Khotbah Tahun Baru 2017

Bacaan 1         :  Bilangan 6:22-27
Bacaan 2         :  Galatia 4:4-7
Bacaan 3         :  Lukas 2:15-21

Tema Liturgis  : Kristus memberi Terang Hidup
Tema Khotbah : Kristus memberi Terang Hidup

 

Keterangan Bacaan

Bilangan 6:22-27

Doa Harun dan anaknya ini merupakan salah satu puisi terindah di dalam Alkitab. Puisi itu masih diucapkan baik oleh orang Yahudi maupun orang Kristen saat ini. Puisi doa itu memohon berkat Allah, yaitu hidup bersama Allah. Berkat itu memampukan umat Allah melakukan kehendakNYA dan terlindungi dari semua kejahatan.

Dalam arti yang lain, doa itu juga menunjukkan bahwa umat Allah layak untuk menerima berkat, walaupun berdosa. Hal ini menunjukkan bahwa Allah dapat memberikan pengampunan jika manusia mematuhi sabdaNYA.

Damai dalam bahasa lain adalah Shalom. Damai dalam pengertian ini merupakan anugerah Allah, yang diberikan kepada umat yang taat kepadaNYA. Damai atau Shalom ini menolong kita untuk tidak cemas dalam bahaya apapun dan merasa lega walau apa yang terjadi. Bila kita menyadari bahwa Allah melindungi kita, dan mencukupi kebutuhan kita, maka kita akan merasakan damai – Shalom itu.

 

Galatia 4:4-7

Rancangan Allah itu sempurna. IA merencanakan bagaimana caranya manusia dilepaskan dari kuasa dosa. Itulah yang nampak dalam kehadiran Yesus sebagai manusia di dunia, untuk menebus manusia.

Yesus datang untuk membebaskan manusia dari segala kuasa dosa. Allah di dalam Yesus Kristus dapat mengangkat siapa saja menjadi anakNYA. Siapa yang percaya kepada Yesus Kristus diberi hak untuk menjadi Anak Allah.

Roh Kudus adalah Roh Yesus Kristus, atau Roh yang hidup didalam Yesus Kristus. Roh itu juga bekerja di dalam diri orang percaya dan memampukan orang tersebut menyebut Allah itu Bapa.

Orang Galatia tidak lagi disebut hamba, karena sudah menjadi anggota keluarga Allah. Mereka tidak lagi dibawah kuasa hukum agama yang lama. Sebagai anggota keluarga Allah, orang Galatia sekarang disebut juga ahli waris Allah.

 

Lukas 2:15-21

Gembala adalah golongan orang yang dipandang rendah di tengah masyarakat. Mereka sangat jauh dari taat kepada hukum taurat. Namun justru mereka orang pertama yang menerima kabar baik dari Malaekat tentang kedatangan Juruselamat. Lukas menekankan  perhatian Allah kepada orang miskin dan tidak penting. Yesus Sang Juruselamat, menyelamatkan umatNYA dari dosa mereka.

Para gembala itu percaya pada sabda sang malaekat, Karena para malaekat itu utusan Allah dan membawa berita yang sudah lama dinubuatkan para Nabi.

Para gembala segera menanggapi kabar baik itu dengan segala resikonya. Hal ini menampakkan kegembiraan yang luar biasa di dalam hati mereka

Semua terpesona atas kabar gembala. Kegembiraan itu menular tak terbendung di antara semua yang melihat dan mendengar kisah para gembala.

Kabar itu memang kabar baik, karena sudah lama dinanti-nantikan.  Tidak ada kabar lain yang mampu menggembirakan umat percaya waktu itu, lebih dari kabar tentang keselamatan dari kuasa dosa.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Doa yang tulus didengarkan Tuhan dan diberkati. Berkat yang nyata, jelas nampak pada diri Yesus Kristus, Sang Juruselamat dan Sang Mahapengasih.  Sang Juruselamat itu bukan hanya menyelamatkan orang percaya melainkan juga menganugerahi orang itu hak untuk menjadi ahli waris Allah.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Gembala adalah golongan orang yang dipandang rendah di tengah masyarakat. Mereka miskin, bekerja untuk tuan pemilik domba gembalaannya. Para gembala bekerja keras dan menghadapi bahaya yang tidak kecil untuk mengamankan domba-dombanya. Dalam kesederhanaan dan kerasnya hidup, mereka sangat jauh dari taat kepada hukum Taurat. Mereka terpandang rendah karena kurang memperhatikan kehidupan beragama, akibat kesibukan bekerja mencari nafkah. Namun justru merekalah orang pertama yang menerima kabar baik dari Malaekat tentang kedatangan Juruselamat.

Lukas menekankan  perhatian Allah kepada orang miskin dan tidak penting. Hal ini  menjelaskan bahwa keselamatan itu diberikan Allah untuk semua manusia tanpa kecuali. Golongan masyarakat yang paling terabaikanpun dianugerahi keselamatan oleh Allah. Yesus Sang Juruselamat, menyelamatkan umatNYA dari dosa mereka. Inilah kabar baik atau Injil itu, kabar yang dibawa para malaekat kepada manusia, pertama di padang efrata untuk para gembala.

 

Isi

Kerja Roh Allah nampak dalam tanggapan gembala atas berita dari para malaekat. Roh itu membuat para gembala dengan gembira segera pergi ke Betlehem untuk memastikan kebenaran berita dari malaekat. Dalam keadaannya, para gembala tidak mungkin menjadi pembawa kabar gembira seperti kabar keselamatan manusia di dalam Yesus Kristus. Kabar baik atau Injil mestinya datang melalui orang-orang terhormat, terdidik/ terpelajar dan terpandang di tengah masyarakat. Tampilnya gembala sebagai yang pertama membawa Injil keselamatan dari Surga itu menunjukkan bahwa di dalam kuasa Allah, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Di pihak lain kisah gembala itu juga mengangkat martabat manusia yang rendah dan berdosa menjadi sedemikian mulia –di atas kemuliaan yang biasa ditemukan manusia di mana saja.

Di hadapan Maria, Yusuf dan bayinya, para gembala berbagi berita gembira surgawi dari malaekat. Orang yang berbahagia sulit menutupi perasaan hatinya itu di depan orang lain. Orang yang berbahagia mempunyai keinginan agar orang lain tahu tentang kegembiraannya itu. Para gembala dengan gembira menceritakan pengalamannya mendengar malaekat bernyanyi dan memberitakan kabar dari surga tentang hadirnya Sang Juruselamat di dunia. Injil kabar baik tentang keselamatan anugerah Allah di dalam Yesus Kristus itu tidak dapat ditutup-tutupi.

Injil kabar baik yang disampaikan gembala itu mendapat tanggapan yang berbeda. Umumnya orang langsung kagum dan gembira mendengar kabar dari para gembala itu.  Namun Maria ibu Yesus menyimpan dan merenungkan semua itu di dalam hatinya. Gembira tulus di satu sisi itu baik dan wajar, sementara merenungkan semua arti Injil kabar baik itu juga perlu.

Para gembala sebenarnya tidak menyangka akan menyaksikan malaekat di padang efrata. Dunia rohani jauh dari hidup mereka sehari-hari. Kerasnya kehidupan mereka menegaskan bahwa mereka tidak mungkin mengalami kegembiraan yang lebih dari rata-rata manusia lain, apalagi yang kaya dan terhormat. Tapi, sekali lagi Allah membuat yang tidak mungkin gembira dan bahagia itu mengalami damai sejahtera surgawi yang selama beribu tahun hanya ada  dalam khayalan manusia.

 

Penutup  

Ada tradisi Kristen yang menetapkan bahwa Tahun Baru adalah peringatan sunat Yesus. Bila Yesus lahir tanggal 25 Desember maka sunat Yesus jatuh pada tanggal 1 Januari atau hari kedelapan setelah kelahiranNya (ayat 21). Arti semua ini tidak lain menekankan bahwa Allah berkenan hadir di dunia (memperkenalkan diriNya) menjadi sesama manusia, sehingga semua orang bisa mengenal Allah sejelas-jelasnya (tanpa kendala). Di dalam Yesus, Allah dan manusia bertemu tanpa perantara. Pertemuan Allah dengan manusia bisa terjadi ketika Allah menjadi manusia dan bukan manusia menjadi Allah. Yesus adalah Juruselamat manusia sekaligus teladan dalam ketaatanNya kepada hukum yang ada. Amin. [DLS]

 

Nyanyian: KJ 131


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Para pangen punika golonganing tiyang ingkang sekeng lan mboten kajen. Inggih awit kasekenganipun para pangen lajeng pados pangupa jiwa kanthi rekaos, kanthi kaprigelanipun ingkang sanget winates. Minangka tiyang mlarat, tiyang-tiyang punika namung saged nyambut damel dados jurupangen menda. Awratipun dados pendamelan ndadosaken jurupangen kirang sanget nggatosaken prekawis karohanen. Kangge tiyang kathah, jurupangen punika tiyang ingkang tebih saking angger-anggering Toret.

Injil Lukas paring gambaran bilih katresnanipun Allah punika kangge sedaya golonganing manungsa. Pawartos punika kapratelakaken kanthi cariyos para malaekat ingkang ngrawuhi para pangen ing Efrata. Menawi tiyang ingkang mboten penting kemawon kagatosken dening Allah, nalaripun mesthi tiyang sanes ugi dipun gatosaken dening Allah. Kejawi punika, cariyos ing Efrata mbikak pangertosan kita sedaya bilih Gusti remen nresnani manungsa ingkang kesrakat lan sangsara gesangipun. Pawartos penting saking swarga mboten langkung rumiyin kaparingaken dhumateng para pejabat lan tiyang penting sanesipun, nanging malah katujokaken dhateng para pangen –tiyang miskin.

 

Isi

Pakaryanipun Roh Suci ketingal saking bingahipun para pangen anggenipun nyriyosaken pengalaman dipun rawuhi malaekatipun Gusti. Tiyang ingkang bingah punika tansah kepingin nyariyosaken kabingahanipun dhateng tiyang sanes. Tiyang ingkang bingah punika mboten remen menawi tiyang sanes mboten sumerep bab kabigahanipun ingkang ageng kalawau. Roh Suci makarya ing pundi-pundi panggenan, nanging mboten sedaya tiyang lajeng bingah awit pakaryan punika. Bingah pancen mboten mijil saking sajawinipun tiyang, nanging saking manahipun manungsa piyambak-piyambak. Para pangen bingah awit piyambakipun pitados dhumateng pawartos saking malaekat. Kabingahanipun mijil saking pitadosipun.

Ing kandang Betlehem para pangen kanthi bingahing manahipun nyariyosaken pawartos rahayu saking para malaekat. Pawartos penting punika dipun wartosaken dening para pangen. Sacara nalar punika aneh. Kados pundi pawartos penting dipun wartosaken dening tiyang ingkang mboten penting. Aneh menawi pawartos penting dipun wartosaken dening tiyang mlarat, tiyang ingkang mboten kajen ing satengahing masyarakat. Nanging pancen makaten rancanganipun Allah, punapa ingkang mokal saged kemawon dipun tindakaken dening panjenenganipun. Tiyang ingkang kesrakat dipun mulyakaken dening Allah. Inggih awit pakaryan ingkang makaten lajeng kita nyumerepi bilih katresnanipun Allah punika pancen sampurna lan kelangkung ageng miturut ukuranipun manungsa.

Limrahipun tiyang badhe ndherek bingah menawi nampi pawartos rahayu kados Injilipun Gusti. Nanging Maryam namung nggatosaken lan nyimpen sedaya pawartos rahayu (injil) kalawau ing manahipun. Bingah punika penting kangge gesang kita, nanging nyimpen injil ing manah kita punika ugi penting sanget.

Injil punika mbingahaken manungsa. Kabingahan punika badhe langkung ageng menawi mboten kanyana-nyana. Inggih makaten ingkang kedadosan dhumateng para pangen. Bingah ingkang umum punika dipun alami dening tiyang sugih, tiyang ingkang mboten kekirangan satunggal punapa. Nanging kedadosan ing Efrata punika ngeramaken. Kabingahanipun para pangen ngungkuli bingahipun sedaya tiyang ing salumahing bumi. Dipun wartosi malaekat bab kawilujengan peparingipun Allah punika ndadosaken para pangen kados lair malih, mboten mlarat, mboten kesrakat lan mboten nggadhahi raos ajrih bab gesangipun.

 

Panutup

Kala rumiyin wonten sawatawis tiyang Kristen ingkang pitados bilih pahargyan Warsa Enggal punika kelaksanan kangge mengeti tetakipun (sunatipun) Yesus.  Menawi Yesus miyos tanggal 25 Desember, mesthinipun panjenenganipun tetak tanggal 1 Januari (wolung dinten sasampunipun miyos). Nanging ingkang langkung utami ing ngriki, rawuhipun Yesus sang juruwilujeng punika mratelakaken bilih Gusti Allah manjalma dados manungsa supados manungsa nyumerepi Panjenenganipun langkung cetha, mboten lantaran para nabi utawi manungsa sanesipun. Yesus Kristus punika Juruwilujengipun manungsa lan tuladha kangge kita sedaya bab ngugemi angger-anggeripun Gusti. Amin. [DLS]

 

Pamuji: KPK  243

Kata Kunci Artikel Ini: