Program Pembangunan Jangka Panjang (2017-2034)

Kata Pengantar PHMA

GKJW menyadari dirinya sebagai rekan kerja Tuhan dalam mewujudukan tanda-tanda hadirnya Kerajaan Allah bagi dunia. Kesadaran demikian merupakan semata-mata berkat yang luar biasa dari Tuhan Allah bagi gerejanya yang patut senantiasa disyukuri.

Sebagai sebuah organisasi, namun lebih daripada itu organisme, yang hidup bagi karya Tuhan itu, GKJW telah merencanakan strategi programatisnya melalui PRKP (Pokok-pokok Rencana Kegiatan Pembangunan) sejak tahun 1987 sampai dengan 2016 agar GKJW memiliki gerak padu dalam mewujudkan panggilan Tuhan Allah kepadanya. Kegiatan itu telah terbukti memampukan GKJW semakin mantap dalam menata kehidupan bergerejanya. Hal tersebut tampak dalam capaian-capaian di kelima bidang pelayanannya.

Namun demikian bukan berarti bahwa perjalanan GKJW bukan tanpa tantangan. Bersama dengan kesadaran yang terbangun terus-menerus tersebut, ada kebutuhan-kebutuhan yang bergerak dinamis dalam kehidupan bergereja, baik di lingkup MA, MD, maupun MJ, guna melanjutkan maupun mengembangkan apa yang telah dilaksanakan oleh GKJW dalam era PRKP. Hal tersebut menunjukkan bahwa panggilan Tuhan Allah kepada GKJW diejawantahkan dalam karya GKJW dengan terus menjejak pada kebutuhan dan konteks keberadaannya di bumi Jawa Timur yang penuh dinamika.

Namun, yang paling dirasakan adalah bahwa di tengah segala karya GKJW tersebut, kehadiran Tuhan yang terus menyertai dan memberkati senantiasa ada. Hal itu menyemangati langkah GKJW untuk terus berkarya dan menghidupi panggilan-Nya.

Untuk itu GKJW memutuskan untuk melanjutkan PRKP dalam sebuah program jangka panjang berikutnya, yang disebut sebagai PPJP (Program Pembangunan Jangka Panjang), yang akan dilaksanakan tahun 2017-2034. Fokus dalam PPJP GKJW tetap berakar dari semangat awal GKJW untuk terus mandiri dan menjadi berkat. PPJP yang tersaji dalam buku ini merupakan hasil pergumulan dari pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh GKJW selama era PRKP. Selain itu juga proyeksi kebutuhan GKJW berpijak dari panggilan dan konteks kehidupannya di Jawa Timur, Indonesia, dan dunia dalam era 18 tahun tersebut.

Harapannya, PPJP ini bisa menjadi pedoman bagi seluruh aspek GKJW di berbagai bidang dan lingkup pelayanannya. Sehingga bisa diwujudkan program operasionalnya dalam PPJM dan PKT, baik di lingkup MA, Daerah, maupun Jemaat.

Selamat menghidupi panggilan GKJW dalam PPJP GKJW, sehingga semangat “Mandiri dan Menjadi Berkat” senantiasa menjadi pedoman langkah gerak kita bersama dalam mewujudkan karya Allah. Kiranya Tuhan Allah memberkati kita bersama dalam mewujudkan semangat tersebut.

 

Desember 2015

Ketua Pelayan Harian Majelis Agung

Pdt. Tjondro Firmanto Gardjito, S. Th

 

1.1. LATAR BELAKANG

Gereja Tuhan, termasuk Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) tumbuh dan membangun diri seperti yang tertulis dalam Efesus 4:16, “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiaptiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun diri dalam kasih” (TB LAI). Untuk dapat menerima pertumbuhan dan membangun diri dalam kasih secara lebih baik, GKJW telah memiliki Pokok-pokok Rencana Kegiatan Pembangunan (PRKP) yang ditetapkan dalam Sidang Gabungan “Palados Padintenan Majelis Agung (PPMA)” dan Majelis Daerah selingkup GKJW pada tanggal 29-30 Nopember 1985, berdasarkan mandat dari Sidang ke- 71/1985 Majelis Agung GKJW tanggal 28-30 September 1985 di Malang, yang diberlakukan mulai tahun 1987 sampai dengan tahun 2016, atau selama 30 tahun. Waktu 30 tahun ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan masa satu generasi. Di dalamnya terkandung harapan bahwa setelah PRKP selesai, maka generasi yang hidup bersamanya sudah memiliki arah yang jelas dalam tumbuh dan membangun diri dalam kasih.

Dalam pelaksanaannya, PRKP dituangkan dan dijabarkan dalam Program-program Kegiatan Pembangunan (PKP) yang dilaksanakan dalam jangka waktu 6 (enam) tahunan untuk menimbang perkembangan dan masukan dari jemaat-jemaat. Berdasarkan PKP tersebut Majelis Jemaat, Majelis Daerah, dan Majelis Agung GKJW masing-masing menyusun dan melaksanakan Program Kegiatan Tahunan-nya (disingkat PKT). Meskipun demikian, GKJW tetap terbuka terhadap terobosan-terobosan yang muncul dari inisiatif yang selama ini tidak pernah ada dalam perencanaan strategis, lebih-lebih di era modern dengan perubahan/perkembangan yang begitu cepat.

Keterbukaan ini penting, sebab dalam kehidupan bergereja, peran dan karya Roh Kudus tidak dapat dibatasi oleh strategi dan program gereja, dalam segala bentuk idealismenya.

Sehubungan dengan berakhirnya pelaksanaan PRKP pada tahun 2016, Sidang ke-106/2012 Majelis Agung GKJW yang diselenggarakan pada tanggal 28 Juni – 3 Juli 2012 di Jemaat Tulungrejo, Majelis Daerah Besuki Timur, memutuskan agar PHMA membentuk “TIM” guna menyusun Program Pembangunan Jangka Panjang GKJW (artikel 76 Akta Sidang ke-106/2012).

Program Pembangunan Jangka Panjang GKJW (PPJP) tersebut merupakan kelanjutan dari PRKP, dengan jangka waktu pelaksanaan mulai tahun 2017 sampai dengan tahun 2034, atau dalam kurun waktu selama 18 tahun. Sebagaimana PRKP, PPJP adalah garis-garis besar kegiatan pelayanan GKJW untuk mencapai pertumbuhan dan pembangunan diri, guna mewujudkan visi dan misi GKJW di tengah- tengah dunia, khususnya di Jawa Timur.

Dirancang dan diselenggarakannya PPJP dengan rentang waktu yang relatif lebih singkat daripada PRKP tersebut, di samping berdasarkan evaluasi pelaksanaan PRKP, setidaknya didasari 2 (dua) pertimbangan khusus, yaitu:

  1. Dinamika kehidupan yang semakin cepat oleh sebab globalisasi, mendorong percepatan perubahan situasi dan kondisi, yang juga dialami oleh segenap Warga GKJW. Dengan demikian, apabila waktu pemberlakuan PPJP dibuat lebih panjang dibandingkan dengan pelaksanaan PRKP, maka program yang dicanangkan melalui PPJP tersebut akan kehilangan relevansiny
  2. Seperti halnya PRKP, PPJP juga akan dijabarkan ke dalam Program Pembangunan Jangka Menengah (PPJM), dengan waktu pelaksanaan 6 (enam) Waktu 6 (enam) tahun ini dipilih, oleh sebab disesuaikan dengan lamanya masa pelayanan (dhauran) Sekretaris Umum (SEKUM) Majelis Agung, yang salah satu tugasnya adalah mengawal jalannya program-program di GKJW.

 

1.2. DASAR PENYUSUNAN DAN PENYELENGGARAAN

Dalam rangka menyusun dan menyelenggarakan PPJP ini, diperlukan dasar/landasan yang tepat guna mencapai maksud serta tujuan visi dan misi Gereja, sesuai dengan amanat panggilanNya, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip dalam menyikapi dinamika kehidupan bermasyarakat. Ada pun dasar atau landasan yang dimaksud, yaitu landasan teologis dan landasan strategis.

1.2.1 Landasan Teologis

Landasan teologis PPJP GKJW adalah “Bergereja dan Bermasyarakat dalam Era Transisi”, yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Ungkapan bergereja dan bermasyarakat selama ini sering dimaknai sebagai dua hal yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah. Bergereja kerap dimaknai sebagai upaya mewujudkan panggilan Tuhan Allah di dalam dan melalui dirinya sendiri, bersifat internal. Sedangkan bermasyarakat adalah upaya gereja untuk menyapa dunia di luar gereja, bersifat eksternal. Dua hal yang yang berdiri sendiri dan terpisah ini memang bisa saling menopang, namun tetap dua hal yang berbeda. Keterpisahan ini menimbulkan pertanyaan manakah yang harus didahulukan, bergereja atau bermasyarakat. Mendahulukan salah satu akan memunculkan kesan bahwa salah satu lebih superior dan yang lain lebih inferior, sehingga bersifat dikotomis.

Kenyataannya, dalam mewujudkan panggilan Tuhan Allah “keluar dari kegelapan masuk ke dalam terang-Nya untuk memberitakan karya keselamatan-Nya” (Tata Gereja Bab 2 Pasal 4; 1 Petrus 2: 9-10), GKJW tidak pernah berdiri sendiri. Manusia tinggal di dunia yang satu, yang didiami bersama-sama dengan sesama manusia dan segala makhluk ciptaan (Memori Penjelasan Tata Gereja tentang Ekumene pasal 1 alinea 5). Permasalahan pokok yang dihadapi oleh masyarakat global belakangan ini; seperti masalah-masalah kependudukan, ekologi, globalisasi, sosial ekonomi dan budaya; adalah masalah bersama yang perlu diselesaikan bersama. Karena itu, kata ‘dan’ dalam ‘bergereja dan bermasyarakat’ bukan menunjukkan keterpisahan, tetapi menunjukkan kesatuan.

Historisitas GKJW menunjukkan hal tersebut. Ketika para cikal bakal GKJW mencanangkan ‘kamardikan’, mereka bersemangat mendirikan desa atau kawasan khusus Kristen. Di tengah alam penjajahan, para cikal bakal GKJW telah memulai memberlakukan dan mencanangkan semangat mengatur diri sendiri sebagai gambar Allah yang bermartabat. Di dalam kawasan atau daerah khusus tersebut, identitas kekristenan dikembangkan. Seiring dengan bertumbuhnya kawasan atau daerah tersebut, berdatangan pula sesama pencari identitas ‘mardika’, yakni mardika terhadap kemiskinan. Ketika identitas Kristen tersebut menjadi semakin mantap, orang lain bergabung mewujudkan ‘kamardikan’ bagi semua. Kedua hal tersebut lantas berjalan secara simultan. Kemandirian dalam tubuh GKJW senantiasa berjalan seiring dengan karyanya menjadi berkat bagi seluruh ciptaan.

Sehingga tampak, dalam kesatuan ini, GKJW perlu menghayati posisinya sebagai ‘pemrakarsa’ yang dipilih Tuhan dalam upaya mewujudkan panggilan Tuhan Allah kepadanya. GKJW perlu menyadari panggilan ini sebagaimana Abraham menyadari panggilannya untuk mewujudkan kehendak Allah, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga supaya semua bangsa mendapat berkat olehnya (Kejadian 22: 18).

Upaya mewujudkan panggilan Tuhan Allah ini menempatkan GKJW dan dunia senantiasa dalam masa antara, sebuah proses menjadi dan menuju, sebuah era transisi. Transisi demikian senantiasa muncul dalam sepanjang sejarah umat Tuhan. Dalam konteks Perjanjian Lama, hal ini terjadi baik ketika umat Israel keluar dari Mesir maupun dari pembuangan Babel menuju tanah air perjanjian mereka. Hal ini juga nampak dalam harapan mesianis bangsa Israel supaya seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan (Yesaya 11:9). Dalam konteks Perjanjian Baru, transisi ini muncul dalam setiap karya Yesus Kristus mewujudkan kehendak BapaNya, maupun dalam transisi Yerusalem fisik dan kedagingan semata, menuju Yerusalem yang rohani dan kekal, langit baru dan bumi baru (Wahyu 21-22). Transisi ini tidak sekadar dimaknai sebagai peralihan dari satu keadaan menjadi keadaan lain, tetapi lebih spesifik perpindahan ‘membaik’.

Situasi Alkitabiah tentang proses menjadi dan menuju (membaik) ini tergambar sebagai berikut:

Pertama, tujuannya adalah menjadi rekan kerja Tuhan dalam mewujudkan tandatanda hadirnya kerajaan Allah bagi dunia

Tata Gereja memaknai hal ini sebagai situasi di mana tidak ada lagi duka cita dan perkabungan (Tata Gereja 1986 Bagian Pendahuluan, Tata Gereja Revisi Memori Penjelasan Bab II, Pasal 5 (e)). Tujuan ini mengindikasikan bahwa di dalamnya tercipta kasih, keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera, yang bukan sekadar diperuntukkan bagi diri sendiri tetapi bagi dunia dan segala isinya, “supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Korintus 15:28). Hal ini berarti bahwa proses menjadi dan menuju ini adalah proses ilahiah yang berlangsung sepanjang sejarah seluruh umat manusia bagi seluruh ciptaan.

Kedua, peran umat pilihan Tuhan secara simbolik dihayati sebagai ebd YHWH (baca: Èbèd Yahwèh = Hamba Tuhan)

Terwujudnya tanda-tanda hadirnya Kerajaan Allah dihayati sebagai tanah air perjanjian (terang-Nya yang ajaib); sedangkan dosa, pembuangan (Mesir dan Babel), dan penderitaan dihayati sebagai kegelapan yang mengungkung kehidupan umat manusia. Dalam proses berjalan keluar dari kegelapan menuju tanah air perjanjian, umat Tuhan menghayati dirinya ‘dipilih’ sebagai ebd YHWH bagi dunia milik Tuhannya (Yesaya 42:1-4; 49:1-6; 50:4-9; dan 52:13- 53:12). Ebd YHWH adalah bagian dari umat Tuhan diaspora (terserak) yang memiliki kerinduan untuk bertemu sesama umat pilihan di Yerusalem (pemersatu). Walaupun tidak ada ikatan riil dan politis antara kedua umat pilihan ini, namun sebagai tanggung jawab keterpilihannya, ebd YHWH ini senantiasa menjaga identitasnya yang khas, yaitu sebagai sekutu atau rekan kerja Tuhannya. Identitas ini dibangun melalui kehadiran mereka sebagai hamba yang bertanggung jawab kepada Tuhan, sang tuannya, secara langsung. Terkait tanggung jawab terhadap Tuhan ini, prakarsa kemudian menjadi bagian yang penting.

Ketiga, kedisiplinan jasmani, moral, dan spiritualitas

Alkitab mencatatkan bahwa untuk mewujudkan panggilan dan mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan kedisiplinan baik secara jasmani, moral, maupun spiritual. Ketika mengadakan perjalanan keluar dari Mesir, kehidupan umat Tuhan diatur oleh sebuah hukum kekal, sepuluh perintah Tuhan (Keluaran 20, Ulangan 5). Kedisiplinan lain nampak ketika mereka mendapatkan kemudahan rejeki dalam bentuk roti manna, mereka tidak boleh mengambil lebih dari kebutuhan keluarga mereka. Bahkan perjalanan mereka selama 40 tahun di padang gurun itu pun merupakan sebuah upaya pendisiplinan bagi mereka. Perjalanan tersebut merupakan sebuah transisi pengalaman iman mereka secara mandiri, supaya mereka bisa menjadi pemrakarsa dan teladan kesalehan bagi proses transisi bersama dengan yang lain. Bukan pemrakarsa dan teladan superioritas, tetapi justru teladan dalam menjadi ebd YHWH.

Untuk itu, maka perjalanan mereka di padang gurun harus dimaknai sebagai perjalanan sementara, bukan tujuan. Perlengkapan yang mereka miliki selama perjalanan itu pun bersifat fleksibel dan sementara, hanya tenda yang digunakan baik sebagai tempat tinggal maupun Bait Allah. Dengan itu, mereka bisa dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain di dalam perjalanan yang sementara tersebut.

Keempat, kemurnian umat pilihan

Dalam hubungannya dengan dunia, jangan sampai kehidupan umat pilihan ini menjadi serupa dengan dunia. Jika sementara masih berada di tengah kegelapan, maka umat pilihan ini bertanggung jawab untuk membangun dan mengusahakan kesejahteraan kota di mana mereka berada (Yeremia 29: 7). Namun ini hanyalah kondisi sementara, bukan tujuan utama mereka. Dunia tidak menguasai mereka, tetapi Tuhanlah yang menjadi raja mereka (1 Samuel 8:7). Tuhan adalah raja yang berdaulat penuh dan berkuasa di seluruh bumi dari generasi ke generasi. Gereja hidup di dalam dunia tetapi bukan dari dunia (Yohanes 17:15), gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggi keluar dari dan sekaligus diutus ke dalam dunia (Yohanes 20: 21) sehingga pemerintahannya adalah pemerintahan Allah yang hidup di antara kerajaan dunia. Ada di tengah dunia tetapi murni sebagai milik Allah.

Kelima, patriotisme alternatif yang pro-kehidupan

Di tengah pembuangan, umat pilihan ini mungkin tidak diperhitungkan setara dengan warga mayoritas. Namun, umat pilihan harus tetap hidup bahkan dengan terpuji karena mereka dipanggil untuk pro-kehidupan. Mereka harus menempatkan diri sebagai pejuang kemanusiaan. Mereka ikut dalam karya melestarikan kehidupan dengan ikut berjuang demi kesejahteraan kota di mana mereka terbuang. Mereka harus tetap bekerja, tetapi bukan untuk menjadi workaholic, karena itu pada hari Sabat mereka harus berhenti bekerja. Mereka juga tetap dipanggil untuk meneruskan generasi, mencarikan jodoh bagi anak-anaknya, karena dengan itu mereka melestarikan kehidupan mereka dan menjaga keluarga mereka tetap utuh. Jangan sampai penderitaan dalam pembuangan menghabiskan mereka dan generasi mereka, mencerabut keberadaan mereka dari kehidupan. Dan jika ditemukan budaya yang pro-kematian di tempat pembuangan tersebut, seperti penyelewengan, korupsi, eksploitasi, maka mereka tidak melawan dengan kekerasan, tetapi harus ada imam yang menebusnya dengan tulus mendoakan dan memohonkan pengampunan dari Tuhan Allah.

Keenam, solidaritas

Sejak diberikannya sepuluh hukum taurat, maka semangat solidaritas pun ditegakkan. Solidaritas ini didasarkan pada wibawa Ilahi, bukan sekadar altruisme (perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri). Aturan-aturan semacam jangan membunuh, jangan berzinah, jangan bersaksi dusta bisa menjadi teladan aturan-aturan berbasis solidaritas. Solidaritas ini mengikat ke luar dan ke dalam tanpa batas, mengingat “dulu engkau juga adalah budak di tanah Mesir” (Ulangan 15:15).

Dalam era Paulus, solidaritas ini terus ditegakkan. Paulus memberikan perintah barangsiapa memiliki sesuatu dipanggil untuk bersolider dengan mereka yang kurang mampu. Jemaat Makedonia yang berkecukupan mendukung saudaranya di Yerusalem (2 Korintus 8). Hal ini dilakukan “bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.” (2 Korintus 8: 13).

Dengan demikian panggilan dan ikatan kekristenan tidak semata- mata panggilan dan ikatan spiritualitas tetapi juga ikatan sosial.

Ketujuh, Yesus Kristus sebagai pola

Kehidupan dan karya Yesus Kristus menegaskan bagaimana implikasi terwujudnya tanda-tanda hadirnya Kerajaan Allah bagi dunia. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat ini pun sudah ada pola, kehidupan dan karya Yesus Kristus adalah polanya. Terwujudnya tanda-tanda hadirnya Kerajaan Allah bagi dunia adalah sebuah harapan eskatologis yang sudah dimulai sejak saat ini.

Secara harafiah, Lukas menuliskan dalam injilnya sebagai berikut: Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Dan Yesus menjawab mereka: Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”’ (Lukas 7:2123).

Luar biasanya karya Yesus ini tidak hanya menjangkau para orang Yahudi tetapi juga orang-orang di luar Yahudi. Dan Yesus memberikan perintah dalam amanat agung-Nya kepada para murid- Nya sejak saat itu, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28: 18-20). Dengan ini jelas, prakarsa umat Tuhan bukan semata-mata berasal dari dirinya sendiri tetapi bentuk tanggung jawabnya sebagai pengikut Kristus yang setia dan taat. Pola yang muncul dari Yesus adalah pola keluar dan kerja serta mengajar dan menumbuhkan. Dan hal ini selalu ada dalam transisi sosial, tidak semata-mata personal.

Dengan demikian, landasan teologis “Bergereja dan Bermasyarakat dalam Era Transisi” adalah sebuah upaya GKJW secara terus menerus keluar dari kegelapan menuju terang yang sejati sampai terwujudnya tanda-tanda hadirnya kerajaan Allah bagi dunia. Era Transisi ini tidak berhenti sebelum tujuan tersebut tercapai. Arahnya tidak pernah semata-mata ke dalam atau ke luar, tetapi terintegrasi. Kemandirian dan menjadi berkat adalah dua hal yang berjalan secara simultan sebagai bentuk tanggung jawab personal maupun sosial GKJW kepada Tuhan.

1.2.2. Landasan Strategis

GKJW sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan bertanggung jawab terhadap kehidupan umat manusia, secara khusus terhadap bangsa Indonesia yang sedang membangun masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, maka PPJP dilandaskan pada:

  • Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
  • Tata Gereja GKJW.
  • Pranata tentang Majelis-majelis
  • Keputusan Sidang ke-106/2012 Majelis Agung GKJW, tanggal 28 Juni – 3 Juli 2012 di Jemaat Tulungrejo, Majelis Daerah Besuki Timur (lihat Akta Sidang, artikel 76).
  • Keputusan Sidang ke109/2014 Majelis Agung GKJW, tanggal 19 – 24 Juni 2014 di Jemaat Tempursari, Majelis Daerah Malang IV (lihat Akta Sidang, artikel 86) tentang Pemanfaatan Substansi Buku Panduan 80 Tahun GKJW Sebagai materi Penyempurnaan Konsep PPJP.

 

Catatan:

Sosialisasi PPJP/M sudah diprogramkan oleh Komperlitbang Majelis Agung. Pelaksanaannya tergantung permintaan tiap Majelis Daerah.

Kata Kunci Artikel Ini: