Khotbah Minggu 22 Januari 2017

BULAN PENCIPTAAN
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : Yesaya 6 : 2 – 7.
Bacaan 2         : Roma 5 : 6 – 11.
Bacaan 3         : Matius 4 : 12 – 23.

Tema Liturgis : Keselamatan Untuk Seluruh Ciptaan.
Tema Khotbah : Ikut Serta Dalam Karya Keselamatan Allah.

 

Keterangan Bacaan

Yesaya 6 : 2 – 7.

Pemanggilan kepada nabi Yesaya untuk menjadi nabi didahului dengan peristiwa pengudusan dirinya oleh para utusan Allah (Serafim). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya masalah kekudusan hidup dalam menjalankan tugas dari  Allah. Kekudusan itu meliputi kehidupan moral dan perilakunya, serta bagaimana manusia hidup benar di hadapan Allah. Yesaya terlebih dahulu menerima pengudusan sebelum menjalankan tugas kenabiannya. Hal ini dikarenakan Yesaya hidup ditengah bangsa Israel yang saat itu memang sudah tidak mampu menjaga kekudusan hidupnya sebagai umat Allah. Kehidupan moral dan sosial bangsa Israel yang buruk, dan kebergantungan mereka pada bangsa-bangsa lain dan illah-illah lain telah cukup menjadi bukti. Itulah sebabnya Yesaya merasa tidak layak menerima kehadiran Allah yang Maha Kudus melalui para Serafim, mengingat dirinya bukan orang yang kudus dan bukan bangsa yang kudus.

Ketika Serafim menyentuhkan bara ke bibir Yesaya, saat itulah dia yakin bahwa telah mendapat pengampunan dosa dan telah dikuduskan oleh Allah. Berbekal keyakinan itulah maka Yesaya akan memulai tugas pelayanannya sebagai seorang nabi. Dan jelas terlihat bahwa proses mengudusan, pengampunan dosa ini sepenuhnya adalah prakarsa dan karya Allah. Bukan Yesaya yang minta dikuduskan, tetapi Allah melakukan karyaNya melalui para Serafim untuk menguduskan Yesaya. Meskipun awalnya merasa tidak layak untuk berjumpa dengan Allah dan melakukan pekerjaanNya, tetapi dengan pengudusan yang diterimanya menjadikan Yesaya mantap untuk melaksanakan tugas kenabian yang dipercayakan kepadanya (lih.ayat 8).

 

Roma 5 : 6 – 11.

Manusia tidak mampu menolong dirinya sendiri untuk mendapatkan keselamatan. Kita ditemukan dan diselamatkan oleh Allah, dan itu bukan usaha manusia. Allah, didalam Yesus Kristus yang rela mati untuk manusia, itu bukan karena manusia layak untuk diselamatkan. Tetapi karena cinta kasih Allah yang tidak rela melihat manusia bergelimang dosa dan akhirnya binasa. Ketika manusia masih bergelimang dosa saja Tuhan Yesus telah berkorban sampai mati untuk manusia, apalagi ketika kita sudah menjadi manusia yang sudah dibenarkan oleh Allah. Semua itu hanya karena cinta kasihNya kepada manusia. Manusia sesungguhnya tidak layak mendapatkan kasih Allah.

Apa yang terjadi itulah yang menjadikan manusia diperdamaikan dengan Allah. Allah itu maha kudus. Dia tidak bisa disatukan dengan hal-hal yang berdosa, termasuk manusia. Itulah sebabnya, manusia dikuduskan oleh darah Kristus, supaya bisa berdamai dengan Allah dan bersatu dengan Dia. Tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh supaya bisa berdamai dengan Allah, selain menerima pengudusan dari Allah sendiri, yaitu melalui iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah mencurahkan darahNya sebagai korban tebusan dan pendamaian bagi kita.

 

Matius 4 : 12 – 23.

Yesus Kristus meninggalkan daerah “kelahiranNya” yaitu Nazaret, untuk berpindah ke Kapernaum yang jauhnya kira-kira 20 mil (+  30 km). Kapernaum menjadi “tempatNya” selama menjalankan pelayananNya. Yesus meninggalkan Nazaret bisa karena :

  1. Menggenapi apa yang tertulis dalam Yesaya 8:23 – 9:1).
  2. Supaya bisa menjauh dari orang-orang yang menentangNya di Nazaret.
  3. Supaya bisa melayani lebih banyak orang lagi dan lebih cepat, mengingat Kapernaum adalah kota yang cukup sibuk pada saat itu.
  4. Untuk mendapatkan hasil yang lebih besar dan memberikan dorongan semangat kepada para muridNya yang memang berada di sana.

Di Kapernaum Tuhan Yesus Kristus memulai pelayananNya dengan memberitakan bahwa kerajaan Allah sudah dekat, oleh sebab itu manusia harus bertobat. Dia juga memanggil murid-muridNya dengan seruan : “Ikutlah Aku !”. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi pengikut Kristus itu harus mau mengubah haluan hidupnya dari melakukan hal-hal untuk kepentingan sendiri untuk diubah menjadi mengikuti kehendak Kristus. Seperti halnya pada pemanggilan kepada Petrus, Andreas, juga Yakobus, Yohanes. Mereka semua dipanggil untuk menjadi murid bukan dalam keadaan tidak beraktifitas (menganggur), tetapi justru dalam keadaan sedang sibuk bekerja sebagai nelayan. Tuhan Yesus memberikan “pekerjaan” dalam pengertian yang baru, yang bukan lagi berorientasi pada kehendak sendiri, tetapi berorientasi pada kehendak Yesus. Mereka meninggalkan aktifitasnya untuk mengikut Yesus sebagai muridNya.

Tuhan Yesus memberikan “pekerjaan” sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan sebagai nelayan, tetapi diberi makna yang baru (penjala manusia). Ada tugas yang lebih berarti untuk mereka kerjakan. Mereka harus menolong sesamanya untuk berjumpa dengan Yesus, Sang Juruslamat. Bersama-sama dengan Yesus yang melakukan pekerjaan mengajar, berkhotbah dan menyembuhkan orang sakit dan lemah, para murid itu belajar banyak hal.

Memang hal yang tidak lazim pada saat itu jika seorang Guru (Yesus) mencari, dan mendatangi murid-muridnya. Yang lazim adalah para murid yang mendatangi guru untuk melamar menjadi muridnya. Di situlah sebenarnya unsur pemilihan itu sudah ada sejak awal. Sebab tidak semua orang didatangi dan dipanggil untuk menjadi muridNya. Oleh karena itu merupakan sebuah  kebahagiaan jika mereka dipilih dan dilibatkan dalam pelayananNya.

 

BENANG MERAH KETIGA BACAAN

Allah yang memanggil manusia baik secara pribadi maupun kolektif selalu diawali dengan peristiwa pendamaian manusia dengan Allah ataupun pengudusan. Semua manusia memang tidak layak di hadapan Tuhan, tetapi telah dijadikan layak. Semua itu terjadi karena prakarsa dan karya Tuhan sendiri dan bukan manusia yang mengusahakannya.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia.

IKUTLAH  AKU !
(Nats : Matius 4 : 19)

 

Pendahuluan

Sebagian orang akan menyampaikan alasan penolakan jika diajak ambil bagian dalam tugas pelayanan untuk karya keselamatan Allah bagi manusia. Misalnya untuk manjadi penatua, diaken, ketua rayon/blok/kelompok/KRW (Kelompok Rukun Warga), atau menjadi ketua komisi dan berbagai kepanitiaan. Pada umumnya mereka menyatakan belum siap, sibuk dengan pekerjaan, merasa tidak layak, tidak mampu, dll. Berbagai alasan itu tujuannya sama yaitu supaya tidak ikut serta dalam tugas-tugas pelayanan untuk karya keselamatan Allah bagi manusia. Menjadi murid Yesus memang tidak mudah. Mereka akan menghadapi berbagai tantangan, bekerja keras, bahkan harus mengalahkan ego-nya. Kesibukan biasanya menjadi alasan yang dominan.

 

Isi

Sejak semula Tuhan melibatkan manusia dalam karya keselamatan bagi manusia, mereka yang dipanggil untuk terlibat itu memang bukanlah orang-orang yang “nganggur” atau memiliki banyak waktu. Pada bacaan 1 diceritakan proses pemanggilan Yesaya. Yesaya adalah seorang penulis/ pujangga yang hidup di lingkungan istana di Yesusalem pada zaman raja Uzia. Saulus (kemudian disebut Paulus) juga menerima panggilan Tuhan ketika bekerja menjadi orang kepercayaan Imam Besar di Yerusalem, dia juga sedang “bekerja” keras untuk mengejar dan membinasakan orang-orang Kristen pada jamannya. Berikutnya, pemanggilan Tuhan Yesus kepada Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, juga dalam keadaan mereka sedang bekerja sebagai nelayan (sedang menebarkan jala di danau dan juga sedang membereskan jala dalam perahu). Artinya, panggilan untuk menjadi murid (ambil bagian dalam pekerjaan karya keselamatan Allah) itu datang dalam kondisi mereka sedang “sibuk”.

Tuhan tahu dan paham dengan kesibukan manusia. Tetapi justru dalam kesibukannya itulah mereka dipanggil untuk dilibatkan dalam karya keselamatan Allah. Ketika Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes dipanggil untuk menjadi murid Tuhan Yesus, perintahNya hanya satu, yaitu : “Ikutlah Aku!” Tanpa protes, tanpa bertanya, mereka langsung mengikut Tuhan Yesus dan menjadi muridNya. Tentunya hal ini bukan seperti dihipnotis yang menjadikan mereka tidak sadar akan apa yang mereka putuskan. Tentunya mereka sudah tahu siapa Yesus Kristus itu di lingkungan mereka. Oleh karena itu merupakan sebuah kehormatan bagi mereka karena terpilih untuk menjadi muridNya. Bagi mereka, tawaran untuk mengikut Yesus itu sebuah prioritas, karena Tuhan Yesus tidak setiap saat melewati daerah itu.  Itulah sebabnya mereka menerima panggilan itu dengan sukacita, tanpa paksaan untuk meninggalkan apa yang sedang mereka kerjakan. Bagi mereka saat itu, itulah kesempatan mereka untuk mengikut Yesus, menjadi muridNya dan juga ambil bagian dalam tugas pelayanan.

Tuhan Yesus meminta mereka untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai penjala ikan, namun telah disediakan pekerjaan yang baru yaitu sebagi penjala manusia (Mat. 4 : 19). Mereka meninggalkan pekerjaan mereka yang produktif dalam bidang perdagangan, dan beralih pada pekerjaan yang produktif dalam bidang spiritual/ kerohanian. Menjadi penjala manusia artinya menolong sesamanya untuk bisa berjumpa dengan Yesus Kristus Sang Juruslamat. Menjadi murid Yesus tidak selalu berarti 100% meninggalkan pekerjaan dan kesibukannya, tetapi bisa terjadi pekerjaan yang sedang dikerjakan itu diberi makna baru oleh Tuhan Yesus. Makna yang mengikut-sertakan mereka untuk memberikan pemahaman kepada sesama tentang karya keselamatan Allah.

Dengan meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan pada saat itu, apakah mereka sudah tidak membutuhkan “ikan” lagi? Pasti mereka butuh ikan untuk mencukupi kebutuhan jasmani mereka. Tetapi pada saat itu, hal tersebut bukanlah prioritas. Dan mereka sangat yakin bahwa penawaran dan kesempatan untuk menjadi murid  itu belum tentu datang dua kali. Pemanggilan menjadi murid itu tentunya tidak lepas dari unsur pemilihan. Sehingga, dipanggil menjadi murid saja sudah berarti dipilih oleh Tuhan Yesus. Memang tidaklah bisa dilepaskan unsur pemilihan dan panggilan ini.

Apakah mereka yang dipanggil untuk ambil bagian dalam pelayanan (sebagai murid) itu pasti orang yang baik dan kudus? Belum tentu!  Pada bacaan 1, Yesaya dipanggil untuk menjadi nabi justru dalam keadaan dia merasa sebagai orang yang sama sekali tidak kudus dan dari bangsa yang tidak kudus juga. Artinya, perasaan “tidak layak” itu juga ada. Tetapi kenyataannya Tuhan mengatasi apa yang menjadi kendala dalam melaksanakan tugas pelayanan itu. Sebelum melaksanakan tugas kenabiannya, terlebih dahulu Allah menguduskan Yesaya. Yesaya memang tidak kudus, tetapi dijadikan kudus oleh Allah. Dia juga bukan orang benar, tetapi dibenarkan oleh Allah. Pada bacaan 2 juga dijelaskan bahwa tidak ada manusia yang benar di hadapan Tuhan, tetapi karena cinta kasihNya, maka Allah membenarkan mereka sehingga bisa menikmati pendamaian dengan diriNya. Demikian juga halnya dengan  Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, bagaimana mungkin mereka akan ambil bagian dalam karya Tuhan Yesus yang sarat dengan pengajaran dan pelayanan, mengingat mereka itu tidak berlatar belakang pengajar. Mereka adalah para nelayan yang jauh dari pekerjaan mengajar, menyembuhkan orang sakit, dll. Bagi mereka hal itu tidaklah penting. Yang lebih penting adalah mengikut Dia, menjadi muridNya, itulah prioritas mereka saat itu. Hal-hal lain adalah nomor dua.

Keputusan untuk mengikut Yesus dan menjadi muridNya ternyata juga disertai dengan “kepasrahan” yang luar biasa. “Pasrah” dalam pengertian ada keyakinan bahwa Tuhan Yesus yang tahu segalanya pasti juga akan memperlengkapi mereka sebagai murid. Apapun kebutuhan mereka sebagai murid tentulah tidak akan luput dari pengamatanNya. Termasuk kebutuhan mereka akan “ikan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani. Inilah tantangan bagi seorang murid. Bukan saja prioritas, tetapi juga loyalitas serta kepercayaan pada Sang Guru amatlah diperlukan. Dengan demikian maka perintah: Ikutlah Aku! ternyata tidak sesederhana sebuah ajakan, melainkan membawa konsekwensi tertentu. Tetapi, sebagaimana para murid Yesus dan juga Yesaya, berbahagialah mereka yang menjawab panggilan/ ajakan itu dengan positif dan sukacita.

 

Penutup

Di jaman sekarang tampaknya kesibukan menjadi alasan pertama bagi orang-orang yang menolak panggilan Tuhan untuk berkarya dalam pelayanan. Seolah-olah kesibukan itu menjadi prioritas. Mereka lupa bahwa Tuhan pasti juga akan memperlengkapi setiap orang yang telah dipilihNya, sebagai apapun dia. Kelengkapan itu tentunya yang menjawab kebutuhannya dalam ambil bagian pada tugas-tugas pelayanan dan karya keselamatan Allah. Ketika Allah telah memilih kita untuk ambil bagian dalam karya keselamatan Allah, sesungguhnya kita telah dipilihNya. Artinya, kita pasti dimampukan untuk bisa menjalaninya. Jadi, untuk apa kita khawatir tidak mampu? Seperti para nelayan yang diberi makna baru menjadi penjala manusia tentunya juga merasa tidak mampu jika harus mengajar, dll. Tetapi  kenyataannya mereka juga dimampukan, bahkan mereka akhirnya juga menjadi rasul-rasul yang hebat dalam mewartakan berita Injil.

Jadi, tidak perlu khawatir. Terima saja panggilan itu. Itulah prioritas saat ini, sebab belum tentu kita mendapat penawaran untuk kedua kalinya. Amin.  (YM)

 

Nyanyian  : Kidung Jemaat 431  (dinyanyikan 2 kali).

 

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi.

MELUA AKU !
(Jejer : Matius 4 : 19)

Pambuka

Sawetawis tiyang badhe paring alasan kangge nampik menawi kedah tumut andum damel wonten ing pakaryanipun Gusti kangge milujengaken manungsa. Upaminipun kangge dados pinisepuh, diaken, ketua rayon / blok / kelompok / KRW (Kelompok Rukun Warga), utawi dados  ketua komisi lan panitia punapa kemawon. Adatipun tiyang-tiyang kalawau rumaos dereng siap, repot nyambut damel, rumaos boten pantes, boten saged ngayahi, lsp. Alasan ingkang mawarni-warni punika tujuanipun sami inggih punika supados boten tumut ing peladosan lan pakaryanipun Allah. Dados murid/ pendherekipun Gusti Yesus pancen boten gampil. Manungsa ingkang dados pendherekipun badhe ngadhepi mawarni-warni tantangan, nyambut damel kanthi sengkut, mekaten ugi kedah ngawonaken “ego” ingkang dipun gadhahi. “Repot” adatipun dados alasan ingkang utami.

 

Isi

Wiwit rumiyin, Gusti paring kapitadosan dhateng manungsa kangge ndherek ing pakaryanipun kangge milujengaken jagad. Sinten kemawon ingkang katimbalan kangge ndherek lelados, pancen sanes tiyang ingkang “ganggur” utawi gadhah wekdal ingkang kathah. Ing waosan 1 kacariyosaken proses timbalan dhateng Yesaya. Yesaya punika satunggaling pujangga ingkang gesang ing lingkungan kraton ing Yerusalem nalika jamanipun raja Uzia. Saulus (wusananipun kasebut Paulus) ugi nampi timbalanipun Gusti nalika nyambut damel dados pangageng ingkang pinitados dening Imam Agung ing Yerusalem, piyambakipun ugi saweg sengkut “nyambut damel” kangge nyirnakaken para tiyang kristen ing jaman semanten. Mekaten ugi bab timbalanipun Gusti Yesus dhateng Petrus, Andreas, Yakobus lan Yohanes, ugi wonten ing satengahing nyambut damel selaku tukang njala ulam/ nelayan (saweg nebar jala lan ugi nyulami jala ing prau). Tegesipun, timbalan kangge dados sakabatipun Gusti (ndherek lelados ing pakaryan kawilujenganipun Gusti Allah) punika wonten ing salebeting kawontenan ingkang repot (sibuk).

Gusti pirsa bot-repotipun manungsa. Ananging inggih ing salebeting karepotan punika tiyang-tiyang kalawau nampi timbalan lelados ing pakaryanipun Gusti. Nalika Petrus, Andreas, Yakobus lan Yohanes katimbalan kangge dados sakabatipun Gusti Yesus, prentahipun namung setunggal: “Padha melua Aku!”  Tanpa protes, tanpa pitaken, tiyang-tiyang kalawau inggih lajeng ndherek Gusti dados sakabatipun. Tamtunipun prekawis punika sanes kados hipnotis ingkang ndadosaken tiyang-tiyang kalawau boten enget lan boten mangertos keputusanipun. Tamtunipun tiyang-tiyang kalawau sampun mengertos ing bab sinten Yesus Kristus punika ing tlatah ngriku. Pramila, satunggaling kaurmatan kangge tiyang-tiyang punika awit sampun kapilih dados sakabatipun Gusti. Tumrap tiyang-tiyang kalawau, dipun dangu supados ndherek Gusti punika dados prekawis ingkang wigati (prioritas), awit Gusti Yesus boten saben wekdal langkung ing tlatah ngriku. Pramila, tiyang-tiyang kalawau nampi timbalan punika kanthi bingah, boten rumaos kepeksa kangge nilar pedamelanipun. Tumrap tiyang-tiyang kalawau,  satunggaling wewengan (kesempatan) kangge ndherek Gusti Yesus, dados sakabatipun lan ugi ndherek lelados ing pakaryanipun Gusti.

Gusti Yesus ngersakaken supados tiyang-tiyang kalawau nilar pedamelanipun dados tukang njala ulam, nanging sampun kacawisaken pedamelan ingkang enggal, inggih punika dados tukang njala wong (Mat. 4:19). Tiyang-tiyang punika nilar pedamelanipun ingkang ngasilaken ing bab dagang, lan kagantos pedamelan ingkang ngasilaken ing bab olah karohanen. Dados tukang njala wong tegesipun paring pitulungan dhateng sesaminipun supados saged pinanggih kaliyan Gusti Yesus Kristus Sang Juru wilujeng. Dados sakabatipun Gusti boten ateges kedah nilar sedaya pedamelan lan kerepotanipun, ananging saged ugi punapa ingkang saweg katindakaken punika nggadhahi pangaji ingkang enggal dening Gusti Yesus. Pangertosan ingkang ndadosaken para tiyang kalawau ugi paring pemahaman dhateng sesaminipun ing bab pakaryan lan kawilujengan peparingipun Allah.

Kanthi nilar pedamelan dados tukang njala iwak ing kala semanten, punapa tegesipun tiyang-tiyang kalawau sampun boten mbetahaken “ulam” malih? Tamtu tiyang-tiyang punika inggih mbetahaken ulam kangge nyekapi kabetahan jasmaninipun. Ananging, rikala semanten prekawis punika sanes prekawis ingkang utami (prioritas). Tiyang-tiyang punika saestu pitados bilih pandangunipun Gusti lan ugi wewengan kangge dados sekabatipun Gusti dereng tamtu wonten wekdal ingkang kaping kalih (kesempatan kedua). Timbalan kangge dados sekabatipun Gusti punika tamtunipun boten uwal saking bab pemilihan. Pramila, katimbalan dados sakabat ugi ateges sampun kapilih dening Gusti Yesus. Pancen boten saged kauwalaken ing bab pemilihan lan timbalan dados sakabatipun Gusti .

Punapa sedaya tiyang ingkang katimbalan kangge lelados lan dados para sakabatipun Gusti punika tamtu tiyang ingkang sae lan suci? Dereng tamtu! Ing Waosan 1, Yesaya katimbalan dados nabi inggih ing kawontenan rumaos dados tiyang ingkang boten suci lan ugi saking bangsa ingkang boten suci. Tegesipun, rumaos “boten pantes”. Ananging nyatanipun Gusti ugi ngatasi punapa ingkang dados pepalang anggenipun badhe nindakaken peladosan punika. Saderengipun nindakaken peladosan kenabian, langkung rumiyin Gusti nyucekaken Yesaya. Yesaya pancen boten suci, ananging kadadosaken suci dening Gusti. Piyambakipun ugi sanes tiyang ingkang leres, ananging kadadosaken leres dening Gusti.  Ing waosan 2 ugi kacariyosaken bilih estunipun boten wonten manungsa ingkang leres ing ngarsanipun Gusti, nanging awit saking katresnanipun pramila Allah ndadosaken manungsa leres supados saged ngraosaken nyatunggil kaliyan Panjenenganipun. Mekaten ugi Petrus, Andreas, Yakobus lan Yohanes, kados pundi anggenipun badhe ndherek lelados ing bab memucal, awit sedayanipun boten gadhah pengalaman mucal. Tiyang-tiyang kalawau tukang njala iwak ingkang boten wonten sesambetanipun kaliyan bab mucal, nyarasaken tiyang sakit, lsp. Tumrap tiyang-tiyang kalawau, prekawis punika boten wigati/ penting. Dene ingkang langkung wigati inggih punika ndherek Gusti, dados sakabatipun, punika ingkang langkung utami nalika semanten. Dene prekawis sanesipun saged dados prekawis ingkang nomer kalih.

Keputusan kangge ndherek Gusti lan dados sakabatipun nyatanipun ugi kedah dipun kantheni raos pasrah ingkang saestu. Pasrah ing salebeting pangertosan wontenipun pangandel bilih Gusti Yesus pirsa samudaya prekawis tamtu badhe paring kesagedan dhateng sedaya pendherekipun. Kalebet ing bab kabetahanipun tumrap “ulam” utawi punapa kemawon ingkang wonten sesambetanipun kaliyan kabetahan jasmani. Punika tantangan tumrap para sakabat. Boten namung “prioritas” nanging ugi “loyalitas” (kasetyan) sarta kapitadosan dhumateng Sang Guru saestu kabetahaken. Kanthi mekaten pramila prentah: “Pada Melua Aku!” nyatanipun boten namung satunggaling pangajak, ananging ugi wonten konsekwensinipun (pitumbasipun). Ananging, kados dene para sakabatipun Gusti Yesus lan ugi Yesaya, rahajeng tumrap sinten kemawon ingkang paring wangsulan dhateng timbalanipun Gusti kanthi cumadhang lan bingah.

 

Panutup

Ing jaman samangke rupinipun bab karepotan (kesibukan) dados alasan ingkang utami tumrap para tiyang ingkang nampik timbalanipun Gusti kangge ndherek lelados. Kados-kados kerepotan punika dados prioritas. Tiyang-tiyang kalawau sami kesupen bilih Gusti tamtu paring kesagedan dhateng saben tiyang ingkang sampun kapilih. Kesagedan punika tamtunipun ingkang badhe paring wangsulan dhateng punapa ingkang dados kabetahan anggenipun ndherek lelados ing pakaryanipun Allah. Nalika Allah ngersakaken supados kita ndherek lelados ing pakaryanIpun, estunipun kita sampun kapilih. Tegesipun, kita tamtu kasagedaken kangge nglampahi. Kenging punapa lajeng kita was sumelang menawi badhe boten saged nglampahi? Kados dene para tukang njala iwak ingkang kaparingan pangertosan enggal kangge dados tukang njala wong tamtunipun ugi rumaos boten saged menawi kedah mucal, lsp. Ananging nyatanipun tiyang-tiyang kalawau kasagedaken, kepara wusananipun dados para rasul ingkang ngedab-edabi anggenipun martosaken Injil. Pramila, boten sisah was sumelang. Mugi katampi kemawon timbalan punika. Inggih punika prioritas kita samangke, awit dereng tamtu kita nampi timbalan ingkang kaping kalihipun. Amin. (YM)

 

Pamuji:  Kidung Pasamuwan Kristen 92 : 1, 2.

Kata Kunci Artikel Ini: