Konven Pendeta GKJW 2016: Spiritualitas Kebersamaan dan Kesederhanaan

konvent

Wisma Samadi Syallom, Batu, yang sejuk dan sederhana penuh sesak pada 7-9 September 2016. Selama tiga hari, tidak kurang dari 130an orang dari 166 pendeta aktif GKJW berkonven bersama. Mereka kembali merefleksikan jalan spiritualitas mereka sebagai pendeta, pelayan dan pemimpin umat di tengah konteks Jawa Timur tahun 2016 ini.

Konven pendeta GKJW 2016 “Spiritualitas Kebersamaan dan Kesederhanaan” melanjutkan tema konven pendeta GKJW 2013, “Peziarahan”. Di tengah dinamika masyarakat era postmodern ini, pertanyaan pertama yang diajukan adalah apakah berbicara spiritualitas masih sesuatu yang relevan. Tentu secara langsung, para pendeta akan mengatakan iya, karena dalam pelayanan mereka setiap hari, spiritualitas adalah kisah yang mereka tuturkan. Namun beberapa kenyataan seperti lebih diutamakannya kehidupan sosial kemasyarakatan baik di bidang ekonomi, sosial, politik, melebihi panggilan gerejawi mengusik jawaban itu. Belum lagi jika melihat gejala-gejala yang dibawa oleh perubahan teknologi, kependudukan, globalisasi yang menunjukkan bahwa orang hari ini menjadi semakin berjiwa transaksional dalam relasinya dengan Tuhan dan sesama ciptaan, menjadi materialistis dan cenderung egois, mencari posisi aman dan nyaman daripada berjuang dalam jalan iman, serta menggampangkan agama dalam kaitannya dengan hal-hal teknis keseharian, kesibukan dunia kerja, membuat pertanyaan itu kembali perlu direfleksikan. Nyatanya seringkali para pendeta dan gereja menjadi gagap dalam dialog antara spiritualitas dengan aksi kongkret dalam konteks jaman abad 21 ini. Spiritualitas dan keseharian seperti lebih bersifat komplementer daripada menyatu.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana para pendeta secara pribadi maupun bersama-sama menghidupi panggilan imannya di tengah perubahan jaman yang terjadi. Pada masa ini teologi dan spiritualitas tidak lagi menjadi queen on science. Gereja tidak lagi dalam periode masa keemasan seperti pada jaman  abad-abad pertengahan. Maka bagaimana pendeta memosisikan dirinya dalam segala perubahan jaman perlu kembali ditelisik dan ditemukan. Jika tidak maka akan terjadi dualitas, saya sebagai pendeta yang harus memenuhi panggilan iman saya dan saya sebagai orang biasa yang bisa salah.

Dan pertanyaan terakhir adalah bagaimanakah akhirnya gereja bersikap di tengah konteks demikian. Indonesia pada masa kepresidenan Jokowi ini sedang bergiat memperbaiki regulasi dan sistem pemerintahan. Ketika perbaikan-perbaikan sosial ternyata juga berdampak bagi kehidupan bergereja selaku lembaga sosial non profit, bagaimanakah gereja menanggapinya.

Ketiga pertanyaan ini digumulkan dalam rangkaian acara yang diadakan selama konven pendeta tiga hari tersebut. Materi-materi disajikan mulai dari mengenai Aku dan Panggilanku, pengenalan pola spiritualitas pribadi menggunakan kategorisasi Dale Cannon dalam Six Ways of Being Religious, Lectio Divina dengan tema Mesra dengan Tuhan, Pastor Pastorum mengenai Rowang Gawe kang Sembada dengan terang teologi persahabatan, dan PA bertajuk “Aku Sedulurmu.” Dalam acara itu pun para pendeta diajak untuk terlibat dalam berbagai ragam kebaktian, mulai dari kebaktian pembukaan yang ekspresif, meditasi bersama Romo Cyprianus Verbeek, kebaktian padang yang menyatu dengan alam, kebaktian reflektif bertema jubah panggilan, dan kebaktian Perjamuan Kudus kontekstual dengan jadah dan wedang uwuh khas Jawa.

Pertanyaan demi pertanyaan di awal dijawab melalui sesi-sesi dan kebaktian yang diadakan. Nuansa hangat kebersamaan namun teduh dirasakan sepanjang kegiatan. Sesekali tawa canda mengiring perjumpaan para pendeta ini. Ditemukan bahwa di tengah era postmodern ini, ketika orang menjadi semakin sibuk dengan aktivitas harian mereka, termasuk para pendeta, bisa muncul kekeringan. Di tengah semua ketersediaan sarana yang semakin teknologis untuk membantu kehidupan, ternyata ada ruang yang tidak bisa terisi dengan segala peralatan itu.

Ruang ini adalah ruang spiritualitas yang hanya bisa diisi dengan perjumpaan dengan Tuhan. Ruang ini hanya akan utuh ketika seseorang mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Dan ini mendasar. Artinya bahwa jika seseorang meletakkan dirinya pada dasar kekuatannya sendiri, nyatanya manusia terlalu lemah, manusia sangat terbatas. Ketika spiritualitas menjadi dasar maka manusia menjadi utuh. Pertanyaan yang selalu harus ditanyakan seseorang pada dirinya sendiri adalah, “Apakah Tuhan sungguh menjadi dasar hidupku?” Spiritualitas ini mewarnai hidup manusia bahkan dalam keseharian. Seorang Kristen yang telah jejeg (berdiri kokoh dalam imannya) tidak akan melakukan kehidupan sehari-harinya terlepas dari spiritualitasnya. Spiritualitas ini akan selalu  memberikan dampak bagi seluruh pilihannya.

Spiritualitas ini bisa diolah sendiri dengan meditasi, memeriksa corak spiritualitas pribadi, dan menggali dirinya terdalam, maupun cara-cara yang lain. Meditasi misalnya, adalah jalan menuju kejernihan batin yang penting untuk dilakukan dengan disiplin. Namun disiplin yang dimaksudkan bukan disiplin yang membuat orang merasa bersalah ketika tidak melakukannya, atau tidak bisa rutin dan tertata pada jadwal yang rigid. Spiritualitas selalu mengikat namun pada saat yang sama membebaskan.

Selain dilakukan sendiri, spiritualitas juga bisa diolah bersama-sama, secara komunal, dengan rekan sekerjanya. Di sinilah kolegialitas mendapatkan nilai pentingnya. Masing-masing pendeta adalah pendukung satu sama lain. Kebersamaan yang menjadi dasar semangat Patunggilan kang Nyawiji adalah kekhasan pelayanan GKJW, dan di sana sebenarnya terkandung upaya pengolahan spiritualitas bersama ini. Arah dari olah spiritualitas ini tidak lain adalah kesungguhan. Sekum MA GKJW, Pdt. Budi Cahyono menyatakan, “Jika menjadi penjahat, jadilah penjahat yang tenanan. Jika menjadi pendeta, jadilah pendeta yang tenanan.”

Dan akhirnya setelah olah spiritualitas tiga hari, para pendeta diajak untuk melihat konteks pelayanan GKJW hari ini oleh Ketua MA GKJW, Pdt. Tjondro F. Gardjito. GKJW hari ini sedang terus berupaya untuk melakukan panggilannya sebagai organisasi sejalan dengan jiwa organismenya sebagai tubuh Kristus, supaya dalam perjumpaan antara gereja dan yang lain (liyan, salah satunya pemerintah) bisa berjalan sinergis. Dalam proses itu semangat spiritualitas Kristen yang benar perlu terus dijaga. Baik dalam upaya pembenahan diri terkait regulasi pemerintah misalnya tentang pajak, pemberdayaan ekonomi warga, pengelolaan aset, tertib keuangan demi upaya saling menjadi kepercayaan dan mandiri, terus berupaya menjadi berkat, serta setia pada keputusan bersama yang ditetapkan dalam sidang-sidang MA. Semuanya demi terwujudnya visi GKJW menjadi rekan kerja Tuhan mewujudkan hadirnya tanda-tanda kerajaan Allah bagi dunia.

Perjumpaan itu ditutup dalam mengumandangkan kembali komitmen bersama pendeta GKJW:

  1. Aku setia pada panggilan sebagai gembala, yang hadir bagi warga gereja dalam suka-dukanya,
  2. Sebagai rowang gawe, aku taat kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala gereja dalam menyapa dan memaknai roh zaman agar berbakti kepada-Nya,
  3. Aku, dengan rendah hati bersyukur diberi kesempatan khusus mengikut jalan salib Tuhan dan mengiring-Nya dalam kebangkitan-Nya,
  4. Aku, dengan segala hormat dan sepenuh hati mencintai GKJW dalam mengemban misi penyelamatan Tuhan.

Kata Kunci Artikel Ini: