Ssst… Harap Tenang, Ada Ujian

Bacaan : Yakobus 1 : 2 – 8 | Pujian: KJ 249
Nats: “…ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan…” [ayat 3]

Seruan “HARAP TENANG, ADA UJIAN!” rasa-rasanya lebih tepat ditujukan kepara orang yang sedang menjalani ujian. Karena, ketenangan itu bersumber dari dalam diri sendiri, dan tidak ditentukan oleh orang lain. Slogan semacam ini kadang-kadang kurang tepat, sehingga memanjakan orang yang sedang menempuh ujian, dan menuntut supaya semua orang memahaminya karena ia sedang melakukan ujian. Lha ini yang ujian siapa? Kok orang lain yang disuruh tenang?

Demikianlah ujian iman yang dijelaskan dalam Yakobus 1, bahwa sejatinya, ujian iman yang ditempuh oleh setiap orang percaya, akan menghasilkan ketekunan. Ketika iman kita diuji, di sanalah respon tekun itu akan muncul untuk menyelesaikan ujian iman. Ketekunan itu tentu saja perlu dilakukan dengan cara fokus kepada Allah sumber kehidupan beriman kita. Dalam sebuah ketekunan, tentu diikuti dengan sikap yang tenang. Karena kegelisahan dalam merespon sebuah ujian iman, akan menyulitkan kita untuk berlaku tekun. Kegelisahan itu cenderung akan mendorong kita untuk melakukan tindakan yang grusa-grusu, tanpa mengandalkan hikmat Tuhan.

Apa itu ujian iman? Bisa dalam rupa-rupa tantangan dan persoalan. Misalnya saja, ketika orang ada orang lain yang mengkritik negatif hasil pelayanan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, itu juga bagian dari ujian iman. Ketika bentuk pelayanan itu dilakukan secara benar bagi kemuliaan Tuhan (perlu diuji secara sungguh), maka kritikan tajam tidak boleh menggugurkan semangat pelayanan kita. Justru ketika muncul ejekan atau gunjingan atau kritikan dari hasil pelayanan kita, di situlah kita harus lebih tekun lagi terlibat dalam pelayanan. Karena menarik diri dari pelayanan hanya karena kritikan orang lain, menandakan bahwa pelayanan kita masih kita lakukan untuk mendapat pujian dari manusia. Di sinilah anugerah kita melalui Yakobus 1:2-8 untuk belajar tenang dalam menghadapi ujian iman supaya kita tetap tekun dalam iman kita kepada Allah. [Dee]

“Gagal dalam ujian iman, itu wajar saja. Tetapi bersedia tekun meski pernah gagal menempuh ujian iman, itulah hikmat”.

 

Bagikan Entri Ini: