Festival Karawitan Bulan Pembangunan GKJW

IPTh. Balewiyata pada tanggal 12 Agustus 2017 lalu telah mengadakan festival karawitan dalam rangka bulan pembangunan Greja Kristen Jawi Wetan. Sebanyak 15 jemaat  mengikuti festival ini dengan memainkan lagu-lagu dari Kidung Kontekstual.

Jemaat-jemaat tersebut ialah GKJW jemaat Sukolilo, Ngagel, Pare dan Jambangan. Tampil pula utusan dari GKJW jemaat Kediri, Sobrah, Sidotopo, Sidoarjo, Batu dan Pundungsari. Kelompok karawitan dari GKJW Rungkut, Darmo, Madiun, Sambirejo dan Tanjung Perak juga ambil bagian dalam festival ini

Selain penampilan jemaat-jemaat tersebut, festival kali ini juga diisi dengan pertujukan wayang kulit yang dimainkan 3 dalang. Pdt. Ki Suko Tiyarno, Ki Gabriel Satya Christia, dan Ki Eko Saputro berkolaborasi dalam satu kelir (layar) memainkan lakon berjudul “Semar mBangun Kayangan”.

Lakon ini menceritakan kesedihan pandawa karena tindak-tanduk rakyat Amarta yang tidak baik. Kerusakan watak rakyat Amarta tersebut membuat Pandawa tidak lagi mempunyai keinginan untuk memimpin Amarta lagi. Keadaan tersebut membuat rusak pula hati dan pikiran Pandawa sebagai pemimpin.

Sementara itu, keadaan di Kahyangan pun tidak jauh berbeda dengan keadaan di Amarta. Tindak-tanduk para dewa juga rusak. Keserakahan Betara Kala merajalela. Dewi Durga berkolusi untuk mencapai kepentingannya. Betara guru pun juga lebih membela istrinya daripada kebenaran.

Melihat keadaan itu, Semar akhirnya turun tangan untuk membangun kembali watak & perilaku para dewa &  Pandawa. Semar berusaha membangkitkan kembali asa Pandawa agar berjuang lagi untuk membangun Amarta.

Dipilihnya lakon ini bukan berarti bahwa GKJW berada dalam keprihatinan seperti di Amarta atau Kahyangan. Dalam konteks GKJW, lakon itu mengajarkan agar GKJW harus terus membangun karakternya seperti yang dilakukan oleh Semar. “Baik karakter warga jemaat maupun karakter pemimpin jemaat harus terus dibangun.” Demikian Pdt. Ki Suko Tiyarno menerangkan.

Baca Juga:  Kultur Sebagai Perekat Hubungan Antar Umat Beragama

Jalannya Festival karawitan sendiri dibagi dalam tiga babak. Babak pertama diisi dengan penampilan peserta yang memainkan gamelan dengan laras slendro. Peserta yang memainkan gamelan dengan laras pelog tampil di dua babak berikutnya. Jeda antar babak diisi dengan pertunjukkan wayang kulit “Semar mBangun kayangan” tadi.

Pdt. Ki Suko Tiyarno dan Ki Eko Saputro langsung mengomentari penampilan peserta seusai mereka tampil membawakan lagu/ gending pilihannya. Beberapa kekurangan yang sering terjadi dalam festival ini misalnya: tempo yang tidak tepat (terlalu cepat atau lambat) dan kekeliruan pengucapan saat menyanyikan lagu berbahasa daerah (Bahasa Jawa atau Madura).

Festival karawitan kali ini bukan merupakan perlombaan. Peserta favorit ditentukan dari banyaknya suara yang masuk melalui kartu suara dari  utusan peserta dan undangan. Lima peserta favorit dalam festival ini yaitu: GKJW Jemaat Sambirejo, GKJW Jemaat Batu, GKJW Jemaat Darmo, GKJW Jemaat Madiun, dan GKJW Jemaat Sukolilo.

Rekaman langsung (live recording) Festival Karawitan Bulan Pembangunan GKJW dapat didengarkan disini

Video Festival Karawitan Bulan Pembangunan GKJW:
(Video oleh M1 Media TV Channel)

Bagikan Entri Ini:

Entri Serupa:

Profile of Balewiyata: Identity and Brief History Baca artikel ini dalam Bahasa Indonesia Salib di kapel IPTh. Balewiyata As human being, Balewiyata has identity. ‘BALEWIYATA' is a name, is a...
Sedikit Tentang Peran Nyanyian Dalam Ibadat Minggu Pendahuluan Istilah nyanyian gerejawi dalam tulisan ini terkhusus dimaksudkan sebagai nyanyian yang digunakan dalam ibadat gereja pada hari...
Iringan Musik Nyanyian Ibadat 1. Pendahuluan Musik mempunyai peranan besar dan penting dalam pelayanan ibadat. Musik dapat menjadi berkat besar dari Tuhan untuk jemaat. T...
Identitas dan Sejarah Ringkas Balewiyata Read this article in English Salib di Kapel IPTh. Balewiyata Se-lazim-nya manusia, demikian pun Balewiyata, beridentitas. ‘BALEWIYATA' adalah...