Anak Tangga Iman

Bacaan : Kisah Rasul 26 : 24 – 29 | Pujian: KJ 309
Nats: ”…. Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka…..”[ayat 27]

James Fowler mengemukakan 6 tahap perkembangan iman. Keenam tahap ini baru dapat dicapai setelah menyelesaikan tahap sebelumnya. Namun, gambaran umur dalam setiap tahap hanya sekedar perkiraan; transisi ke tahap selanjutnya biasanya dipicu oleh pengalaman baru, krisis, atau pencerahan yang mengguncang iman. Karena itu, banyak juga orang yang seumur hidupnya tidak pernah beranjak dari tahap tertentu, meskipun ada pula yang bisa melewati tahap tertentu sebelum mencapai usia yang ‘seharusnya’.

Tahap 1, Intuitive-projective faith (usia 18-24 bulan sampai 7 tahun) Pada masa ini ‘iman’ anak banyak diperoleh dari apa yang diceritakan orang dewasa. Tahap 2, Mythic-literal faith (usia 7 sampai 12 tahun) anak sudah lebih logis dan mereka percaya bahwa Tuhan itu adil. Tahap 3, Synthetic-conventional faith (usia remaja dan selanjutnya), remaja mulai membentuk ideologi (sistem kepercayaan) dan komitmen terhadap idealisme tertentu. Tahap 4, Individuative-reflective faith (awal hingga pertengahan umur duapuluhan) mereka mulai memeriksa iman mereka dengan kritis dan memikirkan ulang kepercayaan mereka. Tahap 5, Conjunctive faith (usia paruh baya) orang jadi semakin menyadari batas-batas akalnya, sering menghadapi konflik antara memenuhi kebutuhan untuk diri sendiri dengan berkorban untuk orang lain. Dan terakhir tahap 6, Universalizing faith (lanjut usia) tahap yang jarang dapat dicapai, selain dengan iman. Mereka digerakkan oleh iman sehingga dapat berpartisipasi dalam gerakan yang menyatukan dan mengubah dunia, namun tetap rendah hati, sederhana, dan manusiawi. Mereka kerap menjadi martir; meski mencintai kehidupan, mereka tidak terikat padanya.

Rasul Paulus telah melalui tahap 6. Paulus berani menceritakan tentang perubahan hidup yang dialaminya setelah bertobat. Ia bahkan berani bersaksi dan mengajak Agripa untuk percaya kepada Kristus (ay. 27) sekalipun harus martir. Cara Paulus bersaksi itu bisa menjadi pola yang bisa kita tiru bila kita hendak menyaksikan iman hidup kita kepada orang lain. Beranikah kita?[Dee]

“Iman itu ibarat seorang bayi. Hanya bisa berkembang dengan cara merawatnya” (Douglas Jerrold)

 

Bagikan Entri Ini: