Pemahaman Alkitab Pebruari 2017

Pebruari I

Bacaan             : Matius 15:1-9.
Tema PA          : “Melakukan Lebih Dari Yang Ditetapkan”

Tujuan :

  1. Agar warga jemaat mengetahui bahwa ‘Pemahaman Alkitab’ bertujuan agar setiap warga jemaat tertolong untuk dapat meraih kualitas hidup yang terbaik. Terbaik dalam melaksanakan peran, fungsi, posisi, dan profesinya masing-masing.
  2. Agar warga jemaat memahami bahwa untuk meraih hal tersebut (a), dibutuhkan sikap terbuka dan tidak munafik.
  3. Agar warga jemaat melatih diri untuk selalu kreatif dan inovatif supaya dapat berfungsi dan berperan positif secara optimal dalam membangun kehidupan dengan kualitas terbaik.

 

Keterangan Teks:

Ayat 1-2: Para Farisi dan para ahli Taurat datang dari Yerusalem, pusat kekuasaan Yahudi, untuk meneliti aktifitas Yesus. Setelah berabad-abad sejak bangsa Yahudi pulang dari pembuangan di Babel, ratusan tradisi agama ditambahkan ke hukum Allah. Para Farisi dan para ahli Taurat menganggap semua itu sama pentingnya. Banyak tradisi tidak buruk pada dirinya dan ada tradisi tertentu dapat memperkaya dan memberi arti bagi kehidupan. Namun kita tidak harus berasumsi bahwa karena tradisi tersebut sudah kita praktekkan selama bertahun-tahun, maka tradisi tersebut perlu ditingkatkan statusnya menjadi hal yang sakral atau kudus. Prinsip Allah tak pernah berubah dan hukum-hukum-Nya tidak perlu ditambah. Tradisi sebaiknya membantu kita untuk dapat memahami hukum Allah dengan lebih baik.

Ayat 5-6: Ini adalah praktek membawa persembahan kepada Allah (Markus 7:11). Seseorang yang tidak bisa lagi memedulikan ayah dan ibunya karena uang atau biaya untuk hal itu sudah ia bawa sebagai persembahan untuk Bait Allah, menurut adat Yahudi hal tersebut bisa dibenarkan. Hal tersebut berarti menggunakan alasan agama untuk mengabaikan orangtua dan mengelakkan tanggungjawab anak bagi orangtuanya. Meskipun perbuatan memberi uang atau mempersembahkan uang kepada Allah, layak mendapatkan pujian, tetapi mengabaikan orangtua berarti tidak mempedulikan perintah Allah. Para pemimpin agama ini mengabaikan perintah Allah, yakni menghormati para oragtua mereka.

Ayat 8-9: Nabi Yesaya juga mengkritik atau mengecam kemunafikan (Yes.29:13), dan Tuhan Yesus mempergunakan kata-kata Yesaya untuk para pemimpin agama ini. Jika kita mengaku memuliakan Allah padahal hati kita jauh dari-Nya, maka ibadah kita tidak berarti apa-apa. Sikap seperti itu tidak cukup untuk hidup beragama. Perbuatan dan sikap kita harus tulus hati. Jika tidak, kritik dan kecaman Yesaya juga ditujukan bagi diri kita.

Ayat 9: Para Farisi tahu banyak tentang Allah, tetapi mereka tidak mengenal Allah. Tidak cukup bagi kita jika hanya belajar tentang agama atau studi tentang Alkitab, lebih dari itu kita harus merespon Allah sendiri.

 

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

  • Tidak sedikit orang yang ingin tampil beda, maksudnya adalah tampil terbaik di antara sesama dan lingkungannya. Misalnya, para orangtua memberikan dukungan kepada anak-anaknya agar memiliki nilai terbaik di sekolahnya. Tentu, hal-hal semacam itu tidak salah. Tetapi harus diingat bahwa tampil atau menjadi terbaik jangan hanya di bagian luarnya saja. Jangan menggunakan label ‘terbaik’ sebatas asesoris saja.
  • Sebagian orang mengabaikan kebutuhan orang terdekat, sesama, dan lingkungannya untuk bisa tampil beda atau terbaik.

 

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apa cita-cita atau harapan yang ingin anda raih? Menurut anda, apakah cita-cita dan harapan tersebut yang terbaik bagi anda, terbaik bagi orang terdekat, terbaik bagi sesama, dan terbaik bagi lingkungan anda?
  2. Bagaimana anda hendak meraih cita-cita dan harapan tersebut?
  3. Apa komentar anda tentang:
  4. Orang yang munafik?
  5. Orang yang mengabaikan kebutuhan sesama dan lingkungan dengan alasan agama?

 

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

 

PEBRUARI II

 

Bacaan       : Keluaran 22:21-27.
Tema PA    : “Melakukan Lebih Dari Yang Ditetapkan”

Tujuan             :

  1. Agar warga jemaat mengetahui bahwa di sekitar kita ada ‘orang asing’ atau pendatang baru. Mereka, sebagaimana kita semua, memiliki hak untuk diperlakukan secara adil.
  2. Agar warga jemaat memahami bahwa untuk meraih hal tersebut (a), dibutuhkan kesadaran yang utuh serta empati sebagai orang asing.
  3. Agar warga jemaat melatih diri untuk selalu kreatif dan inovatif supaya dapat berfungsi dan berperan positif secara optimal dalam membangun kehidupan dengan berkeadilan.

 

Keterangan Teks:

Ayat 21: Allah mengingatkan bangsa Israel untuk tidak memperlakukan tidak adil terhadap orang asing, sebab dahulu mereka sendiri adalah orang asing ketika berada di Mesir. Orang Israel harus ingat pengalaman mereka di Mesir agar bertindak jujur dan adil terhadap orang-orang bukan Israel dan kaum miskin, seperti janda dan yatim. Baca: Kel.23:9; Im.19:33-34; Ul.24:17-18.

Ayat 22-27: Hukum Ibrani ditulis untuk keadilan dan tanggungjawab sosial terhadap orang miskin. Allah menuntut bahwa orang miskin dan orang tanpa harapan diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk merestorasi nasib baik mereka. Kita sebaiknya merefleksikan kepedulian Allah bagi orang miskin dengan menolong nasib kurang baik yang mereka alami itu daripada hanya peduli pada diri kita sendiri.

Ayat 26: Mengapa hukum menuntut kembalinya jubah seseorang? Jubah adalah salah satu harta paling berharga bagi orang Israel. Membuat jubah adalah pekerjaan yang sulit dan butuh waktu. Sebab itu, jubah bernilai mahal dan sebagian besar orang hanya mempunyai satu jubah saja. Jubah mempunyai multi fungsi, bisa digunakan sebagai selimut, sebagai karung untuk membawa barang-barang, sebagai tempat untuk duduk, sebagai jaminan hutang, dan tentu saja dipakai.

Dalam Alkitab, keadilan berhubungan dengan hukum Taurat yang diberikan Tuhan kepada umat Israel untuk melindungi dan menyejahterakan mereka.

 

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

  • Tidak mudah tiba dan berada di lingkungan baru, di mana kita merasa sendiri dan asing. Adakah orang asing di sekitar anda? Apakah mereka para pengungsi? Para imigran dari negeri lain? Ataukah mereka pendatang baru di sekolah, di tempat bekerja, di tempat tinggal? Jadilah peka dengan perjuangan mereka (para orang asing) dan ekspresikan kasih Allah melalui keramahan dan kebaikan budimu.
  • Dalam masyarakat modern, keadilan sering sekali berarti: Keadilan yang pantas dan sesuai hukum. Adil berarti menerima hukuman sepantasnya atau ganti ruginya sesuai dengan kerusakan yang dialami.

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Sebutkan siapa yang anda maksudkan dengan ‘orang asing/pendatang/orang baru’ yang ada di sekitar anda dalam kurun waktu setahun terakhir ini. Bagaimana respons atau tanggapan anda menghadapi mereka?
  2. Apa yang anda butuhkan agar dapat merespons orang asing/pendatang/orang baru tersebut dengan baik, benar, dan adil?
  3. Langkah konkrit/nyata apa yang ingin anda lakukan untuk mewujudkan ‘Selamat Datang’ atau sambutan hangat anda bagi orang asing/pendatang/orang baru di lingkungan jemaat dan tempat tinggal anda?

 

Pdt. Em. Sri Hadijanto.