Pengantar Laporan PHMA Pada Sidang ke-113 Majelis Agung GKJW

Puji syukur kepada Tuhan Sang Kepala Gereja yang senantiasa menyertai perjalanan dan keberadaan GKJW. Terlebih di tengah pusaran jaman yang dikelilingi oleh berbagai tantangan ini Tuhan masih memperkenankan GKJW hadir di bumi Jawa Timur. Ibadah- ibadah dan berbagai macam kegiatan lainnya masih berjalan dengan baik di lingkup jemaat. Demikian pula keterlibatan warga jemaat mulai dari anak-anak sampai dengan  warga dewasa bahkan adiyuswa masih semarak. Kita patut bersyukur atas kenyataan tersebut.

Sedangkan di masyarakat kita menyaksikan hal yang sama, yakni betapa bergairahnya saudara-saudara kita umat lain dalam menjalankan  ibadahnya dan aktivitas-aktivitas keagamaan lannya. Melihat kenyataan ini sebenarnya kita harus optimis bahwa kehidupan bersama yang rukun dan saling menghormati dan menghargai di tengah masyarakat menjadi keniscayaan.

Namun ternyata kita sering dikejutkan oleh munculnya secara tiba-tiba peristiwa-peristiwa tragedi kemanusiaan di berbagai tempat di Indonesia. Di masyarakat seolah-olah sudah menjadi berita sehari-hari terjadinya peristiwa yang menodai kehidupan bersama. Misalnya: penyerangan oleh sekelompok orang untuk merusak tempat ibadah umat lain atau mengganggu ketenangan umat menjalankan ibadahnya (physical violence)[1].  Atau pernyataan-pernyataan keras dari satu kelompok yang menimbulkan ketakutan/kekhawatiran kelompok lain atas keberadaannya (discourse/verbal violence). Baik kekerasan fisik maupun

kekerasan verbal yang dibiarkan terus berlangsung akan menghambat tercapainya kehidupan bersama yang adil, rukun, dan sejahtera. Ada banyak penyebab munculnya berbagai kekerasan di masyarakat kita.  Dari sisi agama, a.l.:

  • Penafsiran yang tidak tepat atas ayat-ayat kitab suci
  • Pemahaman yang tidak utuh agama orang lain, tetapi sudah berani menghakimi
  • Masih mendewakan simbol-simbol lahiriah

Dari sisi negara/pemerintah, a.l.:

  • Kepemimpinan negara yang lemah
  • Komitmen di bidang hukum lemah
  • Tidak mampu menciptakan perekonomian yang adil

Dari sisi politik, a.l.:

  • Memanfaatkan isu agama demi tujuan kekuasaan
  • Mengkooptasi tokoh agama demi tercapainya hasrat kekuasaan

Selain masalah di atas kita juga perlu mawas diri terhadap kenyataan pelayanan saat ini. Ketika kita mawas diri, ternyata kita temukan data yang tidak bisa diabaikan, yakni adanya temuan oleh Komperlitbang MA: perjalanan pelayanan sepanjang PRKP (1987-2016 = 30 tahun) ditemukan data bahwa pelayanan yang paling dirasakan manfaatnya  oleh  jemaat adalah pelayanan kematian (mulai dari pelayanan perawatan jenasah sampai dengan ibadah penghiburan)? Mengapa bukan kebutuhan iman/batin (sesuatu yang menjadi inti kehidupan warga jemaat) yang utama yang dirasakan oleh jemaat?  Lalu,  bagaimana  dengan pengalaman eksistensial warga jemaat atas imannya, sudahkah tersapa/terjawab oleh pelayanan kita? Padahal bukankah sebenarnya kebutuhan hakiki warga jemaat dalam bersekutu adalah terjawabnya kebutuhan iman/batinnya dalam berelasi dengan Tuhannya, setidaknya kedalaman imannya akan selalu terpelihara? Apabila kebutuhan hakiki warga itu tidak segera dijawab/dipenuhi oleh gereja, maka akan dengan mudah hati mereka direbut oleh ideologi-ideologi kekristenan yang pragmatis atau bahkan terjerat oleh agnostisisme yang memang sudah mengincar untuk menerkamnnya. Sementara itu tahun depan (pada tahun 2017) kita sudah mencanangkan dimulainya tema baru PPJP (PPJM I: 2017-2022), ”Mandiri dan Menjadi Berkat”.

Oleh karena itu untuk menjawab dua persoalan di atas perlu segera ditindak lanjuti bersama amanat yang sudah tertuang pada PPJM I pada awal-awal tahun agar memperkuat otentisitas identitas jemaat sebagai persekutuan orang-orang percaya[2]. Otentisitas itu ditandai oleh, a.l.:

  1. Warga jemaat yang berketetapan hati (menep), taat dan setia kepada Tuhan di tengah pusaran jaman yang ditandai:
    1. dalam hubungannya dengan sesama: mau menjadi sahabat, penolong, pendamai, mengutamakan cinta kasih sejati, dan tulus hati/tidak
    2. dalam hubungannya dengan alam ciptaan: mau merawatnya dengan bijaksana, tidak memanfaatkannya secara rakus (ugahari), menyadari akan kebutuhan anak cucu di masa
    3. dalam hubungannya dengan jemaat/GKJW: lahir batin menghayati dan mengakuinya sebagai “rumah” yang dicintai secara tulus; dengan sadar dan suka cita turut serta menghidupi agar GKJW terus bertumbuh dengan cara ikut serta menopang berbagai
  2. Pelayan jemaat yang sepenuh hati mengabdi kepada kehendak Kristus, l. ditandai:
    1. dalam hubungannya dengan warga jemaat: fokus menyapa warga jemaat satu demi satu demi terpeliharanya iman sehingga bisa menjadi berkat bagi sesama;  bisa menjadi sahabat terpercaya bagi warga jemaat yang ingin menumpahkan keluh kesahnya;
    2. dalam hubungannya dengan GKJW: tidak lelah menumbuhkan rasa cintanya sehingga terus berusaha untuk menggali inspirasi untuk mengembangkannya;
    3. dalam hubungannya dengan kolega: mau menjadi rekan yang saling  melengkapi, sehingga masing-masing makin diperlengkapi kebutuhannya untuk melayani secara optimal; menjauhi perilaku hina yang menghambat rekannya untuk mengembangkan diri sesuai dengan
    4. dalam hubungannya dengan Sang Pengutus: mau secara ajeg mengasah spiritualitasnya agar dari hari kehari semakin dimampukan untuk: rendah hati, rajin berbuat baik, tanpa pamrih, reflektif, dan memiliki jiwa

Dua hal di atas tidak bisa ditawar lagi. Kita berharap dengan terjaganya identitas otentik itu Tuhan memperkenankan GKJW melanjutkan kehadiran dan kiprahnya di tengah masyarakat dengan baik dan bahkan menjadi berkat.

[1] Wahid   Institut   mencatat   bahwa   pada   tahun   2015   ditemukan   sedikitnya   147   peristiwa   kekerasan  yang dilatarbelakangi  oleh sentiment  agama.

[2] Lihat buku PPJM I halaman 9 (1.4.1 s.d 1.4.5)

 

Kata Kunci Artikel Ini: