Yang Tinggi Yang Merendahkan Hati Khotbah Minggu 18 Februari 2018

Pra Paskah 1
Stola Ungu

Bacaan 1         : Kejadian 9: 8-17
Bacaan 2         : I Petrus 3: 18-22
Bacaan 3         : Markus 1: 9-15

Tema Liturgis  : Mengosongkan Diri di Dalam Ketaatan Kepada Kehendak Tuhan.
Tema Khotbah : Yang Tinggi Yang merendahkan Hati.

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 9: 8-17:
Nuh dan keluarganya serta binatang-binatang yang dipilih telah selamat dari air bah.Tuhan berjanji untuk tidak lagi memusnahkan manusia dan segala makhluk hidup dari muka bumi dengan air bah. Janji Tuhan tersebut ditandai dengan “busur di awan”. Apa yang disebut busur di awan tersebut tidak dijelaskan secara detail. Namun banyak penafsir berpendapat bahwa “busur di awan” tersebut dipahami saat ini sebagai pelangi. Pelangi dianggap menjadi tanda perjanjian antara Allah dengan manusia, bahwa Allah tidak akan lagi menghukum manusia dengan air bah.

I Petrus 3: 18-22
Orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia dan Bitinia yang telah menjadi Kristen kemungkinan menghadapi satu pertanyaan penting. Pertanyaan tersebut demikian: Jika mereka yang hidup setelah masa Yesus telah diselamatkan melalui penebusan Yesus Kristus, bagaimana dengan orang-orang sebelum Yesus Kristus? Akankah mereka juga diselamatkan?

Penulis surat Petrus menekankan bahwa kematian Yesus untuk menebus dosa manusia itu menyelamatkan  baik yang hidup maupun yang telah mati. Penebusan oleh Yesus Kristus /keselamatan oleh Allah berlaku juga bagi mereka yang telah mati bahkan mereka yang pada zaman Nuh tidak taat kepada Tuhan. Bagi yang telah mati itu, sebenarnya Roh telah datang untuk memberitakan Injil pada mereka melalu para Nabi, dalam hal ini Nuh ( lihat 1 Petrus 1: 10, 11 bahwa Roh Kristus bekerja dalam diri para Nabi) Sedang bagi yang hidup setelah Yesus, keselamatan oleh penebusan itu ditandai dengan baptisan oleh kebangkitan Yesus Kristus. Baptisan tersebut dimaksudkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah.

Markus 1: 9-15
Injil Markus memulai kisahnya dengan kisah tentang Yohanes Pembaptis. Kisah Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan dan membaptis Yesus menjadi fokus awal Injil Markus.

Baptisan Yohanes yang dilakukan untuk Yesus bukanlah baptisan untuk penghapusan dosa. Baptisan Yohanes bagi Yesus merupakan tanda solidaritas Allah dengan manusia bahkan tanda ketaatan manusia Yesus kepada Allah. Di sisi lain, baptisan tersebut juga menandai kemesiasan Yesus dimana setelah pembaptisan kemesiasan Yesus itu ditegaskan oleh suara dari sorga: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan.”

Untuk memulai tugas kemesiasanNya, Yesus harus tinggal di padang gurun selama 40 hari. Dalam pandangan umat Israel, angka 40 melambangkan angka genap sempurna, angka yang sakral (perjalanan umat Israele menuju tananh perjanjian juga digambarkan selama 40 Tahun).

Berbeda dengan Injil yang lain ( Matius, Lukas, Yohanes), Injil Markus tidak secara detail mengisahkan apa saja yang dialami oleh Yesus selama di padang gurun. Hanya disebutkan bahwa di padang gurun itu, Yesus dicobai Iblis, Yesus berada di antara binatang-binatang dan Yesus dilayani oleh malaikat-malaikat.

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Berbagai tanda cinta kasih Allah telah dinyatakan pada manusia baik melalui busur di awan dalam kisah Nuh (Kejadian 9: 8-17) maupun dalam baptisan (I Petrus 3: 18-22). Dalam kisah Yesus yang dibaptis Yohanes, meskipun berbeda makna, baptisan tersebut juga menjadi tanda kasih Allah kepada manusia Yesus yang menegaskan kemesiasan Yesus.

Baptisan tersebut juga menjadi tanda penyerahan diri dalam ketaatan pada kehendak dan kasih Tuhan, Tuhan yang karena cinta  rela merendahkan diri menjadi manusia (Inkarnasi).

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan…bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Dalam wacana perpolitikan Indonesia, akhir-akhir ini ada yang menarik. Dulu para pejabat  negara, para pegawai pemerintah yang pada hakikatnya merupakan pelayan rakyat tidak banyak yang bersedia turun ke lapangan dalam melayani rakyat. Kebanyakan hanya mendengarkan apa kata anak buahnya tentang situasi. Para bawahan akan mengatakan apa saja  asalkan para atasan senang meskipun laporannya tidak sesuai dengan kenyataan. Maka dulu ada istilah “ABS= Asal Bapak Senang” untuk menggambarkan laporan palsu para bawahan kepada atasannya tentang situasi riil lapangan.

Di masa sekarang, situasi berbeda. Para pejabat pemerintahan didorong untuk melakukan “blusukan”. Dalam bahasa Indonesia, secara harfiah blusukan artinya masuk-masuk ke tempat tertentu untuk mengetahui sesuatu. Para pejabat pemerintahan di level pimpinan diharapkan benar-benar melayani rakyat dengan terjun ke lapangan sendiri untuk mengetahui situasi dan kondisi riil masyarakat yang dilayaninya. Pejabat tidak melihat rakyatnya dari balik kursi empuk kantornya saja, tetapi masuk ke area pelayanannya yang paling tersembunyi sekalipun. Dengan melakukan blusukan, maka mereka yang dianggap berkedudukan tinggi ini akan bisa melakukan tugas pelayanannya dengan lebih baik dan memahami situasi riil mereka yang dilayaninya. Pejabat yang dianggap tinggi tersebut harus “merendah” agar bisa melayani dengan baik.

Isi

Kesedian untuk merendah meskipun berposisi tinggi, merupakan konsep yang tidak asing dalam kekristenan. Dalam Kekristenan diimani bahwa Allah yang Maha Tinggi itu berkenan menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus (Inkarnasi). Allah bersedia merendahkan diriNya menjadi serupa dengan manusia ( Filipi 2: 6-7).

Inkarnasi Tuhan menjadi manusia Yesus itu sekilas memang bisa dianalogikan (diumpamakan)  seperti “blusukan” yang dilakukan Tuhan. Tetapi itu merupakan pemahaman secara serampangan saja.

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara blusukan dan Inkarnasi, meskipun beberapa hal dari keduanya mungkin bisa dicari persamaannya.

Blusukan dilakukan untuk mengetahui dan men-check situasi riil lapangan pelayanan agar bisa meningkatkan kinerja,  sedang Inkarnasi Tuhan dalam Yesus dilakukan bukan untuk mengetahui sesuatu atau meningkatkan kinerja Tuhan, tetapi untuk melakukan sebuah tindakan kasih yang luar biasa yakni tindakan penebusan dosa umat manusia. Tindakan penebusan dosa manusia tersebut merupakan bentuk cinta Tuhan yang sangat mendalam terhadap manusia. Ia ingin manusia selamat lahir dan batin. Sekarang dan nanti. Untuk mewujudkan misi itulah, Ia, Sang Maha Kuasa itu rela menjadi manusia.

Namun dalam blusukan dan Inkarnasi sama-sama dibutuhkan sikap batin tertentu. Dalam blusukan, diperlukan adanya kerendahan hati untuk mendengar, untuk melayani. Dalam Inkarnasi, Allah juga bersedia mengosongkan diri (kenosis). Ia yang adalah Allah itu bersedia mengosongkan diriNya, merendahkan diriNya menjadi seorang hamba dan menunjukkan solidaritas dengan manusia.

Peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes merupakan tanda solidaritas Allah. Ia yang tidak berdosa telah berkenan untuk solider dengan manusia yang berdosa. Dalam surat 1 Petrus bacaan kita tadi bahkan ditegaskan bahwa solidaritas Allah kepada manusia itu tidak hanya bagi mereka yang hidup tetapi bahkan bagi yang telah mati. Mereka yang telah mati karena ketidaktaatannnya seperti pada masa Nuh misalnya, sebenarnya juga telah menerima berita sukacita keselamatan/Injil melalui Sang Roh yang memberitakan kepada mereka melalui para Nabi (kaitannya dengan 1 Petrus 1: 10, 11).

Di sisi yang lain, baptisan bagi Yesus oleh Yohanes merupakan tanda peneguhan  kemesiasan Yesus. Ia lah yang dipilih untuk menyelamatkan umat manusia. Hal tersebut ditegaskan oleh suara dari sorga: “ Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan.

Baptisan Yohanes bagi Yesus merupakan juga tanda ketaatan manusia Yesus kepada Allah. Yesus yang telah dipilih untuk menjalankan misi besar Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Manusia Yesus taat pada kehendak Sang Bapa. Ketaatan pada kehendak Sang Bapa mendorongNya bersedia dipersiapkan. Padang gurun menjadi tempat latihan yang awal untuk menjaga ketaatan ketaatan tersebut.

Penutup

Minggu ini kita memasuki minggu pra-paskah yang pertama. Selama 40 hari ke depan, kita akan menghayati masa-masa penderitaan Yesus. 40 hari masa yang penting. Orang kristen di berbagai belahan dunia melakukan doa, penyesalan, pertobatan, puasa, dsb. Seperti  40 hari masa Yesus di padang gurun sebelum memulai pekerjaanNya, mari kita juga menghayati minggu-minggu Pra-Paskah ini dengan sungguh-sungguh.

Sebagai pekerja-pekerja Tuhan, kita memiliki tugas untuk saling melayani. Untuk tugas itu, Yesus telah mencontohkan sebuah ketaatan/kepatuhan/ketundukan hanya kepada kehendak Tuhan.

Merendahkan hati untuk taat kepada sesuatu hal pasti bukanlah persoalan yang mudah. Setiap manusia memiliki dalam dirinya persepsi tentang harga diri. Harga diri yang tinggi apalagi perasaan diri lebih dari yang lain akan menyulitkan proses bersama dalam pelayanan.

Semua orang yang melayani memerlukan sikap batin yang taat/tunduk/patuh kepada Allah. Ketaatan dan ketundukan kepada kehendak Allah akan memampukan manusia menjadi rekan sekerjaNya yang baik untuk mengabarkan berita sukacita/Injil.

Selamat Memasuki Minggu Pra-Paskah.

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal,   akan memelihara hati dan pikiranmu   dalam Kristus Yesus. Amin.

Nyanyian: KJ. 374: 1-3

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Ing babagan perpolitikan Indonesia wonten prekawis ingkang enggal. Rumiyin para pejabat pamarintahan lan para pegawai pamarintahan ingkang yektinipun paladosipun masyarakat boten kathah ingkang purun ngladosi masyarakat kanthi mandhap ing lapangan. Kathah-kathahipun namung mirengkaken menapa kemawon ingkang dipunaturakaen anak buah gegayutan kaliyan situasi lapangan. Para anaka buah umumipin badhe matur menapa kemawon bab ingkang murugaken para priyantun ing nggil remen. Senadyanta menapa ingkang dipunaturaken naming goroh. Mila wonten istilah “ABS=Asal bapak Senang” kangge nggambaraken laporan-laporan palsu anak buah dhumateng atasanipun tumrap situasi ing lapangan.

Wekdal samangke benten. Para pejabat pamarintah dipun bereg kangge blusukan. Blusukan tegesipun mlebet-mlebet ing pundi-pundi panggenan kangge mangertosi bab-bab tartamtu. Para pimpinan dipunsuwun ngladosi masyarakat kanthi temen mawi mandhap ing lapangan supados mangertosi situasi lan kondisi riil masyarakat ingkang dipunladosi. Para pejabat boten naming lenggah ing kursi empuk kantoripun nanging mlebet ing panggenan paladosanipun. Kanthi blusukan, para tiyang ingkang dipunanggep inggil menika badhe saged nindakaken tugas paladosanipun kanthi langkung sae awit mangertosi sacara langsung situasi masyarakat ingkang dipunladosi. Para pejabat ingkang dipunanggep inggil kedah „ngandhap“ supados saged ngladosi langkung sae.

Isi

Sumadya kangge ngandhap senadyan kagungan posisi ingkang inggil menika sanes konsep ingkang tebih saking pamanggih Kristen. Ing Kekristenan dipunimani bilih Gusti Allah ingkang Maha Inggil kersa dados manungsa ing Gusti Yesus Kristus (Inkarnasi). Gusti Allah ngandhap/ngasor dados sami kaliyan manungsa (Filipi 2: 6-7)

Gusti Allah ingkang dados manungsa menika menawi satleraman saged dipunumpamakaken kados blusukan ingkang dipuntindakaken Gusti Allah. Nanging pamanggih menika naming pamanggih sembrono kemawon, naming kangge nggampilaken pangertosan.

Wonten benten ingkang lebet antawisipun blusukan lan Inkarnasi, senadyanta ing bab-bab tartamtu kekalihipun saged dipunpadosi saminipun.

Blusukan dipuntindakaken kangge mangertosi dan nge-check situasi riil lapangan paladosan supados saged ningkataken kinerja, dene Inkarnasi boten dipuntindakaken Gusti Allah kangge mangertosi baba-bab tartamtu utawi ningkatakaen kinerja nanging dipuntindakaken amargi katresnan ingkang ageng kanthi nebus dosaning manungsa. Panebusing dosa menika wujud katresnan agengipun Gusti dhumateng manungsa. Gusti allah kersa manungsa menika slamet lair batin. Samangke lan mangke. Kangge mujudaken misi kalawau, Gusti Sang Maha Kuwaos kersa dados manungsa.

Nanging blusukan lan Inkarnasi ugi sami-sami mbetahaken sikap batin tartamtu. Ing blusukan dipunbetahaken andhap asoring manah kangge mirengaken lan ngladosi. Ing Inkarnasi, Allah ing Gusti Yesus sumadya nyuwungaken sarira (kenosis). Gusti Allah sumadya nyuwungaken sarira, ngandhapaken diri ngagem sipating abdi lan nedahaken solidaritas kaliyan manungsa.

Baptisan Yohanes kangge Gusti Yesus mujudaken tanda solidaritas Gusti Allah. Gusti Yesus ingkang boten kagungan dosa sumadya solider kaliyan manungsa ingkang dosa.Ing surat 1 Petrus waosan kita kalawau dipuntegesaken bilih solidaritasipun Gusti Allah menika boten namung kangge ingkang gesang nanging ugi kangge ingkang sampun pejah. Ingkang sampun pejah krana boten taat kados ing zamanipun Nuh umpaminipun, sampun nampi Injil saking Sang Roh ingkang martosaken dhumateng piyambakipun lumantar para Nabi (katuran mirsani 1 Petrus 1: 10-11).

Ing sisih lintunipun, baptisan Yohanes menika tanda pangukuhan bilih Gusti Yesus menika Sang Mesih. Gusti Yesus ingkang dipunpiji kangge nylametaken manungsa. Sedaya menika dipundhawuhaken lumantar swanten saking swarga:“Sira iku Putra kang Suntresnani, kang dadi keparenging panggalihingsun.“

Baptisan Yohanes kagen Gusti Yesus menika tanda sumuyudipun Yesus Sang Kristus dhumateng Allah. Yesus sampun dipunpiji kangge nindakaken misi ageng Gusti Allah nylametaken manungsa. Yesus, Putraning Manungsa sumuyud dhumateng karsanipun Sang Rama. Sumuyud dhumateng karsanipun Sang Rama mbereg anggenipun sumadya dipunsiapaken. Ara-ara samun dados panggenan olah jiwa raga kangge njagi anggenipun sumuyud dhumateng Gusti Allah.

Panutup

Minggu menika kita lumebet ing Minggu Saderengipun-Paskah  (Pra-Paskah) ingkang kaping sepisan. 40 dinten kita badhe ngraos-ngraosaken sangsaranipun Gusti. 40 dinten menika wekdal ingkang wigati sanget. Tiyang Kristen ing pundi-pundi panggenan sami dedonga, nalangsani dosa, mratobat, pasa, lsp. Kados dene Gusti Yesus 40 dinten ing ara-ara samun saderengipun miwiti paladosanipun, sumangga kita ugi ngayati minggu-minggu Pra-Paskah menika kanthi teman.

Minangka paladosipun Gusti, kita nggadhahi tugas kangge ngladosi satunggal lan satunggalipun. Kangge tugas menika, Gusti Yesus paring conto amrih kita  sumuyud lan tunduk namung dhumateng karsanipun Gusti Allah.

Ngandhapaken batos kangge sumuyud menika boten gampil. Manungsa nggadhai ing dhirinipun persepsi bab harga diri. Harga diri ingkang ageng menapa malih rumaosing batos linuwih badhe ngawrataken proses sesarengan ing paladosan.

Sedaya tiyang ingkang leladi kedah nggadhahi sikap batos ingkang sumuyud/tunduk dhumateng Gusti Allah. Kanthi sumuyud manungsa badhe dados rowang damel ingkang sae kangge martosaken Injil, kabar kabingahan.

Temahan tentrem rahayu kang saka ing Gusti Allah, kang ngungkuli saliring budi, bakal rumeksa marang ati lan pangangen-angenmu ana ing Sang Kristus. Amin.

Pamuji: KPK. 82: 1,3

 

Bagikan Entri Ini: