Meruntuhkan Tembok Pembatas Renungan Harian 3 Mei 2018

Bacaan: Kisah Para Rasul 10:1-33 I Pujian: KJ. 424
Nats:
„Sekarang kami semua sudah hadir di sini di hadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu.“ Ayat 33b

Dalam sebuah pertemuan komunitas yang beragam, muncul pernyataan “…selamat datang keberagaman dan selamat tinggal keseragaman...” Ungkapan ini memiliki semangat melepaskan sikap eksklusif dalam komunitas atau kelompok-kelompok tertentu termasuk dalam kelompok keagamaan. Menjadi sangat berbahaya jika diantara kelompok yang terbentuk saling berstrategi untuk menjatuhkan kelompok lainnya. Mereka akan berkompetisi untuk menjadi pemenang. Jika gereja dengan beragam denominasi mengedepankan kompetisi dan masing-masing merasa yang paling benar, maka sebenarnya sedang melumpuhkan semangat “militia christi”. Gereja tidak lagi memiliki semangat dan jiwa perjuangan untuk tegaknya keadilan dan terwujudnya perdamaian.

Pertemuan antara Kornelius dan Petrus adalah peristiwa yang meruntuhkan tembok pembatas. Kornelius, seorang perwira pasukan Italia, mendapat penglihatan untuk menemui Petrus. Sedangkan Petrus, juga melalui penglihatan, tanpa ragu segera menjumpai Kornelius meskipun secara tradisi pertemuan itu tidak mungkin terjadi. Kedua pihak melepaskan rasa curiga karena sama-sama meyakini kehendak Tuhan. Mereka melepaskan sifat keakuannya dan dengan tulus menempatkan kehendak Allah sebagai yang utama. Mereka sadar bahwa Allah ingin berperan dalam hidupnya dan percaya ada rencana Allah yang akan dinyatakan dalam kehidupan mereka yang berpengaruh untuk kehidupan sesamanya.

Belajar dari sikap yang diambil oleh Kornelius dan Petrus, sudah saatnya kita menerobos kebekuan hubungan diantara sesama yang dikarenakan beragam persoalan. Kebekuan yang muncul karena kesombongan, ketidaksukaan, sakit hati, perbedaan prinsip dan beragam pengaruh pola pikir kita yang negatif lainnya, semuanya akan bisa lenyap jika kedua pihak menempatkan kehendak dan karya Allah dalam hidupnya. Dengan demikian kasih dan keselamatan Allah yang diberikan kepada kita akan juga tersampaikan kepada pihak yang selama ini mungkin tidak bisa bertemu. Pada akhirnya banyak orang akan berseru “…sekarang kami semua sudah hadir di sini di hadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepada kami….”Amin.(yohdidik)

„ Kasih yang sejati selalu akan melintasi batas-batas“

 

Bagikan Entri Ini: