Pemahaman Alkitab Agustus 2016

AGUSTUS I 2016

Bacaan: Amsal 23:1-11.
Tema Liturgis  : “Membangun Persekutuan Dengan Hikmat Allah”.
Tema PA: “Membangun Jembatan I!”

Tujuan:

  1. Agar warga jemaat mengetahui tentang makna atau arti ‘Hikmat Allah’.
  2. Agar warga jemaat memahami bahwa salah satu tugas utamanya adalah membangun persekutuan atau persaudaraan (‘golek sedulur’) dengan sesama ciptaan-Nya.
  3. Agar warga jemaat mengeksplorasi diri untuk selalu mencari solusi terbaik supaya dapat berfungsi dan berperan positif secara optimal dalam membangun persekutuan atau persaudaraan dengan Hikmat Allah.

Keterangan Teks:

Ayat 1-3: Poin penting dalam Kitab Amsal ini adalah agar hati-hati jika makan dengan orang penting atau orang yang berpengaruh, sebab ada kemungkinan ia sedang mencoba menyogok (menyuap) anda. Sangat mungkin, hal yang tidak baik akan datang dari atau melalui makanan/hidangan.

Ayat 1: Duduk makan dengan orang penting, perlu memperhatikan secara baik apa yang berlaku, antara lain menggunakan tata krama (etika) yang baik, mencakup: hanya memakan apa yang disajikan dan tidak lebih dari itu. Bagaimana seseorang berperilaku di meja makan diawasi dengan sedemikian saksama?

Ayat 3: Menjadi peringatan tentang bagaimana sebuah pesta yang meriah dapat dipakai sebagai bentuk suap untuk mempengaruhi tamu.

Ayat 4-5: Kita pernah (sering) mendengar orang yang memenangi undian jutaan rupiah namun kemudian kehilangan itu semua. Banyak orang dapat membelanjakan atau menghabiskan hartanya dalam waktu yang singkat. Jangan membuang-buang waktu anda untuk memburu harta duniawi. Sebagai gantinya, carilah harta surgawi, harta yang tidak akan pernah hilang atau habis (Lukas 12:33-34).

Ayat 6-8: Penulis memperingatkan kita untuk tidak iri hati atau cemburu terhadap gaya hidup mereka yang menjadi kaya karena pelit atau kikir. Jangan mencari keuntungan dari kebaikan hati mereka dengan cara menjilat mereka (‘ngathok’?). Persahabatan mereka palsu dan mereka akan menggunakan anda untuk memperoleh keuntungan bagi mereka sendiri.

Ayat 10-11: Kata ‘Penebus’ menunjuk pada seseorang yang membawa kembali seorang anggota keluarganya yang jatuh ke perbudakan atau seseorang yang berkewajiban (harus) mengawini janda dari anggota keluarganya (Rut 4:3-10). Allah juga disebut sebagai Penebus (Keluaran 6:6; Ayub 19:25).

Ayat 10: Batas tanah.…. ladang anak-anak yatim. Kepedulian khusus bagi para janda dan anak yatim (Ulangan 24:17, 27:14-26; Mazmur 68:6; Yesaya 1:16-17). Tanpa perlindungan laki-laki dewasa, mereka tidak berdaya untuk membela diri terhadap pencuri. Tanah milik seorang janda dapat dicuri dengan cara memindahkan atau menggeser tanda batas tanah. Ini merupakan kejahatan yang dilarang oleh hukum Taurat (Ulangan 19:14; Ayub 24:2-8; Amsal 22:28).

Ayat 11: Penebus = Pembela. Menurut hukum Israel, anggota keluarga diharapkan ikut terlibat dalam menolong saudaranya miskin, supaya tanah atau milik keluarga tidak diambil alih oleh orang lain (Im. 25:25). Saudara dekat dapat juga melakukan pembalasan atas kematian saudaranya (Bil. 35:16-19). Dalam cara yang sama, Allah Israel akan membela orang yang tidak mempunyai pembela, termasuk para janda, anak yatim, dan orang miskin (Mzm. 68:6, 109:31; Yoel 3:21).

 

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

  • Manusia membangun hidupnya dalam berbagai kotak dan batasan, antara lain karena perbedaan kekayaan, suku, ras, bangsa, bahasa, budaya, agama, politik, dll. Manusia merasa nyaman apabila menempatkan diri atau berada di dalam komunitasnya sendiri, misalnya sesuku, seras, sebangsa, sebahasa, sebudaya, seagama, separtai, selevel, dst. Akibatnya, hubungan antara manusia dengan sesamanya menjadi terganggu bahkan rusak.
  • Kesadaran untuk memperbaiki hubungan tersebut perlu ditingkatkan, agar tidak berlanjut sampai terjadi konflik di antara sesama, dengan cara hidup lebih bersimpati, berempati, dan bertoleransi dengan sesama ciptaan-Nya.

 

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Tolong jelaskan arti kata ‘Hikmat Allah’!
  2. Tolong jelaskan tentang arti ‘gratifikasi’ yang sering dihubungkan dengan perilaku korupsi, sebagaimana sering kita dengar melalui pemberitaan di media!
  3. Apa kesan dan tanggapan anda tentang rumah tinggal yang diberi pagar, apalagi pagar yang tinggi, kokoh, dan kuat jika dihubungkan dengan makna relasi atau hubungan antar sesama manusia (sesama ciptaan-Nya)?
  4. Apa yang kita butuhkan agar kita dapat menjadi bagian optimal dari sebuah proses keterbukaan atau membangun jembatan, dalam rangka membangun persekutuan dan persaudaraan (‘golek sedulur’)?

 

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

AGUSTUS II 2016

 

Bacaan : Lukas 19:45-48.
Tema Liturgis : “Membangun Persekutuan Dengan Hikmat Allah”.
Tema PA: “Membangun Jembatan II!”

Tujuan             :

  1. Agar warga jemaat mengetahui tentang makna atau arti ‘Hikmat Allah’.
  2. Agar warga jemaat memahami bahwa salah satu tugas utamanya adalah membangun persekutuan atau persaudaraan (‘golek sedulur’) dengan sesama ciptaan-Nya.
  3. Agar warga jemaat mengeksplorasi diri untuk selalu mencari solusi terbaik supaya dapat berfungsi dan berperan positif secara optimal dalam membangun persekutuan atau persaudaraan dengan Hikmat Allah.

Keterangan Teks:

Ayat 47: ‘Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka’. Orang-orang terkemuka adalah para ‘sesepuh’ masyarakat yang hidupnya cukup mapan dan memiliki relasi dengan imam-imam kepala. Bersama-sama mereka membentuk sebuah mahkamah yang diberi kuasa oleh pemerintah Roma untuk mengambil keputusan menyangkut perkara-perkara setempat.

‘Orang Farisi dan ahli Taurat’. Orang farisi berkumpul di rumah-rumah untuk berdoa dan bersama-sama mempelajari Kitab Suci. Ahli-ahli Taurat adalah para rabi yang mempelajari lima kitab pertama dalam Alkitab Perjanjian Lama. Seperti kaum Farisi, ahli-ahli Taurat juga meyakini bahwa hanya Allah yang berhak mengampuni dosa.

Kelompok ini akan kehilangan pengaruhnya dalam masyarakat jika orang-orang menerima Tuhan Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. Tuhan Yesus menentang ajaran dan kekuasaan yang mereka miliki. Itulah yang membuat mereka ingin sekali menyingkirkan Tuhan Yesus.

Kelompok ini mungkin memasukkan orang-orang terkenal atau berhasil di bidangnya, misalnya dalam bidang politik, perdagangan, dan hukum. Mereka memiliki beberapa alasan mengapa mereka ingin menyingkirkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus dianggap merusak tatanan di Bait Allah, dengan mengusir para pedagang. Terlebih lagi, Tuhan Yesus berkhotbah melawan ketidak-adilan, dan ajaran-ajaran-Nya seringkali memihak orang miskin serta dikonfrontasikannya dengan orang kaya. Selanjutnya, popularitas-Nya yang besar sangat mungkin membahayakan dan menarik perhatian Roma, padahal para pemimpin Israel masih ingin sedikit banyak bekerjasama dengan Roma.

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

  • Beberapa waktu yang lalu di Jakarta terjadi demonstrasi besar-besaran oleh para sopir taksi, dan demonstrasi tersebut berakhir ricuh serta anarkis (kekacauan). Para sopir taksi konvensional menyerang sopir taksi ‘on line’. Penyerangan semacam ini pernah terjadi pada tukang ojek ‘go jek’ oleh para tukang ojek konvensional (tradisional).
  • ‘Seseorang yang hanya berpikir mengenai membangun tembok, di mana pun, dan bukannya membangun jembatan, bukanlah orang Kristen’. Demikian komentar Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia, terhadap isi pidato kampanye kandidat presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang akan membangun tembok sepanjang perbatasan Meksiko, dari Texas ke California, untuk menghalangi masuknya imigran (Kompas 20-02-2016).

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apa tanggapan anda tentang dua (2) hal yang terdapat di ‘Realitas kehidupan kini dan penerapan’ tersebut di atas, yakni demo sopir taksi konvensional dan ide Donald Trump? Jelaskan!
  2. Salah satu cara mendasar untuk dapat ‘Membangun Persekutuan Dengan Hikmat Allah’ adalah menghargai, memulihkan, dan menghormati martabat manusia. Dengan demikian, sikap diskriminatif, meremehkan, apalagi menghina sesama ciptaan-Nya dapat dihapuskan. Komentar anda?
  3. Apa yang kita butuhkan agar kita dapat menjadi bagian optimal dari sebuah proses keterbukaan atau membangun jembatan (ide Paus Fransiskus), dalam rangka membangun persekutuan dan persaudaraan (‘golek sedulur’)?

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

Kata Kunci Artikel Ini: