Tuhan yang Absolut

Bacaan : Ayub 38 : 12 – 21 | Pujian: KJ 361

Orang yang sedang dalam penderitaan mesti merenungi sikap hidupnya dalam hubungannya dengan Tuhan. Kalau menemukan banyak dosa dan kesalahan, orang itu akan segera berdoa memohon pengampunan kepada Tuhan. Kalau tidak menemukan dosa dan kesalahan yang diperbuatnya, orang itu akan mempertanyakan kasih, kuasa dan keadilan Tuhan. Kalau penderitaan itu sudah berlangsung lama, sudah bertobat dan berdoa dengan tekun namun masih juga menderita, maka dia akan mulai berani memprotes Tuhan.

Ayub juga merasa tidak diberi keadilan oleh Tuhan, karena dia yang tidak berbuat dosa kok dibiarkan menderita luka parah (34: 5-6). Seolah-olah Tuhan tidak tahu dan tidak melihat penderitaannya yang hebat itu. Ayub meragukan hikmat Allah dalam mengatur kehidupan. Akibatnya, Ayub yang tidak berbuat dosa dan kesalahan ditimpa penderitaan yang hebat. Kalau memang Allah itu mengatur kehidupan dengan hikmat, mestinya Ayub yang tidak berduat dosa dan salah itu tidak akan pernah mengalami penderitaan.

Bacaan kita hari ini merupakan jawaban Tuhan kepada Ayub atas keluhannya. Tuhan menunjukkan bahwa Dia mempunyai kekuasaan yang absolut (mutlak) atas segala sesuatu. Dia yang menciptakan, menata dan mengatur segala sesuatu. Dia menata dan mengatur gelap dan terang serta segala waktu/ masa. Tidak ada seorang pun yang tahu di manakah dia sebelum dikandung dan dilahirkan ibu. Tuhan yang mengetahuinya. Tidak ada yang bisa memerintahkan datang dan perginya terang dan gelap, atau awan dan hujan, salju dan es, selain Tuhan sendiri. Sesaleh apa pun Ayub, dia tidak bisa menyelami hikmat Allah dalam menciptakan, menata dan mengatur tempat, waktu dan gerak/ arah semua yang ada.

Ayub, dengan kesalehannya, terlalu kecil untuk bisa memahami hikmat dan kuasa Allah yang absolut itu. Mustahil Ayub bisa mengatur atau mempengaruhi Tuhan dengan kesalehannya. Ayub terlalu lemah untuk memprotes Tuhan. Dia hanya harus bisa nrima (menerima) keadaannya, pasrah dan sabar serta percaya akan kekuasaan Tuhan yang absolut itu. Demikianlah juga seharusnya kita ketika kita mengalami penderitaan. [st]

“Nrima, pasrah dan percaya akan Tuhan, mendatangkan kedamaian.”

 

Bagikan Entri Ini: