Desas-Desus Renungan Harian 29 Januari 2018

Bacaan : Kisah Para Rasul 21:17-26 |  Pujian: KJ 400
Nats:
“Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Taurat, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat-istiadat kita.” (21)

Pengaruh hoax (kabar palsu) begitu dahsyat. Hoax ini bisa berakibat fatal karena biasanya berisi tentang fitnah, adu domba, menimbulkan kepanikan sosial. Contoh yang masih hangat adalah kehancuran negara Suriah akibat isu yang membenturkan agama dengan pemerintah sehingga mengoyak kebinekaan. Disayangkan jika saat ini banyak orang mudah menelan mentah-mentah berita yang didengar padahal belum tentu kebenarannya.

Kabar palsu, desas-desus juga pernah dialami oleh Rasul Paulus. Ada tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya di antaranya :

  1. Paulus dituduh mengajarkan kepada orang-orang Yahudi perantauan agar tidak mentaati hukum-hukum Musa.
  2. Paulus dituduh mengajarkan agar anak-anak orang Yahudi tidak disunat.
  3. Paulus dituduh agar orang yang sudah percaya kepada Kristus tidak hidup menurut adat-istiadat Yahudi.

Menyikapi kabar itu Paulus memberikan penjelasan bahwa dia:

  1. tidak pernah melarang orang-orang Yahudi menyunatkan anaknya, bahkan Paulus pernah menyunatkan anak rohaninya yang bernama Timotius.
  2. memang mengjarkan orang-orang Kristen non Yahudi hendaknya dibebaskan dari upacara-upacara Taurat Musa.

Walaupun Paulus sudah menjelaskan dan memberikan kesaksian tentang dirinya, tentang karya-karya Allah melalui hidupnya, kabar palsu dan desas-desus itu sudah merasuki pikiran orang-orang yang tidak menyukainya. Puncaknya, Paulus ditangkap dan disiksa. Untungnya ia masih bisa selamat.

Karena dampak berita palsu atau desas desus begitu mengerikan maka penting sekali bagi kita untuk berhati-hati dalam mengabarkan berita. Pastikan berita itu valid dan positif, jika berita itu negatif maka hendaknya dibungkus dengan kalimat yang tidak provokatif. Ketika kita menerima berita hendaknya bisa menyaring dengan baik, tidak menelan mentah-mentah. Pikiran jernih dan bijaksana adalah tindakan yang tepat untuk menjadikan suasana sejuk. (Jian).

“Menerima berita dengan bijaksana akan menyejukkan suasana.”

 

Bagikan Entri Ini: