Roh Kebenaran Khotbah Minggu 9 Juni 2019

Minggu Pentakosta
Stola Merah

Bacaan 1 : Kejadian 11 : 1 – 9.
Bacaan 2  : Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21.
Bacaan 3 : Yohanes 14 : 8 – 17, (25 – 26).

Tema Liturgis :“Roh Kudus : Rahasia Pengharapan di Balik Panggilan Yang Menerangi Hati”.
Tema Khotbah :  “Menghayati Peran Roh Kudus Dalam Kehidupan Setiap Hari”

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah).

Kejadian 11 : 1 – 9.

Keinginan untuk mendirikan menara tinggi dalam sebuah kota bertujuan supaya mereka mendapat nama / untuk dikenang dan tidak terserak ke seluruh bumi (ayat 4). Dengan kata lain, mereka ingin tetap bersama dan termasyur diantara manusia termasuk untuk generasi yang akan datang. Kemasyuran itu bisa menjadikan mereka memegahkan diri dan menggeser kemegahan nama Allah dalam hidup mereka. Berkaitan dengan keinginan supaya tidak terserak, keinginan mereka itu juga bertentangan dengan kehendak Tuhan agar manusia beranak cucu dan bertambah banyak memenuhi bumi (Kej. 9 : 1, 7 ; Kej. 10 : 32), artinya pergi ke berbagai penjuru dunia juga.

Ayat 7 menyatakan tentang kemarahan Tuhan atas menusia yang ingin memasyurkan dirinya dan tidak ingin menghuni muka bumi di berbagai tempat. Artinya, manusia itu akan menggeser peran Tuhan dalam hidup mereka. Bukan lagi nama Tuhan yang dimasyurkan, tetapi nama manusia dari generasi ke generasi. Bukan lagi memperkenalkan nama Tuhan di seluruh muka bumi, tetapi hanya terpusat di salah satu tempat saja. Inipun merupakan pemberontakan manusia kepada Allah. Penghukuman Allah diwujudkan dalam bentuk kegagalan manusia membangun menara itu. Persoalan yang mereka hadapi adalah keberagaman bahasa yang mendadak mereka terima dari Allah. Bahasa yang beraneka ragam menjadikan manusia itu tidak bisa saling mengerti dan memahami. Apapun bisa Allah gunakan supaya manusia mengerti dan tunduk hanya pada kehendak Allah, bukan pada kehendak sendiri atau kehendak manusia lainnya. Dengan kata lain, bahasa memang bisa  menjadi pemersatu, tetapi juga bisa menjadi pemecah antar manusia.

Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21.

Pentakosta di ayat 1 merupakan sebuah perayaan yang diselenggarakan di hari ke-50 setelah Paskah. Ini merupakan perayaan ucapan syukur setelah menerima hasil panen. Pentakosta juga merupakan salah satu perayaan penting bagi umat Yahudi sebagaimana yang telah ditetapkan Allah dalam Perjanjian Lama. Pada perayaan Pentakosta di Yerusalem ini mereka yang berkumpul mendengar bunyi gemuruh dari langit dan menampakkan lidah-lidah seperti nyala api. Lidah merupakan simbol dari berbicara, sedangkan api simbol dari kehadiran Allah (ingat : Allah yang menjumpai Musa melalui semak-semak yang menyala). Pentakosta di Yerusalem itu ingin menunjukkan bahwa kehadiran Allah di tengah umatNya bukan hanya dalam wujud api, tetapi Roh Kudus. Roh Kudus itu memenuhi mereka yang  hadir sehingga mampu berkata-kata dalam bahasa yang bisa dimenegerti oleh semua yang hadir (ayat 4, 8). Roh Kudus yang menguasai mereka dalam berkata-kata (menggunakan lidahnya).

Karunia Roh Kudus dalam berbahasa juga menjadikan orang banyak bisa merasakan mujizat Tuhan melalui setiap perkataan para murid itu. Dengan kata lain, dalam berkata-kata mereka dikendalikan oleh Roh Kudus yang menjadikan semua orang bisa memahami bahasa mereka, dan firman Tuhan yang mereka sampaikan. Menjadi bisa memahami Firman Tuhan itu juga merupakan karya Roh Kudus.

Karya Roh Kudus itu bukan hanya memampukan mereka berkata-kata, tetapi menjadikan perkataan mereka dimengerti semua orang yang hadir itu. Jadi, bahasa yang digerakkan oleh Roh Kudus itu bukanlah bahasa yang “aneh-aneh” dan tidak dimengerti orang lain, tetapi justru yang bisa dimengerti oleh semua orang. Karya Roh Kudus itu juga menjadikan para murid Yesus menjadi berani berbicara tentang Firman Tuhan. Seperti halnya Petrus yang juga memiliki keberanian untuk berkhotbah (ayat 14 – 40). Inilah Petrus yang baru. Bukan lagi Petrus lama yang pernah mengingkari sebagai murid Tuhan Yesus (menyangkal sampai 3 kali), tetapi Petrus baru yang penuh keberanian berbicara tentang Injil Yesus Kristus. Dengan jelas Petrus menjelaskan siapakah pribadi Yesus Kristus itu. Inipun merupakan pembaharuan karya Roh Kudus. Karya Roh Kudus menjadikan seseorang berbicara, berpikir dan bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki. Itulah makna dari orang yang kepenuhan Roh Kudus.

Yohanes 14 : 8 – 17, (25 – 26).

Ketidak-pahaman Filipus terhadap keberadaan Bapa, menunjukkan bahwa seberapa lama kebersamaan para murid dengan Yesus itu tidak menjadi jaminan akan pengenalan yang benar tentang pribadi Yesus (ayat 8, 9). Pertanyaan tentang keberadaan Bapa itu muncul ketika Tuhan Yesus mulai menunjukkan kepada para murid tentang kesatuan diriNya dengan Bapa. Jelas hal itu tidaklah mudah untuk dipahami oleh para murid. Tuhan Yesus menyatakan kepada Filipus bahwa melihat Tuhan Yesus sama dengan melihat Bapa, itu bukan pribadi yang berbeda. Pada akhirnya Yesus juga menunjukkan  kesatuan diriNya dengan Penolong (Roh Kudus) sebagaimana tertera di ayat 16, 25, 26. Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus merupakan satu kesatuan. Tuhan Yesus berjanji untuk tetap memberikan pertolongan dalam wujud kehadiran Roh Kudus.

Ayat 12 – 14 Tuhan Yesus menyatakan bahwa hal percaya kepadaNya itu tidak bisa dilepaskan dari hal melakukan kehendakNya. Siapapun yang mengatakan percaya kepada Dia, maka mereka juga harus melakukan apa yang Dia kehendaki. Demikian juga ketika orang percaya itu meminta sesuatu dalam namaNya. Bukan berarti seperti “sulap” yang otomatis terjadi seperti apa yang diminta, tetapi mengharuskan seseorang untuk bertanya : apakah permintaanku itu sudah sesuai dengan kehendak Tuhan atau belum. Memang nama Tuhan itu penuh kuasa, tetapi kuasa itu tetap harus diletakkan dalam kerangka mewujudkan kehendak Allah. Demikian juga jika seseorang menyatakan mengasihi Allah, maka dia juga harus mewujudkannya dalam melakukan kehendak Allah (ayat 17).

 

BENANG MERAH KETIGA BACAAN

Melakukan kehendak Allah adalah wujud dari hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Kudus selalu dekat dengan kehidupan manusia yang menyediakan dirinya untuk dipakai oleh Allah untuk mewartakan kehendakNya.


 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia.
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Roh Kebenaran

(Nats : Yohanes 14 : 16)

Pendahuluan.

Semua orang normal di dunia ini menyukai kebenaran. Baik mereka yang dikategorikan sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus maupun yang bukan. Sayangnya, tidak semua orang yang menyukai kebenaran itu juga mau melakukan apa yang benar, mau bertindak benar, apalagi hidup dalam kebenaran Allah. Mengapa ? Karena hidup dalam kebenaran itu memang tidak mudah. Manusia membutuhkan tuntunan Allah untuk melakukannya. Tetapi sesungguhnya manusia bisa melakukan atau bisa hidup dalam kebenaran karena Allah telah menyediakan Sang Penolong, yaitu Roh  Kudus untuk tinggal bersama manusia. Dialah Roh Kebenaran itu. Dan apapun yang Roh Kudus lakukan atas manusia, pastilah itu merupakan kebenaran di hadapan Allah.

Isi.

Roh Kudus sering juga disebut Roh Kebenaran ataupun Sang Penolong merupakan pribadi yang sangat dekat dengan manusia, bahkan Tuhan Yesus katakan sebagai Roh yang menyertai manusia dan diam didalam manusia (ayat 17). Artinya bahwa Roh Kudus atau Roh Kebenaran itu sesungguhnya tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Di hari Pentakosta ini marilah kita kembali menghayati :  apakah peran Roh Kebenaran / Roh Kudus itu bagi kehidupan manusia ?

  1. Roh Kudus tidak akan pernah meninggalkan kita (ayat 16).
  2. Roh Kudus membimbing manusia pada kebenaran ilahi (ayat 17).
  3. Roh Kudus itu tidak dikenal oleh dunia (ayat 17).
  4. Roh Kudusada bersama kita dan didalam kita (ayat 17).
  5. Roh Kudus itu mengajar kita (ayat 26).
  6. Roh Kudus mengingatkan kita pada firman Tuhan (ayat 26).
  7. Roh Kudus juga bersaksi tentang kebenaran (15:26)
  8. Roh Kudus menginsafkan kita pada dosa-dosa kita, pada kebenaran dan penghakiman (16:8).
  9. Roh Kudus memberitakan kepada kita tentang hal-hal yang akan datang (16:13).
  10. Roh Kudus memampukan kita melihat kemuliaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari (16:14).

 

Roh Kudus sesungguhnya telah berkarya sejak semula (dunia diciptakan), tetapi sejak peristiwa Pentakosta di Yerusalem itu (lihat bacaan 2) menjadi jelas bahwa Roh Kudus datang dan berkarya dalam kehidupan seluruh orang percaya. Dia memberitahukan dan menyatakan kebenaran dalam hidup manusia. Sebab kehendak Roh Kudus adalah kehendak Allah, karena Dia adalah Allah. Roh Kudus itu bukan hanya menunjukkan apa yang benar dan yang berkenan bagi Allah, tetapi Roh Kudus juga memampukan manusia untuk melakukan kebenaran dan hidup dalam kebenaran.

Tuhan Yesus membeberkan hal-hal yang berkaitan dengan keberadaan dan karya Roh Kudus kepada para murid (khususnya Filipus yang bertanya) adalah dalam konteks Tuhan Yesus memberitahukan bahwa secara fisik Dia akan meninggalkan para murid. Tetapi, ketidak-beradaan Tuhan Yesus di tengah kehidupan para murid tidak perlu dirisaukan, karena ada Penolong lain yang akan menggantikan peran Tuhan Yesus bagi kehidupan para murid. Peran yang membimbing mereka hidup dalam kebenaran, dan bahkan memberi keberanian kepada para murid untuk hidup dalam kebenaran. Apapun resikonya. Roh Kudus sesungguhnya tidak akan pernah jauh dari kehidupan para murid dan orang percaya.

Hidup dalam kebenaran yang Tuhan Yesus harapkan tidak boleh dilepaskan dari hal mengasihi Dia (ayat 15). Meskipun menghadapi berbagai tantangan supaya bisa hidup dalam kebenaran tetapi mofitasinya haruslah karena mengasihi Tuhan Yesus. Tidak ada yang yang berat untuk dilakukan jika didorong oleh rasa kasih. Jika kita menyatakan mengasihi Tuhan Yesus, maka otomatis juga akan melakukan semua perintahNya, yang tentu saja adalah melakukan kebenaran. Roh Kudus bukanlah pribadi yang jauh dari kita, tetapi sangat dekat, bahkan disaat kita harus mengambil keputusan sekecil apapun, Dia selalu membisikkan apa yang benar untuk kita putuskan. Kini, tinggal kepekaan masing-masing orang untuk mendengarkan dan menaati suara Roh Kudus itu. Kepekaan dalam mendengarkan suara Roh Kudus dalam hati kita  dan melakukannya berarti kita hidup dalam kebenaran Allah. Demikian juga sebaliknya.

Hal yang perlu untuk kita latih dan biasakan adalah mengasah kepekaan kita untuk mendengarkan dan merasakan kehadiran Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran itu dalam hidup kita. Sebab itulah Sang Penolong yang telah Tuhan Yesus sediakan bagi kita. Sesungguhnya Dia sangat dekat dengan hidup kita. Tetapi tantangannya adalah kita lebih mendengarkan dan mengikuti kemauan kita dari pada mengikuti kemauan Roh Kudus. Hidup dalam kebenaran juga harus siap menghadapai tantangan seperti ditolak, dianggap “aneh” karena tidak seperti kebanyakan orang, bahkan mungkin dibenci karena dianggap “menelanjangi” perbuatan yang tidak benar. Tetapi justru di situlah peran Roh Kudus semakin nyata yang terus memberi semangat, menghibur dan memberi kemampuan untuk tetap tegak hidup dalam kebenaran Tuhan. Tidak melawan perintah Tuhan.

Penutup.

Hidup dalam kebenaran Allah memang tidaklah mudah. Tetapi Tuhan Yesus telah memberikan teladan jika hal yang tampak sulit itu dilakukan karena dorongan cinta kasih kita kepada Dia, maka kita akan melakukannya juga.  Melibatkan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari merupakan keharusan bagi setiap orang percaya. Kita bisa memulai dari hal-hal yang paling sederhana. Sebelum memutuskan sesuatu, mari terlebih dahulu berkonsultasi dengan Roh Kudus dan mari kita juga peka untuk mendengarkan suaraNya melalui suara hati kita. Roh Kudus menggunakan suara hati kita masing-masing untuk menyatakan kebenaran. Hal sederhana lainnya yang menuntut kita untuk selalu hidup benar adalah di tengah keluarga kita masing-masing, di lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, dalam kita hidup bertetangga dan bergereja juga.

Keluarga adalah lingkup terkecil dan terdekat yang bisa menjadi tempat kita membiasakan diri hidup dalam kebenaran. Jauh dari kebohongan, kemunafikan, dan pelanggaran terhadap firman Tuhan. Dan kita tidak perlu khawatir, karena Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran itu pasti memberi kemampuan pada kita untuk terus melakukannya. Mari kita peka untuk mendengar dan merasakan kehadirannya. Di hari Pentakosta ini marilah kita terus berusaha hidup dalam kebenaran dan membiarkan diri kita dibimbing olehNya. Sebab hidup dalam kebenaran merupakan bahasa kasih yang bisa diterima dan dipahami oleh semua orang. Amin.  (YM).

Nyanyian  : KJ. 233 : 1, 2, 3.


 

RANCANGAN KHOTBAH :Basa Jawi.

Rohing Kayekten

(Jejer : Yokanan 14 : 16)

Pambuka.

Sedaya manungsa ingkang normal ing alam donya punika remen bab kayekten. Sae punika ingkang dipun wastani para tiyang pitados utawi sanesipun. Emanipun, boten sedaya tiyang ingkang remen ing bab kayekten punika ugi purun nindakaken kayekten, purun nindakaken punopo ingkang leres, punopo malih nindakaken kayekten ini Gusti. Kenging punopo ? Awit gesang ing kayekten punika pancen boten gampil. Manungsa mbetaheken tuntunan Allah kangge nindakaken. Ananging, estunipun manungsa saged nindakaken utawi saged gesang ing kayekten awit Allah sampun nyawisaken Sang Juru Panglipur, inggih punika Roh Suci kangge nunggil ing gesanging manungsa. Inggih Panjenenganipun punika Roh Kayekten punika. Punapa kemawon ingkang katindakaken dening Roh Suci tumrap manungsa, tamtunipun punika ingkang leres ing ngarsanipun Allah.

Isi.

Sang Roh Suci asring sinebut Rohing Kayekten utawi Sang Roh Panglipur punika pribadi ingkang saestu celak kaliyan manungsa, lan Gusti Yesus ngandika bilih punika dados Roh ingkang tansah nunggil  kaliyan manungsa (ayat 17). Tegesipun, Roh Suci utawi Rohing Kayekten punika estunipun boten saged kauwalaken saking pigesanganipun manungsa.

Ing dinten Pentakosta punika swawi kita sami ngayati : punapa ingkang dados pakaryanipun Sang Roh Kayektek punika / pakaryanipun Sang Roh Suci tumrap gesanging manungsa ?

  1. Roh Suci punika boten nate nilar kita (ayat 16).
  2. Roh Suci tansah nuntun manungsa ing kayektenipun Allah (ayat 17).
  3. Roh Suci punika boten dipun tepangi dening ndonya (ayat 17).
  4. Roh Suci nunggil kaliyan kita lan wonten ing kita (ayat 17).
  5. Roh Suci punika paring piwucal dhateng kita (ayat 26).
  6. Roh Suci ngengetaken kita dhumateng pangandikanipun Gusti (ayat 26).
  7. Roh Suci ugi paring paseksi ing bab kayekten (15 : 26).
  8. Roh Suci ndadosaken kita insaf ing bab dosa-dosa kita, ing bab kayekten lan pengadilan (16 : 8).
  9. Roh Suci paring pawartos dhateng kita ing bab wangsit tumrap prekawis ingkang badhe kemapahan (16 : 13).
  10. Roh Suci paring kesagedan dhateng kita supados saged ningali ing bab kamulyanipun Sang Kristus ing salebeting pigesangan sadinten-dinten (16 : 14).

Estunipun Sang Roh Suci punika sampun makarya wiwit ndonya katitahaken, ananging wiwit Pentakosta ing Yerusalen punika (mugi mirsani waosan 2) langkung cetha bilih Roh Suci punika rawuh lan makarya ing gesangipun sedaya tiyang pitados. Panjenenganipun mratelakaken kayekten ing gesanging manungsa. Awit kersanipun Sang Roh Suci ugi kersanipun Allah, awit Panjenenganipun punika Allah. Sang Roh Suci punika boten namung nedahaken punapa ingkang leres lan karenan ing ngarsanipun Allah, ananging Roh Suci ugi paring kesagedan dhateng manungsa kangge nindakaken kayekten lan gesang ingkang leres ing ngarsanipun Allah.

Gusti Yesus mratelakaken prekawis-prekawis ingkang sesambetan kaliyan rawuhipun lan pakaryanipun Sang Roh Suci dhateng para sekabat (maliginipun Filipus ingkang atur pitaken), punika ing kawontenan nalika Gusti Yesus ngandika bilih secara jasmaniah Panjenenganipun badhe nilar para sekabat. Ananging, senadyan Gusti Yesus boten wonten ing satengahing para sekabat, boten prelu kuwatos, awit Sang Panuntun sanesipun inggih badhe nggentosi pakaryanipun Gusti ing pigesanganipun para sekabat. Pakaryanipun ingkang nuntun gesanging para sekabat ing kayekten, lan ugi ndadosaken para sekabat wantun gesang ing salebeting kayekten. Punapa kemawon ingkang dados resikonipun. Roh Suci estunipun boten nate tebih saking gesangipun para sekabat lan gesanging para tiyang pitados.

Gesang ing kayekten kados ingkang dipun kersakaken dening Gusti Yesus punika boten saged kauwalaken saking prekawis nresnani Penjenenganipun (ayat 15). Senadyan gesang ing kayekten punika kedah ngadhepi reribet, ananging motifasipun kedah adhedhasar katresnan dhumateng Gusti Yesus. Boten wonten prekawis ingkang ewet katindakaken menawi kabereg raos tresna. Menawi kita ngucap tresna dhumateng Gusti Yesus, tamtu kita ugi kedah nindakaken pangandikanipun, ingkang punika ateges nindakaken kayekten. Sang Roh Suci sanes pribadi ingkang tebih saking kita, ananging ingkang saestu celak, mekaten ugi menawi kita kedah mendhet keputusan senadya remeh kemawon, Panjenenganipun tansah mbisiki kita punapa ingkang leres ing keputusan kita. Samangke namung gumantung kita ingkang saged mirengaken swantenipun Sang Roh Suci lan nindakaken kersanipun  ing gesang kita. Saged mirengaken pangandikanipun Sang Roh Suci ing manah kita lan ugi nindakaken kersanipun, ateges kita gesang ing salebeting kayektenipun Allah. Mekaten ugi kosok wangsulipun.

Prekawis ingkang prelu kita gladi lan ngunikakaken, inggih punika kados pundi kita saged ngesah pamireng kita lan saged ngraosaken rawuhipun Sang Roh Kayekten punika ing gesang kita. Awit inggih Panjenenganipun punika ingkang dados Sang Panuntun ingkang sampun kacawisaken dening Gusti tumrap kita. Estunipun Panjenenganipun punika saestu celak kaliyan gesang kita. Ananging, tantanganipun menawi kita langkung mirengaken lan nindakaken pikajeng kita piyambak tinimbang nindakaaken kersanipun Sang Roh Suci. Gesang ing kayekten ugi kedah ngadhepi tantangan kados dene katampik, dipun wastani “aneh” awit benten kaliyan tiyang sanes, saged ugi dipun sengiti awit dipun wastani “ngudani” prekawis ingkang boten leres.  Ananging estunipun inggih ing ngriku pakaryanipun Sang Roh Suci langkung nyata ingkang tansah paring pangatag-atag, panglipur lan paring kesagedan supados tansah lestantun gesang ing kayektenipun Gusti. Boten nglawan prentahipun Gusti.

Panutup.

Gesang ing kayektenipun Allah pancen boten gampil. Ananging Gusti Yesus sampun paring tuladha menawi wonten prekawis ingkang karaosaken ewet katindakaken nanging kanthi alembaran katresnan dhateng panjenenganipun, tamtu badhe tansah kita tindakaken ugi. Para tiyang pitados kedah tansah paring kesempatan supados Roh Suci tansah campur asta ing gesangipun. Kita saged miwiti saking prekawis-prekawis ingkang limrah. Sakderengipun paring keputusan, sumangga kita tansah nyuwun Roh Suci paring pamrayogi lan sumangga kita ugi mirengaken dhawuhipun lumantar swantening batos kita. Sang Roh Suci migunakaken swantening manah kita kangge mratelakaken kayekten. Prekawis limrah sanesipun ingkang ndadosaken kita kedah tansah gesang ingkang leres, inggih punika ing satengahing brayat kita piyambak-piyambak, ing satengahing pamulangan, satengahing padamelan, ing salebeting gesang kita sesrawungan kaliyan tanggi-tepalih lan ugi ing satengahing greja.

Brayat punika pasrawungan ingkang paling alit lan celak ingkang saged dados panggenan tumrap kita supados kulina gesang ing kayekten. Tebih saking tumindak goroh, munafik, lan cengkah kaliyan pangandikanipun Gusti. Kita boten prelu kuwatos, awit Roh Suci ingkang ugi Roh Kayekten punika tamtu paring kesagedan dhumateng kita supados tansah nindakaken kayekten punika. Sumangga kita tansah mirengaken lan saged ngraosaken rawuhipun Sang Roh Suci punika. Ing dinten Pentakosta punika sumangga kita tansah mbudi daya gesang ing kayekten lan supados Sang Roh Suci tansah nuntun kita sami. Awit inggih gesang ing kayekten punika ingkang dados basaning katresnan (bahasa kasih) ingkang saged katampi lan dipun pahami dening sedaya manungsa.  Amin.  (YM).

Nyanyian : KPJ. 287 : 1, 2, 3.

 

 

Bagikan Entri Ini:

  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •