sami kesah nilaraken kuburan penjenengan, temah dados sepi nyenyet.
  5. Samangke kula aturi penjenengan mirsani gesang penjenengan, gesang peparingipun Gusti Allah. Punapa penjenengan sampun nindakaken tumindak sae? Punapa malah kathah dosa ingkang penjenengan tindakaken? Kula aturi ngenget-enget sadaya tindak-tanduk penjenengan! Saderengipun pepejah mapag penjenengan, kula aturi sami aprajanji dhumateng Gusti Allah bilih penjenengan badhe ngewahi gesang penejenengan.

Penutup
Ing titi wancinipun pepejah mesthi ndhatengi kita piyambak-piyambak. “Urip iku mung sedhela.” Sabtu Sunyi ngatag kita sadaya ngraosaken saiba wigatosipun ngajeni lan ngopeni pigesangan peperingipun Gusti Allah dhateng kita. Srana pigesangan punika kita cumadhang ngadhepi pepejah. Sanadyan Gusti Yesus makarya nebus tiyang-tiyang dosa ing naraka, lah punika wewengan (kesempatan) tumrap kita supados kita boten nyiya-siya dhateng gesang peperingipun Gusti Allah punika. Mumpung kita taksih pinaringan gesang, sumangga kita nglampahi sadaya tumindak utama/sae supados sadaya saged dados warisan ingkang pangaji tumrap tiyang-tiyang ingkang sami nresnani kita. Patuladhan igkang sae punika warisan ingkang pangaji. Yusuf saking Arimatea kersa nyarekaken layonipun Gusti Yesus, awit piyambakipun nyumurupi bilih Gusti Yesus punika priyatun utami ingkang marisaken kathah prekawis utami lumantar piwulang-piwulangipun, nadyan Gusti Yesus kedah seda nandhang pidana ingkang sejatosipun kagem tiyang awon, inggih punika salib. Mementi Mori (“Elinga dina patimu!”) kanthi nglampahi sadaya tumindak utama ing ngarsanipun Allah lan katitipna punika minangka warisan kagem tiyang-tiyang ingkang sami nresnani kita. Amin. (terj. st)

Pamuji : KPJ. 271 : 1, 3  Sang Pamarta Seda Paduka

Renungan Harian

Renungan Harian Anak