Hidup Dalam Pengharapan

Bacaan : Yoel 2 : 18 – 29 | Pujian: KJ 392 : 1 – 3
Nats: “Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena Tuhan, Allahmu!” [ayat 23a]

Mengapa kita diajak untuk hidup dalam pengharapan? Sebab, dengan berpengharapan kita memiliki optimisme, agar dapat melihat dan menilai banyak hal secara positif.

Dalam masyarakat Jawa berlaku pepatah: ‘Tepa slira’. Tepa artinya ukuran, dan slira artinya badan. Jadi, yang dimaksud dengan ‘tepa slira’ adalah imbauan agar segala sesuatu yang terjadi diusahakan untuk diukur atau diterapkan pada diri sendiri. Dengan demikian, sikap dan perbuatan kita tidak akan semena-mena, tanpa mempedulikan orang lain. ‘Tepa slira’ merupakan salah satu ajaran penting di masyarakat Jawa dalam menciptakan tenggang rasa: jika merasa sakit ketika dicubit, ya jangan mencubit; jika tersinggung jika diejek mengenai kelemahan diri, ya jangan mengejek kelemahan orang lain sebab pasti ia tersinggung. Dengan memiliki kebiasaan menerapkan segala sesuatu pada diri sendiri, seseorang akan selalu berusaha menghargai orang lain; ia akan menjauhi sikap ‘gumedhe’ (merasa besar), ‘kuminter’ (merasa pandai), ‘sawiyah-wiyah’ (semena-mena), ‘kumalungkung’ (angkuh), dsb.

Bacaan kita menunjukkan bahwa manusia itu berdosa, sebab itu manusia tidak boleh sombong. Dengan mengakui dan menyesali dosa, serta secara konsisten mematuhi-Nya, Allah menghindarkannya dari bencana. Kesadaran tentang pencurahan Roh Kudus dalam diri setiap orang percaya, menuntun kita untuk hidup lebih benar, sebagai respon kita akan cinta kasih-Nya, dan sebagai persiapan menyambut ‘Hari Tuhan’ yang merupakan hari penghakiman dan anugerah. Penghakiman bagi mereka yang tak pernah menyesali dosa dan sebagai anugerah keselamatan bagi mereka yang mengaku salah dan menyesalinya. Kita harus menentukan pilihan: menerima anugerah keselamatan-Nya atau binasa karena tak pernah menyesali dosa.

Pemahaman bahwa setiap perbuatan kita membawa dampak dalam kehidupan kita bersama, baik di masa kini maupun di masa mendatang, membantu kita untuk menjauhi sikap sombong. Dengan demikian kita diperkenankan melanjutkan karya Allah di bumi ini. Amin. [Esha]

“Bahagia dan berpengharapan jika kita konsisten dalam persekutuan-Nya.”

 

Bagikan Entri Ini: