Pesan Sidang ke-113 Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan

GKJW Keluargaku…
Pesan Sidang ke-113 Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan

Ecclesia reformata semper reformanda est secundum verbum Dei
(Gereja reformasi harus terus mereformasi diri sesuai dengan Firman Tuhan)

Keluargaku warga GKJW yang terkasih,

GKJW Square“Manusia adalah pelaku sejarah.” Demikianlah ungkapan indah yang menegaskan pentingnya manusia dalam membangun sebuah peradaban. Dan persidangan gerejawi sejatinya adalah sejarah perjumpaan Allah dengan manusia ditengah-tengah dunia ini supaya kehendak dan karya-Nya terwujud di dunia melalui karya manusia. Oleh sebab itulah dalam persidangan gerejawi kita tidak hanya bicara tentang tatanan hidup manusia semata tetapi juga berbicara tentang tatanan Tuhan bagi kehidupan manusia. Penghayatan yang demikian ini pulalah yang diimani GKJW dalam setiap rapat atau persidangan gerejawinya. Ini berarti bahwa persidangan Majelis Agung adalah juga upaya kita menorehkan sejarah perjumpaan Tuhan dengan GKJW dalam kehidupan bergereja.

Upaya menorehkan sejarah perjumpaan kehendak Tuhan dengan GKJW kita lakukan pada tanggal 23 sampai 29 Juni 2016 dalam persidangan Majelis Agung kali ini. Tentu ini bukan kali pertama sebab persidangan saat ini adalah persidangan yang ke-113. Dan dalam persidangan yang ke-113 ini banyak sejarah yang terjadi sebagai bagian hal penting bagi keberlangsungan GKJW. Karena itulah kita patut mensyukurinya sebab:

  1. Kebersamaan bersama dengan pemerintah, umat beragama lain dan utusan gereja-gereja mitra dapat kita rawat. Tentu ini menegaskan kembali akan kesadaran diri kita sebagai gereja yang hadir dalam kehidupan di dunia yang tidak pernah bisa menyendiri.
  1. Betapa bersyukurnya kita karena Tuhan memilih hamba-Nya untuk melayani dalam Pelayan Harian Majelis Agung daur 2016-2019 melalui proses kekeluargaan yang hangat. Perbedaan pandangan bahkan pilihan bukanlah penghalang untuk kita semakin nyedulur satu dengan yang lainnya. Di sinilah kita semakin tahu bahwa yang utama adalah keberlangsungan hidup ber-GKJW daripada sekadar kepentingan sesaat. Kita tidak lagi berbicara atas dasar suka atau ketidaksukaan tetapi kita berbicara pada kapasitasnya untuk menghidupi gereja ini.
  1. Lebih lagi betapa bersyukurnya kita karena sejarah baru juga ditorehkan dalam perjalanan hidup ber-GKJW sebab Tuhan memanggil dari 13 orang warga jemaat-Nya untuk melayani sebagai pendeta di GKJW.
  1. Seiring dengan kerinduan untuk olah spiritual bersama antara pendeta dan jemaat maka penataan pertenagaan adalah bagian yang dipandang penting supaya spiritualitas menghamba kepada Sang Kepala Gereja semakin nyata. Keseriusan itu tertuang dalam pembentukan Badan Pembantu Majelis Agung baru yaitu Komisi Manajemen Sumber Daya Manusia.
  1. Sejarah juga kembali kita torehkan karena dari persidangan kita ini kita bertambah satu jemaat dewasa lagi. Bukan hanya satu jemaat dewasa sebab dari persidangan ini kita pun menorehkan sejarah dalam perjalanan bergereja dengan dipencarkannya Majelis Daerah Surabaya Barat. Kini kita memiliki 14 Majelis Daerah

Namun toh demikian, diantara rasa syukur yang melimpah itu janganlah kiranya menjadikan kita terlena dan berpuas diri. Mari dengan rasa syukur itu kita memandang sekeliling kita. Sebab sejatinya gereja dihadirkan oleh Tuhan ditengah realita dunia supaya kita semakin mewarnai dan memberkati dunia. Senyatanya, realita kita saat ini diwarnai oleh berbagai tragedi kemanusiaan. Sehari-hari kita disuguhi berita berbagai tindak kekerasan baik kekerasan verbal maupun non verbal.

Jika mencermati penyebab dari kekerasan yang terjadi, setidaknya kita bisa melihat dari berbagai sisi antara lain[1]:

  1. Sisi agama, antara lain:
  • Penafsiran yang tidak tepat atas ayat-ayat kitab suci
  • Pemahaman yang tidak utuh agama orang lain, tetapi sudah berani menghakimi
  • Masih mendewakan simbol-simbol lahiriah keagamaan.
  1. Sisi negara/pemerintah, antara lain:
  • Kepemimpinan negara yang lemah
  • Komitmen di bidang hukum lemah
  • Tidak mampu menciptakan perekonomian yang adil
  1. Sisi politik, antara lain:
  • Memanfaatkan isu agama demi tujuan kekuasaan
  • Mengkooptasi tokoh agama demi tercapainya hasrat kekuasaan

Kesadaran akan sekitar itulah yang membawa kita untuk bersedia belajar tentang gerakan radikalisme dalam wujud saresehan di sela-sela padatnya jadwal persidangan kali ini. Tentunya belum purna pengetahuan itu namun cukuplah untuk membekali kita supaya semakin menghamba kepada Tuhan Yesus Kristus Sang Pemilik Gereja.

Atas dasar semangat menghamba kepada Tuhan Yesus Kristus maka penataan demi penataan kita lakukan. Secara organisatoris kita membuat penataan kegiatan dalam wujud Program Kerja Tahunan 2017. Tentu ini juga adalah bagian dari torehan sejarah bagi GKJW sebab PKT yang disusun di tahun 2017 adalah awal pelaksanaan PPJM I (2017-2022). Sebagai awalan yang baik tentulah kita berharap apa yang kita susun bersama ini menjadikan gereja kita mampu menghadapi dan bahkan memberkati dunia ini.

Kerinduan memberkati itu pula lah yang mendorong kita untuk mampu mandiri sehingga kreatifitas dan ketepatan bertindak dapat menguatkan langkah pelayanan kita. Itulah yang diwujudkan dalam upaya kita untuk mencari alternatif-alternatif penggalian sumber dana dalam kehidupan bergereja kita. Tentu saja Tuhan berkehendak dalam setiap tindakan yang didasari kerinduan untuk menghamba kepada-Nya. Dan semangat menghamba itu akan menggerakkan kita bersama-sama se-GKJW untuk semakin melayani Tuhan dalam gereja ini dengan tekun dan setia atas dasar kasih dan kebanggan kita sebagai umat pilihannya. Pasti semangat melayani ini membutuhkan kesetiaan kepada panggilan kita masing-masing baik sebagai warga jemaat maupun pengemban jabatan khusus (Pendeta, Guru Injil, Penatua, Diaken). Semangat kesetiaan kepada janji juga sangat dibutuhkan bagi hubungan jemaat satu dengan jemaat lainnya, Majelis Daerah satu dengan Majelis Daerah lainnya. Sebab jika kesetiaan itu melonggar maka pasti ikatan kita sebagai satu keluarga turut melonggar bahkan tercerai-berai.

Padahal kita bersama tahu bahwa GKJW ini adalah gereja yang hadir karena semangat memberi (misungsung) bukan meminta, semangat kekeluargaan (paseduluran) bukan menyendiri. GKJW dilahirkan atas dasar sebuah pergerakan yang kemudian membutuhkan wadah. Itulah sebabnya, mari bersama kembali mengingat akan kultur kita sebagai gereja yang nyedulur supaya kita tidak hanya terjebak kepada struktur dan aturan main dalam menghadapi tantangan jaman ini. Sebab sejatinya kultur yang padat adalah struktur itu sendiri dan struktur itulah wadah bagi pergerakan hidup bergereja dalam memberkati dunia ini. Akhirnya, mari kita mengokohkan diri sebagai gereja sedulur yang mengedepankan masalah etis bukan hanya memikirkan teknis karena GKJW adalah keluarga kita.

Kiranya semangat paseduluran kita mampu meneladani kesatuan Tuhan Yesus dengan Bapa yang demikian: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30).

 

Purwoharjo, 23-29 Juni 2016

Panitia Pesan:

Pdt. Bambang Margono K
Pdt. Rena Sesaria Yudhita
Pdt. Eko Adi Kustanto

[1] Laporan Umum PHMA

Kata Kunci Artikel Ini: