Menelusuri Pengelolaan Harta Kekayaan Dan Keuangan Dalam Alkitab

Pemberian TUHAN dalam kehidupan Gereja kita sangat banyak , baik berupa daya (jumlah dan mutu warga), dana (sawah, kekayaan, uang dll) dan sarana (gedung, inventaris dll) yang harus dikelola dan diurus dengan baik. Tujuan dari semua pemberian TUHAN adalah untuk menunjang gereja agar dapat memenuhi tugas panggilannya, yaitu ikut serta mewujudkan rencana dan karya TUHAN di dunia demi kemuliaan namaNya. Karena itu usaha mengurus pemberiaan Tuhan ini harus “DIGALAKKAN”.

Hal yang pertama penting dilakukan adalah mengupayakan kesadaran dan tanggung jawab warga  mengurus bahwa mengelola dan mengurusi dengan baik segala pemberian TUHAN adalah PERINTAH. (band. Kej 1:28, Ul 6:5, Luk 10:27). Harta kekayaan dan uang dijadikan sebagai alat mengungkapkan kasih dan pelayanan terhadap sesama, serentak juga sebagai alat untuk melaksanakan missi dan memuliakan Tuhan Allah. Perubahan pemahaman mendasar adalah Harta kekayaan dan uang bukan sebagai sesuatu yang intrinsik jahat dan usaha pencarian/pengumpulan harta kekayaan dan uang bukanlah tindakan dosa. Tantangan berat yang dihadapi gereja saat ini adalah mengelola harta kekayaan dan uang dalam kerangka tujuan Messianik.

Investasi sebagai tindakan iman

Beberapa pengelolaan harta kekayaan dan uang terlihat begitu buruk dalam praktek kehidupan diukur dari normatif moral sosial masyarakat tertentu serta menimbulkan kerugian kelompok masyarakat baik sekarang maupun di masa datang. Tetapi pengelolaan yang baik dan bertanggung jawab tentunya berdampak positif bagi kehidupan seseorang dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Disadari memang budaya “relativisme” yang berkembang dalam dunia perdagangan dapat menisbikan/mengabaikan nilai dan norma dasar kehidupan yang melatarbelakangi sebuah tindakan ekonomi.

Karena itu banyak pebisnis yang berintegritas,jujur dan berwawasan sosial berusaha sungguh-sungguh untuk membuat konsensus normatif agar kegiatan ekonomi ini dapat mencapai tujuan terukur dan menyejahterahkan kehidupan dan bukan menjadi sumber kehancuran. Dan tidak ketinggalan dari kalangan agama (gereja)  juga mengangkat paradigma dan wawasan kegiatan ekonomi ini sebagai bagian dari inheren yang ajaran mereka dimana tujuan akhirnya adalah menjadikan kegiatan ekonomi ini sebagai sebagai bagian dari tanggung jawab iman dan menjadi salah satu indikator kematangan iman.

Investasi Vs spekulasi

Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. 14  Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam…( Kej 6:13-14).

Nuh adalah seorang investor pertama menurut Alkitab. Ia bekerja keras selama bertahun-tahun untuk masa depan keluarganya dengan membangun sebuah bahtera. Ia merelakan diri untuk tidak bersantai dan menikmati kesenangan hidup seperti teman dan masyarakat pada umumnya tetapi bekerja keras dan mengerahkan segala daya kemampuannya melakukan perintah Allah.  Apa yang dilakukan Nuh dapat dikategorikan sebagai tindakan investasi yang berorientasi jangka panjang. Perilaku umat manusia yang hanya berorientasi jangka pendek, berjiwa hedonis dan mencari kesenangan sesaat, keuntungan besar dan cepat dan mudah tanpa memperhitungkan nilai perilaku kehidupan menyeret kehidupan manusia pada akhir yang buruk (Azab).

Nilai dasar investasi adalah berpartisipasi dalam kepemilikan usaha, hal ini bertentangan dengan pandangan umum yang hanya melihat kepesertaan dalam permodalan sebagai bagian terpisah dari usaha yang dilakukan. Aset hanya dilihat sebagai sumber utama keuntungan. Bagi seseorang yang terpenting adalah ketika ia berpartisipasi dalam permodalan ia dapat segera menikmati keuntungan cepat tanpa peduli dasar-dasar bisnis yang benar. Dan kesuksesan diharapkan lebih pada tindakan spekulasi bukan pada analisa akurat. Banyak bukti menunjukkan bahwa kebanyakan tindakan spekulasi,- meski belum tentu tidak etis,ini tidak menghasilkan keuntungan finansial bahkan lebih sering merugikan. Investasi yang sehat dilakukan dari waktu ke waktu dengan penerapan dasar-dasar bisnis yang profesional. (Band. Warren Buffet)

Diversivikasi dan alokasi aset inventasi

Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi. (Pengkhotbah 11: 2).

Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan.

Sebab pikirnya: “Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput.” (Kej 32:7-8)

Dalam berinvestasi seseorang harus dapat membagi dalam ragam aset tetapi jangan terlalu berlebihan karena ini lebih merupakan sebuah ide yang buruk. Dalam Alkitab diterangkan ragam pengalokasian aset ke dalam tiga atau tujuh bahkan delapan dan ini sangat mungkin dapat diterima seorang investor bijaksana.

Dalam Talmud, Rabi Yizchak mengatakan orang harus membagi uangnya dalam tiga bagian : sepertiga di tanah, sepertiga dalam perdagangan dan sepertiga di tangan. Hal ini juga dapat dimengerti bahwa 1. Nilai tanah adalah investasi kehidupan jangka panjang dan nilainya terus naik.  Sedangkan perdagangan sangat fluktuatif dan diperlukan analisa tepat yang profesional. Sedangkan yang ketiga uang seperti air yang begitu mudah mencair di tangan kita untuk berbagai keperluan hidup. Mungkin bagi sebagian investor modern ada juga yang menafsirkan sepertiga deposito, sepertiga saham dan sepertiga obligasi.

Tetapi reksa dana yang khas saat ini dengan ragam lebih dari 50/60 saham ini terlalu berlebihan dan tidak mungkin mengetahui secara intens investasi setiap individu. Ini juga membawa kita pada prinsip berikut

Investasilah pada apa yang anda ketahui

Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan,4  dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik. “(Amsal 24: 3-4).

Nilai investasi didapat dari efek mispriced, yaitu membeli saham saat jatuh di bawah nilai intrinsiknya. Penting mengetahui nilai intrinsik bukan sekedar nilai subyektif  di pasar yang tercantum. Dan ini yang menentukan keuntungan investasi jangka panjang. Pengetahuan yang mendalam tentang bisnis dapat memberikan percaya diri untuk berivestasi dengan mantap. Bukan desa-desus, rumor atau analisa dangkal. Dan yang tidak kalah penting memilih investasi juga digambarkan seperti memilih makanan sehat. Pengetahuan menyeluruh sebuah perusahaan diperlukan mengingat adanya sumber penyakit yang dapat ditimbulkannya seperti manajemen yang tidak jujur, penyimpangan laporan keuangan, perubahan peraturan dll.

Melawan arus mencermati siklus dan fluktuasi pasar

 Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir. Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir.Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya.Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu.”(Kej 41)

Bersikap bijaksana mencermati siklus dan tenang dalam fluktuasi pasar sangat diajurkan. Hal ini menolak kecenderungan alami manusia untuk hidup boros dan bermewah-mewah saat “booming” tanpa ada perlindungan sama sekali pada saat krisis yang tidak dapat terelakkan. Pendekatan yang seimbang aspek batin, tidak boros saat kemakmuran dan tetap mengambil keuntungan di masa kemakmuran untuk antisipasi pada saat krisis yang dapat terjadi.

Batas aman

 Yak 4:13  Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,”

Faktor resiko selalu ada dalam investasi, mengingatkan akan batas akal manusia dan ketidakpastian yang ada dalam kehidupan di dunia. Dalam nilai intrinsik juga ada jaminan perlindungan terhadap faktor tidak terduga dan kesalahan penilaian. Hukum normatif (agama) mengatur sebagai pagar yang meminimalkan orang untuk banyak melakukan pelanggaran dan kesalahan. Demikian juga prinsip investasi kurang lebih sama.

Bermurah hati

Ams 31:20  Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

Seperti kebanyakan agama lainnya, Alkitab juga berulang kali menekankan pentingnya belas kasihan. (Band. Cerita Warren Buffet) inpirasi kisah uang Mina (Lukas 19).

Untuk kesimpulan awal penelusuran

Beberapa contoh di atas menunjukkan kesamaan nilai investasi dan etika bisnis dalam Alkitab. Pendekatannya bermiripan menekankan pentingnya kebenaran, rasionalitas dan pengendalian diri dalam persoalan tindakan  ekonomi manusia. Beberapa artikel etika bisnis Kristen memberikan banyak contoh kehidupan pebisnis sukses berlatar belakang filosofi Alkitab dan mengelola keuntungan investasinya untuk mendukung program-program kemanusiaan.

Marilah kita berharap bahwa perintisan semangat kewirausahaan dan investasi bisnis  di GKJW membangun nilai dan perbaikan kualitas kehidupan warga dan kemuliaan Tuhan.

Bagikan Entri Ini: